Akhir-akhir ini istilah “generasi strawberry” sering banget muncul di media sosial untuk menggambarkan generasi muda yang dinilai lemah mental, mudah menyerah, dan tidak tahan tekanan.
Tapi apakah benar seperti itu? Apakah generasi sekarang memang “rapuh” atau justru sedang beradaptasi dengan tantangan zaman yang berbeda?
Nah, jika penasaran dengan pembahasan ini, sebaiknya baca dulu rangkuman soal apa itu generasi strawberry, bagaimana ciri-cirinya, dan penyebab munculnya di bawah ini!
Apa Itu Generasi Strawberry?
Sebenarnya istilah generasi strawberry sudah muncul di Taiwan sejak era 1990-an. Menurut Taiwan News melalui The New York Times, generasi ini disebut tumbuh di lingkungan tanpa perang dan persekusi politik, dengan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dan akses informasi yang mudah.
Dengan begitu, generasi tersebut merasa bebas meninggalkan tradisi dan menganggap remeh pendidikan dan kebebasan.
Strawberry sendiri dipilih sebagai simbol karena buah ini terlihat cantik dan menarik dari luar, tapi lembek dan mudah rusak jika ditekan sedikit saja. Analogi ini kemudian digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap tidak tahan stres, mudah menyerah, dan cepat patah semangat.
Dalam konteks Indonesia, istilah ini sering dikaitkan dengan generasi milenial muda dan Gen Z, terutama mereka yang baru memasuki dunia kerja. Banyak orang tua atau atasan menilai anak muda zaman sekarang “nggak sekuat generasi dulu” yang tahan banting dan rela bekerja keras tanpa banyak mengeluh.
Namun sebenarnya, istilah generasi strawberry bukan cuma tentang “mental lemah”. Fenomena ini lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk cara berpikir generasi muda.
Apa Penyebab Munculnya Generasi Strawberry?
Fenomena generasi strawberry tentu nggak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya, baik dari sisi lingkungan sosial, keluarga, hingga perkembangan teknologi.
1. Pola Asuh yang Terlalu Protektif
Banyak orang tua modern membesarkan anak dengan penuh perhatian, bahkan cenderung melindungi dari segala kesulitan. Tujuannya baik, agar anak tidak mengalami kesusahan seperti mereka dahulu. Tapi efek sampingnya, anak jadi kurang tangguh menghadapi masalah.
Misalnya, anak yang selalu dibantu saat kesulitan cenderung tidak terbiasa menyelesaikan masalah sendiri. Begitu dewasa dan menghadapi tantangan nyata, mereka bisa merasa kewalahan.
2. Perubahan Sosial dan Ekonomi yang Cepat
Generasi muda hidup di era yang serba berubah, mulai dari teknologi, ekonomi digital, hingga cara bekerja. Ketidakpastian ini membuat banyak mereka yang masih muda merasa cemas tentang masa depan. Mereka harus bersaing lebih keras dalam lingkungan yang tidak stabil.
3. Tekanan Media Sosial
Media sosial menciptakan standar kesuksesan yang tidak realistis. Setiap hari, generasi muda melihat orang lain tampil “sempurna” serta sukses, bahagia, dan produktif. Ini bisa menimbulkan perasaan tidak cukup baik dan membanding-bandingkan diri sendiri.
4. Krisis Eksistensi dan Tujuan Hidup
Generasi strawberry sering merasa kehilangan arah karena dibombardir dengan banyak pilihan. Mereka ingin bekerja sesuai passion, punya waktu luang, dan tetap sukses finansial. Tapi ketika realita tidak sesuai ekspektasi, mereka mudah kehilangan motivasi.
5. Lingkungan Kerja yang Kaku
Banyak tempat kerja masih berpegang pada sistem lama yang menuntut jam kerja panjang, struktur hierarki ketat, dan sedikit ruang untuk berpendapat. Generasi muda yang terbiasa dengan fleksibilitas sering merasa tertekan dan sulit beradaptasi di situasi seperti ini.
Apakah Generasi Strawberry Selalu Buruk?
Nah, ini bagian yang sering disalahpahami. Disebut “generasi strawberry” bukan berarti generasi ini sepenuhnya negatif. Justru, mereka punya banyak kelebihan yang relevan dengan zaman sekarang, asalkan diarahkan dengan baik.
Berikut beberapa nilai positif yang dimiliki generasi ini:
1. Lebih Peduli Kesehatan Mental
Generasi strawberry berani membicarakan isu mental health secara terbuka. Mereka sadar pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).
2. Kreatif dan Melek Teknologi
Mereka tumbuh di era digital, jadi adaptif terhadap teknologi baru dan punya kemampuan berinovasi yang tinggi. Banyak startup sukses justru lahir dari generasi ini.
3. Punya Empati dan Nilai Kemanusiaan
Generasi ini lebih peka terhadap isu sosial, lingkungan, dan keadilan. Mereka ingin dunia jadi tempat yang lebih baik, bukan sekadar mengejar uang.
4. Berani Berpendapat
Mereka tidak takut menyuarakan opini, terutama tentang hal-hal yang mereka anggap salah atau tidak adil. Ini bisa membawa perubahan positif di lingkungan kerja maupun sosial.
Jadi, daripada memandang generasi strawberry sebagai generasi yang lemah, sebaiknya kita melihat mereka sebagai generasi transisi yang sedang belajar menyeimbangkan idealisme dengan realita hidup.
Tips Memaksimalkan Potensi Generasi Strawberry
Generasi strawberry juga bisa berbuah manis kalau dirawat dengan cara yang tepat. Berikut beberapa langkah realistis untuk memaksimalkan potensinya:
1. Kenali Diri Sendiri Secara Jujur
Langkah pertama menuju potensi maksimal adalah self-awareness. Generasi strawberry punya keunggulan besar di sini yaitu terbuka soal emosi dan reflektif terhadap diri sendiri.
Manfaatkan kemampuan ini untuk mengenali kekuatan, kelemahan, dan nilai yang kamu pegang. Dengan begitu, kamu bisa menentukan arah hidup dan karier yang lebih sesuai dan bukan sekadar mengikuti tren.
2. Bangun Mental Tangguh, Bukan Mental Keras
Banyak yang salah paham karena tangguh bukan berarti tidak boleh lemah. Mental tangguh adalah kemampuan untuk bangkit lagi setelah jatuh.
Caranya bisa dimulai dengan hal kecil seperti menyelesaikan tugas tepat waktu, mengelola stres lewat olahraga, atau menulis jurnal emosi. Semakin sering kamu melatih ketahanan diri, semakin kuat pula fondasi mentalmu.
3. Belajar Adaptif di Tengah Perubahan Cepat
Dunia kerja dan teknologi berubah tiap hari. Generasi strawberry yang tumbuh di era digital sebenarnya punya keunggulan alami dalam hal adaptasi.
Kuncinya adalah mau terus belajar seperti mengikuti kursus online, eksplor bidang baru, atau pelajari soft skill seperti komunikasi dan berpikir kritis. Ingat, kemampuan beradaptasi sekarang jadi mata uang paling berharga di dunia profesional.
4. Kelola Ekspektasi Sosial dan Media
Salah satu tantangan terbesar generasi ini adalah social comparison. Melihat pencapaian orang lain di media sosial bisa membuat rasa percaya diri turun drastis.
Solusinya? Batasi konsumsi media secara sadar dan fokus pada perjalanan pribadimu. Buat digital detox day seminggu sekali, atau gunakan media sosial hanya untuk hal-hal yang benar-benar memberi nilai tambah.
Istilah generasi strawberry memang sering dikaitkan dengan sifat manja dan mudah menyerah, tapi sebenarnya fenomena ini punya konteks yang lebih luas. Mereka tumbuh di dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya yaitu dunia yang penuh tekanan sosial, kompetisi global, dan ketidakpastian ekonomi.
Generasi strawberry bukan generasi lemah, tapi generasi yang sedang mencari cara baru untuk bertahan dan bahagia di zaman yang cepat berubah.
Mereka punya potensi besar seperti kreatif, cerdas, dan punya empati tinggi. Hanya saja, seperti buah strawberry yang memerlukan perlakuan yang tepat agar bisa tumbuh kuat tanpa kehilangan kelembutan dan keunikannya.
Nah, buat kamu yang masih muda, jangan berkecil hati dengan sebutan-sebutan tersebut dan sebaiknya buktikan kalau kamu memiliki banyak kelebihan dari generasi lainnya. Tunjukkan kalau kamu bisa memiliki masa depan yang cerah dan tak kalah dari generasi lain.
Salah satu cara efektif untuk menyiapkan masa depan adalah dengan menabung dan menyisihkan aset untuk berinvestasi. Buat yang masih pemula, berinvestasi deposito juga bisa sangat menguntungkan dan yang penting aman.
Kamu bisa mencoba Deposito Reguler dari Bank Saqu yang memiliki bunga hingga 6% p.a. yang tentu bisa membuatmu makin cuan, kan? Menariknya, kamu juga bisa mengakses uangmu sewaktu-waktu tanpa ada tambahan biaya lagi, lho. Jadi tak perlu bingung ketika membutuhkan uang mendadak nantinya.
Tertarik? Yuk, buka rekening Bank Saqu dengan download aplikasinya terlebih dahulu di Android dan iOS!





