Asupan Warga

Impulsive Buying: Definisi, Penyebab, dan Cara Mencegah agar Finansial Tetap Sehat

10 Feb 2026

thumbnail

Punya kebiasaan membeli barang dan jasa mendadak tanpa ada perencanaan? Keinginan impulsif ini bisanya datang karena emosi sesaat, promo menarik, atau dorongan dari orang-orang sekitar yang membuat seseorang sulit menahan keinginan belanja.

Dilansir dari Manulife Indonesia, impulsive buying termasuk perilaku konsumtif yang berisiko mengganggu kestabilan finansial apabila tidak dikontrol dengan baik. Tanpa kesadaran terhadap pola pengeluaran, kebiasaan ini dapat memicu pemborosan hingga menghambat tujuan keuangan jangka panjang.

Agar kondisi finansial tetap sehat, penting untuk memahami definisi impulsive buying, penyebabnya, serta strategi praktis untuk mencegahnya.

Apa Itu Impulsive Buying?

Impulsive buying adalah pembelian barang secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas dan tidak ada pertimbangan kebuutuhan atau kondisi keuangan. Biasanya didorong oleh kondisi emosional yang dimiliki oleh pembeli ataupun promosi yang menyebabkan pembeli terpengaruh untuk membeli barang tanpa ada pertimbangan matang.  

Beberapa ciri impulsive buying antara lain:

  • Beli barang karena diskon
  • Penyesalan berlebihan setelah membeli barang
  • Sering membeli barang yang akhirnya jarang digunakan
  • Menggunakan kartu kredit atau paylater tanpa perhitungan matang

Perilaku ini sering muncul ketika seseorang sedang mengalami perubahan emosi atau ingin mendapatkan kepuasan instan melalui aktivitas belanja.

Penyebab Impulsive Buying yang Perlu Diwaspadai

Ada beberapa faktor utama yang mendorong impulsive buying, baik dari dalam diri maupun pengaruh lingkungan.

1. Perasaan sesaat

Kondisi emosional seperti stres, sedih, atau bahkan euforia dapat mendorong seseorang melakukan pembelian spontan sebagai bentuk pelarian atau self-reward.

2. Diskon yang menarik

Flash sale, diskon besar, cashback, hingga promo terbatas waktu dirancang untuk menciptakan rasa urgensi sehingga orang terdorong membeli tanpa berpikir panjang.

3. Pengaruh orang sekitar

Rekomendasi influencer, tekanan sosial, atau tren yang sedang viral dapat membuat seseorang merasa perlu membeli sesuatu agar tidak tertinggal.

4. Belanja instan tanpa perlu cash

Kemudahan pembayaran digital dan fitur belanja instan membuat proses transaksi semakin cepat, sehingga peluang impulsive buying meningkat.

5. Tidak memiliki perencanaan keuangan

Tanpa anggaran yang jelas, seseorang lebih mudah tergoda membeli sesuatu karena tidak memiliki batasan pengeluaran yang tegas.

Kelola Impuls Supaya Tidak Impulsive Buying

Menghindari impulsive buying bukan berarti tidak boleh menikmati belanja. Yang penting adalah mengelola kebiasaan finansial dengan lebih sadar.

1. Buat perencanaan kebutuhan

Dengan daftar kebutuhan yang jelas, kamu bisa fokus pada prioritas dan menghindari pembelian di luar rencana.

2. Tidak langsung melakukan pembelian

Memberi jeda waktu membantu menilai apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Kamu bisa menunda selama sehari, sebulan, bahkan setahun untuk mengetahui apakah kamu benar-benar butuh barang yang kamu ingin beli atau sekadar keinginan sesaat.  

3. Batasi pengeluaran self-reward

Sisihkan anggaran khusus untuk self-reward agar tetap bisa belanja tanpa mengganggu kebutuhan utama. Setiap kali kamu ingin mengeluarkan uang untuk self-reward, pikirkan kembali, aktivitas apa yang kamu lakukan sehingga kamu layak mendapatkan reward?

4. Kurangi melihat informasi berlebihan

Batasi notifikasi promo dan email marketing agar tidak terus-menerus tergoda diskon. Jika perlu, kamu bisa mematikan notifikasi di ponsel supaya tidak gampang tergoda

5. Lakukan evaluasi pengeluaran

Mencatat dan mengevaluasi pengeluaran secara rutin dapat membantu memahami pola belanja dan menghindari perilaku konsumtif berlebihan.

Mengontrol impulsive buying bukan sekadar menahan diri, tetapi juga memahami pola perilaku dan mengelola keuangan secara sadar. Dengan mengenali penyebab serta menerapkan strategi pencegahan yang tepat, kamu tetap bisa menikmati belanja tanpa mengorbankan stabilitas finansial.

Pastikan kamu melakukan perencanaan yang matang sebelum mengeluarkan uang. Keuangan jadi lebih stabil dan gol keuangan jangka panjang bisa tetap tercapai.  

Kalau kamu membutuhkan dana untuk kebutuhan mendadak, kamu bisa pakai Saku Kredit. Dengan limit kredit siaga hingga Rp30 juta, kamu bisa tarik pinjaman tunai kapan saja, melakukan transaksi termasuk menggunakan QRIS, serta mengubah transaksi jadi cicilan fleksibel hingga 24 bulan.

Yuk, ajukan sekarang lewat aplikasi Bank Saqu dan wujudkan rencanamu dengan lebih fleksibel dan terencana.