Bisnis F&B atau food and beverage adalah usaha jualan makanan dan minuman. Yang juga sangat dijual variatif, mulai dari camilan buatan industri rumahan, hingga restoran dan kafe. Bisnis ini banyak diminati karena produknya dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menyasar berbagai segmen konsumen. Meski begitu, pelaku usaha tetap perlu memahami preferensi pelanggan, merencanakan modal, dan mempertahankan kualitas produk agar bisnis dapat bertahan dalam persaingan.
Untuk memulai bisnis makanan dan minuman, kamu tidak harus langsung membuka restoran dengan fasilitas lengkap. Usaha bisa dirintis dari rumah, dipasarkan secara online, atau dijalankan melalui gerai sederhana sesuai dengan modal yang tersedia. Lalu, apa saja jenis usaha F&B yang bisa dipilih, peluang yang dapat dimanfaatkan, dan persiapan yang perlu dilakukan sebelum memulai bisnis?
BACA JUGA: Ini Cara Mulai Bisnis Kecil-kecilan
Berbagai Jenis Bisnis F&B
Jenis bisnis F&B sangat beragam, mulai dari warung makan, restoran, kedai kopi, toko roti, dan jasa katering hingga usaha makanan kemasan. Setiap model bisnis memiliki karakteristik berbeda, bergantung pada produk yang dijual, target pasar, saluran penjualan, dan skala operasionalnya.
Sebagai contoh, seseorang yang menerima pesanan nasi kotak dari rumah sudah termasuk menjalankan usaha F&B. Hal yang sama berlaku bagi pemilik kedai kopi yang melayani pelanggan di tempat sekaligus menerima pesanan melalui aplikasi pesan antar.
Walaupun dapat dimulai dalam skala kecil, bisnis ini tetap membutuhkan persiapan yang baik. Kualitas bahan baku, higienisitas, cita rasa, harga jual, dan pencatatan keuangan secara teratur harus dilakukan oleh pemilik usaha supaya operasional berjalan lancar.
Jenis-Jenis Bisnis F&B yang Bisa Dicoba
Bisnis F&B memiliki sejumlah pilihan model usaha yang bisa disesuaikan dengan ketersediaan modal, kemampuan, dan kebutuhan konsumen. Berikut beberapa jenis usaha yang dapat kamu pertimbangkan.
1. Restoran dan Warung Makan
Restoran dan warung makan menyediakan berbagai pilihan makanan yang siap disantap pelanggan. Warung makan umumnya memiliki konsep dan operasional yang lebih sederhana, sedangkan restoran bisa menawarkan menu yang lebih bervariasi, pelayanan khusus, serta suasana makan tertentu.
Contoh usaha dalam kategori ini antara lain warung nasi, rumah makan keluarga, restoran cepat saji, dan restoran yang mengusung konsep kuliner tertentu.
2. Kafe dan Kedai Minuman
Biasanya, kafe dan kedai minuman menjual kopi, teh, juice, minuman racikan, dan juga makanan ringan (bitesize). Target konsumennya dapat berupa mahasiswa, pekerja kantoran, komunitas, atau orang yang mencari tempat untuk berkumpul dan beristirahat.
Untuk menarik pelanggan, pemilik usaha tidak cukup hanya mengandalkan kualitas minuman. Suasana tempat, keramahan pelayanan, dan pengalaman yang ditawarkan juga dapat menjadi pembeda dari bisnis sejenis.
3. Bakery dan Toko Kue
Usaha bakery berfokus pada penjualan roti, pastry, kue kering, dan berbagai jenis hidangan penutup. Penjualan produk dapat dilakukan melalui toko fisik ataupun secara online. Jika kamu tidak memiliki modal yang cukup, kamu bisa menggunakan metode pre-order (PO). Dengan pre-order, pelanggan harus membayar dulu sebelum makanan diproduksi.
Selain itu, sistem pre-order membantu pelaku usaha memperkirakan jumlah produk yang perlu dibuat berdasarkan pesanan pelanggan. Dengan begitu, produksi bisa lebih terencana dan risiko makanan tersisa karena tidak terjual dapat ditekan.
4. Katering dan Nasi Kotak
Katering adalah usaha makanan untuk berbagai kebutuhan seperti konsumsi harian, acara keluarga, rapat perusahaan, hingga kegiatan berskala besar seperti seminar dan rapat. Peluang penjualannya dapat diperluas melalui kerja sama dengan perkantoran, sekolah, penyelenggara acara, maupun pelanggan perorangan.
Agar pesanan dapat dipenuhi sesuai jadwal, pemilik usaha perlu merencanakan kapasitas produksi, mengatur waktu pengiriman, dan memastikan persediaan bahan baku mencukupi.
5. Cloud Kitchen
Cloud kitchen adalah model usaha kuliner yang mengutamakan pesanan untuk dibawa pulang atau dikirim ke alamat pelanggan. Cloud kitchen tidak menyediakan area makan pagi pelanggan yang ingin dine-in.
Konsep tersebut bisa dipertimbangkan oleh pengusaha yang ingin berfokus pada penjualan online. Namun, tidak adanya ruang makan bukan berarti seluruh biaya operasional dapat dihilangkan. Pengeluaran untuk dapur, kemasan, promosi, dan komisi aplikasi tetap perlu masuk dalam perhitungan bisnis.
6. Frozen Food dan Makanan Kemasan
Bisnis makanan beku (frozen food) dan makanan kemasan dapat menjangkau konsumen melalui toko online, reseller, minimarket lokal, maupun penjualan langsung.
Dalam menjalankan usaha ini, pemilik bisnis perlu memperhatikan standar produksi, kondisi penyimpanan, masa simpan, serta keamanan pangan. Pastikan produk juga memenuhi persyaratan perizinan dan pelabelan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BACA JUGA: Cara Dapatkan Modal Pinjaman agar Bikin Bisnismu Terus Berkembang
Peluang Bisnis F&B yang Menarik untuk Dikembangkan
Pemilihan peluang bidang f&b tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan pasar, persaingan, dan kemampuan mengelola usaha.
1. Menjangkau Berbagai Segmen Konsumen
Produk makanan dan minuman dibutuhkan oleh berbagai kelompok masyarakat dengan kebiasaan konsumsi yang berbeda. Kamu bisa menentukan target pasar tertentu, misalnya pekerja kantoran yang membutuhkan menu makan siang praktis, keluarga yang mencari makanan siap santap, atau konsumen yang menyukai minuman dengan konsep kekinian.
Menentukan target konsumen sejak awal akan memudahkan kamu dalam menyusun pilihan menu, menetapkan harga, dan menentukan strategi pemasaran yang sesuai.
2. Bisa Dimulai dari Skala Kecil
Menjalankan usaha F&B tidak selalu membutuhkan restoran atau gerai yang besar. Kamu dapat memulai dengan menawarkan camilan, minuman, atau makanan rumahan berdasarkan pesanan pelanggan.
Memulai dari skala kecil memberi kesempatan untuk menguji respons pasar sebelum mengeluarkan modal tambahan. Dari proses tersebut, kamu bisa mengetahui produk yang paling diminati, mengevaluasi masukan pelanggan, dan melakukan perbaikan secara bertahap.
3. Memanfaatkan Penjualan Online
Kamu bisa memanfaatkan keberadaan media sosial dan aplikasi pesan antar (melalui ojek online). Melalui kanal tersebut, pelaku usaha bisa memperkenalkan produk, menginformasikan promo, dan menerima pesanan tanpa hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung.
Agar penjualan online tetap memberikan keuntungan, perhitungkan seluruh biaya yang menyertainya. Komisi aplikasi, biaya kemasan, dan anggaran promosi perlu diperhitungkan saat menentukan harga jual.
4. Mengembangkan Produk dan Model Penjualan
Penambahan variasi menu, pembuatan paket bundling, menyediakan layanan katering, subscription, dan juga kemitraan bisa menjadi langkah pengembangan produk dan model penjualan.
Sebagai contoh, usaha roti yang sebelumnya hanya melayani pesanan satuan bisa mulai menawarkan paket kudapan untuk rapat atau acara kantor. Strategi ini berpotensi memperluas jangkauan pelanggan tanpa harus langsung membuka cabang baru.
BACA JUGA: 10 Cara agar Jualan Laris Manis Biar Makin Untung dan Segera Balik Modal
Tips Memulai Bisnis F&B agar Lebih Terencana
Bagus jika kamu sudah memiliki ide produk yang akan dijual. Namun, kamu perlu menyiapkan aspek lain seperti perencanaan operasional, pemasaran, dan pengelolaan keuangan yang memadai. Simak detailnya:
1. Lakukan Riset Pasar dan Tentukan Konsep
Sebelum mulai berjualan, pelajari calon pelanggan yang ingin kamu jangkau. Cari tahu kebutuhan mereka, produk yang diminati, serta kisaran harga yang sesuai dengan daya beli target pasar.
Kamu juga bisa mengamati bisnis pesaing, baik di sekitar lokasi usaha maupun di platform online. Perhatikan variasi menu, harga, ulasan pelanggan, dan keunggulan yang dapat dijadikan referensi untuk membangun konsep bisnis sendiri.
Berdasarkan hasil riset tersebut, susun konsep usaha yang jelas. Kamu tidak perlu langsung menawarkan banyak pilihan menu. Memulai dengan produk yang lebih terbatas dapat membantu mengontrol penggunaan bahan baku sekaligus menjaga konsistensi kualitas.
2. Hitung Modal dan Susun Rencana Bisnis
Kebutuhan modal bisnis tidak hanya mencakup pembelian peralatan dan bahan baku. Ada pula pengeluaran untuk sewa tempat, listrik, kemasan, upah karyawan, promosi, dan kebutuhan operasional lainnya.
Susun perkiraan modal awal dan biaya rutin, lalu tentukan target penjualan yang masuk akal berdasarkan kondisi pasar. Sebaiknya, sisihkan juga dana cadangan untuk menghadapi penjualan yang belum konsisten atau pengeluaran tak terduga.
Selain itu, biasakan mencatat transaksi sejak usaha mulai berjalan. Pisahkan rekening atau dana pribadi dari keuangan bisnis agar omzet, biaya operasional, dan keuntungan dapat dipantau dengan lebih jelas.
3. Pilih Lokasi atau Saluran Penjualan yang Tepat
Jika berencana membuka gerai, pilih lokasi yang mudah diakses oleh target pelanggan. Area perkantoran, lingkungan kampus, dan kawasan permukiman bisa menjadi alternatif, tergantung pada karakteristik produk dan calon konsumen.
Namun, jumlah orang yang berlalu-lalang bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Pertimbangkan juga biaya sewa, tingkat persaingan, kemudahan akses, dan potensi penjualan di lokasi tersebut.
Bagi pelaku usaha dengan modal terbatas, berjualan dari rumah melalui sistem pre-order atau platform online bisa menjadi langkah awal. Kamu dapat menguji permintaan pasar terlebih dahulu sebelum berinvestasi untuk membuka gerai fisik.
4. Jaga Kualitas Produk dan Kebersihan
Kualitas makanan dan minuman dapat memengaruhi kepuasan pelanggan serta keputusan mereka untuk membeli kembali. Karena itu, usahakan agar rasa, ukuran porsi, dan tampilan produk tetap konsisten.
Pilih bahan baku sesuai standar, jaga kebersihan selama proses produksi, dan terapkan penyimpanan yang tepat. Untuk jenis makanan tertentu, pengaturan suhu dan pemantauan masa simpan juga diperlukan untuk menjaga keamanan pangan.
Kamu bisa menyusun standar operasional prosedur (SOP) sederhana yang mencakup resep, takaran bahan, tahapan produksi, kebersihan peralatan, hingga cara menyajikan produk.
5. Urus Perizinan Usaha
Aspek legalitas sebaiknya dipersiapkan sejak awal agar kegiatan bisnis berjalan sesuai dengan peraturan. Bergantung pada jenis produk dan skala usaha, pelaku bisnis mungkin perlu mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, atau izin dan persyaratan terkait keamanan pangan.
Ketentuan untuk makanan siap saji, produk kemasan, dan makanan dengan masa simpan tertentu dapat berbeda. Oleh karena itu, periksa persyaratan yang berlaku melalui instansi resmi sebelum memperluas pemasaran produk.
6. Manfaatkan Media Sosial untuk Promosi
Media sosial bisa digunakan untuk memperkenalkan merek, menampilkan menu, menyampaikan informasi harga, dan mengumumkan promosi kepada calon pelanggan.
Kamu dapat membuat konten berupa proses pembuatan makanan, rekomendasi menu, ulasan pelanggan, atau panduan pemesanan. Jika memiliki toko atau gerai fisik, pastikan informasi lokasi dan jam operasional juga tersedia di layanan pencarian bisnis yang relevan.
Lakukan evaluasi promosi secara rutin dengan melihat jumlah pesanan, biaya pemasaran, dan produk yang paling banyak diminati. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan strategi promosi berikutnya.
7. Bangun Tim dan Sistem Operasional yang Jelas
Saat bisnis mulai berkembang, pembagian tanggung jawab menjadi penting agar setiap kegiatan dapat berjalan lebih teratur. Atur tugas yang berkaitan dengan produksi, pembelian bahan baku, pelayanan pelanggan, pencatatan transaksi, dan pengiriman pesanan.
Jika masih menjalankan bisnis sendiri, buat jadwal dan alur kerja sederhana untuk membantu mengelola aktivitas harian. Ketika mulai mempekerjakan karyawan, berikan pelatihan mengenai standar produk, kebersihan, serta cara melayani pelanggan.
BACA JUGA: 4 Cara Membuat QRIS untuk Usaha, Bisa Langsung Dipakai!
Kelola Kebutuhan Modal Bisnis F&B dengan Kredit Modal Kerja
Pertumbuhan usaha biasanya diikuti oleh peningkatan kebutuhan dana. Kamu mungkin perlu menambah persediaan bahan baku, membeli peralatan dapur, meningkatkan kapasitas produksi, atau menutup biaya operasional ketika jumlah pesanan sedang meningkat.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kredit Modal Kerja dari Bank Saqu menyediakan pilihan pembiayaan fleksibel yang dapat membantu perkembangan usaha. Dengan pendanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis, kamu bisa merencanakan operasional dan mengalokasikan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan usaha.
Apabila masih membutuhkan tambahan dukungan finansial setelah periode pinjaman berakhir, kamu juga dapat mengajukan perpanjangan tenor dan plafon pinjaman melalui proses yang mudah dan cepat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sebelum mengajukan pinjaman, pastikan kamu sudah menghitung kebutuhan dana dan kemampuan membayar cicilan berdasarkan proyeksi arus kas bisnis. Gunakan pembiayaan untuk kebutuhan produktif dan sesuaikan jumlah pinjaman dengan kemampuan finansial usaha agar pengelolaan keuangan tetap sehat.






