Hi Warga,
Sudah punya tanah, tapi masih bingung harus menyiapkan dana berapa untuk membangun rumah? Perhitungannya tidak sesederhana luas tanah dikalikan harga bangunan per meter.
Luas bangunan, jumlah lantai, pilihan material, desain, sampai ongkos tukang bisa membuat biaya akhirnya berbeda. Karena itu, biaya bangun rumah per meter persegi lebih cocok dipakai sebagai patokan awal sebelum masuk ke perhitungan yang lebih detail.
Baca juga: Apa Syarat dari Rumah KPR Subsidi? Cek juga Tips Memilihnya!
Biaya Bangun Rumah per Meter
Biaya pembangunan rumah bisa berbeda cukup jauh tergantung lokasi dan spesifikasinya. Untuk rumah sederhana satu lantai di Jakarta, misalnya, detikProperti memperkirakan biayanya sekitar Rp4,5 juta per meter persegi. Angka tersebut sudah mencakup material standar dan upah tukang borongan, tetapi belum termasuk beberapa kebutuhan seperti instalasi listrik, taman, pagar, dan teras.
Kalau menggunakan angka tersebut sebagai patokan, rumah dengan luas bangunan 60 m² membutuhkan sekitar:
60 m² × Rp4,5 juta = Rp270 juta
Hitungan ini masih berupa perkiraan awal. Spesifikasi material yang dipilih, kondisi lokasi, hingga pekerjaan tambahan bisa membuat kebutuhan dananya berubah.
Untuk rumah subsidi, angkanya bisa lebih rendah karena spesifikasi dan batasan biaya pembangunannya berbeda. Kompas.com pada 2025 mengutip Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) yang menyebut biaya pembangunan rumah subsidi di kisaran Rp1,8 juta sampai Rp2 juta per meter persegi di sejumlah wilayah Jawa.
Dari sini bisa dilihat bahwa tidak ada satu angka biaya per meter yang cocok untuk semua jenis rumah. Patokan tersebut perlu disesuaikan dengan rumah yang ingin dibangun.
Apa yang Membuat Biaya Bangun Rumah Berbeda?
Luas bangunan memang menjadi salah satu komponen utama, tapi bukan satu-satunya.
Jumlah lantai juga berpengaruh. Rumah dua lantai membutuhkan struktur tambahan, tangga, serta pekerjaan lain yang tidak ditemukan pada rumah satu lantai. Begitu juga dengan desain. Semakin banyak detail atau bentuk khusus yang digunakan, semakin besar kemungkinan pekerjaan konstruksinya ikut bertambah.
Pilihan material juga punya pengaruh besar. Harga keramik, pintu, kusen, sanitary, atap, cat, dan perlengkapan rumah tersedia dalam berbagai tingkatan. Mengubah spesifikasi pada beberapa bagian saja sudah bisa membuat total anggaran ikut berubah.
Lokasi pembangunan perlu diperhitungkan sejak awal. Biaya tenaga kerja dan pengiriman material tidak selalu sama di setiap daerah. Kondisi akses menuju lahan juga bisa menjadi faktor tambahan jika kendaraan pengangkut material sulit masuk.
Cara membayar tenaga kerja juga perlu disesuaikan dengan proyek. Ada tukang yang dibayar harian, ada pula yang menggunakan sistem borongan. Masing-masing memiliki cara penghitungan yang berbeda sehingga sebaiknya sudah dibicarakan sejak awal.
Cara Menghitung Estimasi Biaya Bangun Rumah
Perhitungan awal bisa dimulai dari luas bangunan dan kisaran biaya per meter.
Misalnya, kamu ingin membangun rumah satu lantai dengan luas 60 m². Jika menggunakan patokan Rp4,5 juta per meter persegi, estimasi konstruksi dasarnya menjadi Rp270 juta.
Setelah mendapatkan angka tersebut, jangan langsung menjadikannya sebagai total budget.
Ada kemungkinan muncul biaya yang belum masuk dalam perhitungan awal. Pagar, kanopi, taman, furnitur, perizinan, instalasi tertentu, atau perubahan pekerjaan selama proses pembangunan bisa membutuhkan dana tambahan.
Karena itu, setelah mendapatkan estimasi kasar, sebaiknya buat Rencana Anggaran Biaya atau RAB. RAB membantu memecah kebutuhan menjadi bagian-bagian yang lebih jelas sehingga kamu bisa melihat ke mana saja uang akan digunakan.
Dana cadangan juga sebaiknya sudah disiapkan sejak awal. Dengan begitu, ketika ada kebutuhan tambahan, kamu tidak harus mengambil uang dari pos yang sebenarnya sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Baca juga: Apakah KPR Bisa Dilunasi Sebelum Waktunya? Ini Detailnya
Cara Menghemat Biaya Bangun Rumah
Kalau ingin menekan biaya pembangunan, jangan langsung berfokus pada mencari material yang paling murah. Penghematan justru bisa dimulai dari perencanaan.
Ukuran rumah menjadi salah satu hal yang paling mudah dikendalikan. Kalau ada ruangan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, luas bangunan bisa dibuat lebih efisien. Setiap meter persegi yang tidak jadi dibangun berarti ada material dan biaya pengerjaan yang ikut berkurang.
Desain sebaiknya juga sudah dipikirkan sebelum pekerjaan dimulai. Perubahan di tengah proyek bisa membuat pekerjaan sebelumnya harus dibongkar atau dikerjakan ulang.
Untuk material, tentukan bagian mana yang memang perlu mendapat spesifikasi lebih tinggi dan bagian mana yang masih bisa disesuaikan. Struktur dan instalasi, misalnya, bukan bagian yang ideal untuk dikorbankan hanya demi mengejar biaya murah.
Saat membandingkan tukang atau kontraktor, jangan hanya melihat angka paling rendah. Cek juga pekerjaan apa saja yang termasuk di dalam penawaran. Harga yang terlihat murah bisa berubah kalau ternyata ada banyak kebutuhan yang harus dibayar secara terpisah.
Bangun Rumah atau Beli Rumah Jadi?
Perhitungan biaya juga bisa membantu ketika kamu masih mempertimbangkan cara memiliki rumah.
Membangun sendiri memberikan keleluasaan untuk menentukan desain, ukuran ruangan, dan material. Pengeluaran juga bisa mengikuti progres pembangunan. Di sisi lain, prosesnya membutuhkan waktu dan ada lebih banyak hal yang perlu dipantau.
Membeli rumah jadi membuat harga properti lebih mudah diketahui sejak awal. Kamu tidak perlu mengelola proses konstruksi dari nol, tetapi pilihan lokasi, ukuran, dan desain mengikuti rumah yang tersedia.
Kalau dana yang dibutuhkan cukup besar, pembiayaan seperti KPR juga bisa menjadi salah satu pilihan yang perlu dipelajari. Yang penting, perhitungkan cicilan dan biaya lainnya sesuai dengan kondisi keuangan sebelum mengambil keputusan.
Baca juga: Sebelum Beli Rumah Cluster, Pelajari Dulu Plus Minus dan Tips Memilihnya
Mulai Siapkan Dana untuk Bangun Rumah
Kalau rencana membangun rumah masih beberapa tahun lagi, tidak ada salahnya mulai memisahkan dananya dari sekarang.
Di Bank Saqu, Saku Nabung bisa digunakan untuk memisahkan uang berdasarkan tujuan. Kamu bisa membuat Saku khusus untuk target rumah sehingga dana tersebut tidak bercampur dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Ada juga fitur Set Target yang bisa membantu membuat tujuan menabung lebih terukur. Kamu bisa menentukan jumlah dana yang ingin dikumpulkan dan target waktunya. Kalau mau, Nabung Terjadwal juga bisa diaktifkan supaya penyisihan dana berjalan secara otomatis sesuai jadwal yang dipilih.
Contohnya, kalau ingin mengumpulkan Rp100 juta dalam dua tahun, kamu bisa menjadikan angka tersebut sebagai target dan melihat kebutuhan menabung secara berkala. Targetnya bisa dipantau dari waktu ke waktu, sehingga lebih mudah mengetahui apakah progresnya sudah sesuai rencana.
Yuk, download Bank Saqu dan mulai siapkan dana untuk target rumahmu lewat Saku Nabung dan Set Target. Dengan memisahkan dana dan menentukan target sejak awal, persiapan untuk membangun rumah jadi lebih mudah dipantau.






