Bank membutuhkan dana untuk menjalankan berbagai aktivitas, termasuk menyalurkan kredit dan pembiayaan. Dana tersebut bisa berasal dari simpanan nasabah maupun sumber pendanaan lainnya. Untuk memperoleh dana, bank juga perlu menanggung biaya tertentu.
Biaya yang berkaitan dengan pendanaan tersebut dikenal sebagai cost of fund. Istilah ini cukup sering muncul dalam pembahasan perbankan karena berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung bank untuk memperoleh dana yang kemudian digunakan dalam kegiatan usahanya.
Baca juga: Metode Budgeting 50/30/20: Prinsip dan Cara Melakukan dengan Benar
Apa Itu Cost of Fund?
Cost of fund adalah biaya yang dikeluarkan bank untuk memperoleh sumber dana yang digunakan dalam kegiatan operasional, penyaluran kredit, maupun investasi.
Sumber dana bank dapat berasal dari berbagai bentuk, seperti simpanan nasabah, pinjaman dari lembaga keuangan lain, atau pendanaan lainnya. Masing-masing sumber dana dapat memiliki biaya yang berbeda.
Dalam pengukuran perbankan, cost of fund umumnya melihat beban bunga dibandingkan dengan rata-rata kewajiban yang menghasilkan beban bunga. Karena itu, hasilnya biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.
Konsep ini penting karena bank tidak hanya memperhatikan berapa banyak dana yang berhasil dihimpun, tetapi juga berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh dana tersebut.
Apa Saja yang Memengaruhi Cost of Fund?
Besarnya cost of fund dapat dipengaruhi oleh komposisi sumber pendanaan dan tingkat imbal hasil atau bunga yang harus dibayarkan.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhinya antara lain:
1. Jenis sumber dana
Dana yang berasal dari tabungan, deposito, pinjaman antarbank, maupun sumber pendanaan lainnya dapat memiliki biaya yang berbeda.
2. Tingkat suku bunga
Ketika tingkat bunga meningkat, biaya yang harus dibayarkan untuk mendapatkan sumber dana berbunga juga dapat ikut meningkat.
3. Komposisi dana
Bank dengan proporsi dana berbunga dan tidak berbunga yang berbeda dapat memiliki cost of fund yang berbeda pula. Karena itu, melihat angka cost of fund perlu mempertimbangkan bagaimana struktur pendanaannya.
4. Kondisi pasar
Perubahan tingkat suku bunga dan kondisi likuiditas di pasar juga dapat memengaruhi biaya pendanaan yang harus ditanggung bank.
Rumus Cost of Fund
Salah satu rumus yang umum digunakan untuk menghitung cost of fund adalah:
Cost of Fund = Beban Bunga ÷ Rata-rata KewajibanBerbunga × 100%
Beban bunga merupakan biaya bunga yang dibayarkan selama periode tertentu. Sementara itu, rata-rata kewajiban berbunga mengacu pada rata-rata dana yang menjadi sumber pendanaan dan menimbulkan kewajiban pembayaran bunga.
Dalam praktiknya, metode perhitungan bisa disesuaikan dengan tujuan analisis dan komponen pendanaan yang digunakan. Karena itu, angka cost of fund pada satu laporan atau institusi belum tentu dihitung dengan basis yang persis sama dengan institusi lainnya.
Baca juga: Apa Itu Fixed Rate? Kenali Suku Bunga Tetap dalam Pinjaman
Contoh Cara Menghitung Cost of Fund
Anggap sebuah bank memiliki beban bunga sebesar Rp2 miliar selama satu tahun.
Pada periode yang sama, rata-rata kewajiban berbunga yang dimiliki bank tersebut adalah Rp100 miliar.
Maka perhitungannya:
Rp2 miliar ÷ Rp100 miliar × 100% = 2%
Artinya, cost of fund dalam contoh tersebut adalah 2%.
Angka ini menunjukkan besarnya biaya bunga rata-rata yang dikeluarkan dibandingkan dengan jumlah kewajiban berbunga yang menjadi dasar perhitungannya.
Kenapa Cost of Fund Penting bagi Bank?
Cost of fund menjadi salah satu ukuran yang membantu bank melihat seberapa besar biaya yang muncul dari sumber pendanaannya.
Bank kemudian perlu memperhitungkan biaya tersebut ketika mengelola aset yang menghasilkan pendapatan, termasuk kredit dan pembiayaan. Dalam analisis perbankan, cost of fund juga berkaitan dengan net interest margin (NIM), yaitu selisih antara pendapatan bunga dan beban bunga dalam hubungannya dengan aset produktif.
Semakin baik pengelolaan sumber dana, semakin penting pula bagi bank untuk menjaga agar biaya pendanaan tetap sesuai dengan strategi bisnis dan kondisi pasar.
Apa Bedanya Cost of Fund dan Cost of Credit?
Cost of fund dan cost of credit sama-sama berkaitan dengan aktivitas pembiayaan, tetapi memiliki fokus berbeda.
Cost of fund melihat biaya yang muncul ketika bank memperoleh sumber dana. Sementara itu, cost of credit lebih berkaitan dengan biaya yang perlu diperhitungkan dalam aktivitas pemberian kredit, termasuk risiko dan komponen biaya lainnya.
Jadi, cost of fund bukan berarti sama dengan bunga kredit yang dibayarkan nasabah. Bunga kredit merupakan bagian dari pendapatan bank, sedangkan cost of fund merupakan salah satu biaya yang muncul dari sisi pendanaan.
Baca juga: Apa Itu HPP? Ini Fungsi Harga Pokok Penjualan dalam Usaha
Cost of Fund dalam Pembiayaan Bisnis
Konsep cost of fund memang lebih banyak digunakan dalam analisis perbankan. Namun, bagi pelaku usaha, memahami istilah ini juga bisa membantu ketika mempelajari bagaimana lembaga keuangan menetapkan harga pembiayaan.
Saat bisnis membutuhkan tambahan modal kerja, misalnya untuk membeli persediaan, membayar kebutuhan operasional, atau memenuhi pesanan, biaya pembiayaan tetap perlu diperhitungkan dalam arus kas usaha.
Bank Saqu menyediakan Kredit Modal Kerja untuk kebutuhan pembiayaan modal kerja bisnis. Sebelum mengajukan fasilitas kredit, pelaku usaha tetap perlu menghitung kebutuhan dana dan memastikan cicilan sesuai dengan kemampuan keuangan bisnis.
Untuk kebutuhan dana yang lebih fleksibel, Saku Kredit Bank Saqu juga tersedia melalui aplikasi Bank Saqu dengan limit awal hingga Rp30 juta dan pilihan tenor sampai 24 bulan, sesuai ketentuan yang berlaku.
Yuk, download Bank Saqu dan kenali pilihan pembiayaan yang tersedia untuk kebutuhanmu. Pastikan memahami bunga, tenor, biaya, serta kemampuan pembayaran sebelum mengambil fasilitas kredit.






