Pada era serba digital, transaksi keuangan makin mudah dilakukan. Namun, di balik kemudahan itu, ada risiko penipuan yang perlu diwaspadai.
Modusnya pun beragam, mulai dari pesan yang mengatasnamakan bank, permintaan kode OTP, hingga tawaran menggiurkan yang ternyata berujung kerugian.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga 30 September 2026, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima lebih dari 702 ribu laporan penipuan sejak mulai beroperasi pada November 2024. Dalam periode yang sama, lebih dari 702 ribu rekening telah diblokir untuk membantu menghentikan aliran dana hasil kejahatan. Angka ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan saat bertransaksi digital perlu menjadi kebiasaan sehari-hari.
Karena itu, penting untuk tidak hanya mengetahui cara bertransaksi, tetapi juga memahami cara melindungi diri saat beraktivitas di ruang digital.
Lewat campaign Awas Hantu Cyber, Bank Saqu mengajak karyawan dan nasabah untuk lebih mengenali berbagai modus penipuan digital. Pesan edukasi ini dikemas lewat tiga karakter yang mewakili situasi dan ancaman yang sering ditemui dalam keseharian.
1. Marwah – Gercep Beresin Scam
Marwah hadir sebagai pengingat pentingnya kewaspadaan dalam bertransaksi digital. Karakter ini mengajak masyarakat untuk mengenali potensi penipuan sejak dini dan tidak mudah percaya pada tawaran atau permintaan mencurigakan yang dapat merugikan secara finansial.
2. Pak Le Ak – Pembasmi Hantu Scammer
Pak Le Ak merepresentasikan pentingnya perlindungan data pribadi dalam menghadapi ancaman kejahatan siber. Melalui karakter ini, Bank Saqu mengingatkan masyarakat untuk menjaga kerahasiaan informasi sensitif, seperti PIN, kata sandi, dan kode OTP, serta memastikan keaslian informasi sebelum mengambil tindakan.
3. Ngiboo – Si Hantu Scammer
Ngiboo menggambarkan berbagai modus penipuan yang dikemas secara meyakinkan untuk mengelabui calon korban. Karakter ini mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur oleh tawaran yang tidak masuk akal, tidak terburu-buru mengambil keputusan, serta selalu melakukan verifikasi terhadap informasi maupun permintaan transaksi yang diterima.
Lebih Waspada, Lebih Aman Bertransaksi
Keamanan bertransaksi digital bukan hanya soal teknologi yang digunakan, tetapi juga kebiasaan kita saat menerima informasi dan mengambil keputusan. Mengenali tanda-tanda penipuan, menjaga kerahasiaan data pribadi, dan membiasakan diri melakukan verifikasi merupakan langkah sederhana yang bisa membantu melindungi keuangan.
Momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 juga menjadi pengingat, literasi keuangan perlu berjalan beriringan dengan pemahaman tentang keamanan digital.
Melalui Awas Hantu Cyber, Bank Saqu ingin membantu karyawan dan nasabah semakin siap menghadapi berbagai modus penipuan, sehingga bisa memanfaatkan layanan keuangan digital dengan lebih aman dan bijak.

