Hi Warga,
“Bulan ini omzet gue Rp50 juta.”
Kalimat seperti ini cukup sering terdengar ketika ngobrol soal bisnis. Namun, angka Rp50 juta tersebut sebenarnya menunjukkan apa?
Omzet adalah total pendapatan yang diperoleh dari penjualan dalam periode tertentu, sebelum dikurangi biaya-biaya bisnis.
Jadi, kalau sebuah toko berhasil menjual produk senilai Rp50 juta dalam sebulan, omzetnya adalah Rp50 juta. Angka tersebut belum menunjukkan berapa keuntungan yang benar-benar diperoleh pemilik bisnis.
Nah, di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara omzet dan keuntungan.
Baca juga: 5 Cara Menghitung Pajak Penghasilan (PPh) Terbaru & Rumusnya
Apa Itu Omzet?
Omzet merupakan jumlah keseluruhan nilai penjualan yang diperoleh bisnis dalam periode tertentu.
Periode yang digunakan bisa harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Contohnya, sebuah usaha menjual 500 produk dengan harga Rp100.000 per produk.
Maka omzetnya:
500 × Rp100.000 = Rp50.000.000
Artinya, bisnis tersebut mencatat omzet Rp50 juta dari penjualan tersebut.
Angka ini belum dikurangi modal, biaya operasional, gaji, biaya promosi, pajak, atau pengeluaran bisnis lainnya.
Cara Menghitung Omzet
Rumus omzet sebenarnya cukup sederhana:
Omzet = Jumlah Produk Terjual × Harga Jual
Kalau bisnis menjual beberapa produk dengan harga berbeda, hitung masing-masing produk terlebih dahulu, kemudian jumlahkan.
Contohnya:
- 100 produk A × Rp50.000 = Rp5 juta
- 50 produk B × Rp80.000 = Rp4 juta
- 20 produk C × Rp100.000 = Rp2 juta
Total omzet:
Rp5 juta + Rp4 juta + Rp2 juta = Rp11 juta
Jadi, omzet bisnis tersebut adalah Rp11 juta.
Kalau ada diskon, retur, atau potongan transaksi, gunakan nilai penjualan yang benar-benar menjadi pendapatan sesuai pencatatan bisnis.
Apa Bedanya Omzet dan Keuntungan?
Ini yang sering bikin salah kaprah.
Omzet menunjukkan total nilai penjualan.
Keuntungan atau laba menunjukkan uang yang tersisa setelah pendapatan dikurangi biaya.
Katakanlah sebuah bisnis memiliki omzet Rp50 juta dalam sebulan. Untuk menghasilkan penjualan tersebut, bisnis mengeluarkan Rp35 juta untuk modal barang dan berbagai biaya operasional.
Berarti keuntungan yang tersisa:
Rp50 juta - Rp35 juta = Rp15 juta
Jadi, jangan menyebut omzet Rp50 juta sebagai keuntungan Rp50 juta.
Omzet menunjukkan seberapa besar penjualan yang berhasil didapatkan. Sementara keuntungan memberikan gambaran mengenai hasil bisnis setelah biaya diperhitungkan.
Apakah Omzet Besar Berarti Bisnis Untung Besar?
Belum tentu. Bisnis dengan omzet Rp100 juta belum tentu lebih menguntungkan daripada bisnis dengan omzet Rp50 juta. Kuncinya ada pada margin dan biaya.
Kalau bisnis pertama membutuhkan biaya Rp95 juta untuk menghasilkan omzet Rp100 juta, keuntungan yang tersisa hanya Rp5 juta.
Sementara bisnis kedua mungkin mengeluarkan Rp30 juta untuk menghasilkan omzet Rp50 juta. Artinya, keuntungan yang tersisa Rp20 juta.
Karena itu, jangan hanya melihat omzet ketika menilai performa bisnis. Perhatikan juga biaya, margin, arus kas, dan keuntungan yang dihasilkan.
Baca juga: 10 Usaha Modal 10 Juta yang Menjanjikan dan Omsetnya Bisa Berlipat Ganda
Kenapa Omzet Penting untuk Bisnis?
Omzet tetap menjadi salah satu angka penting yang perlu dipantau.
1. Mengukur penjualan
Omzet membantu pemilik bisnis melihat seberapa besar penjualan yang berhasil diperoleh dalam periode tertentu.
2. Membandingkan performa
Omzet bulan ini bisa dibandingkan dengan bulan sebelumnya untuk melihat apakah penjualan sedang tumbuh atau menurun.
3. Membantu membuat perencanaan
Data omzet dapat menjadi salah satu dasar ketika menentukan target penjualan, stok, biaya operasional, dan kebutuhan modal.
4. Melihat produk yang paling laku
Kalau pencatatan dilakukan per produk, pemilik bisnis bisa mengetahui produk mana yang paling banyak menghasilkan penjualan.
Cara Meningkatkan Omzet
Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk meningkatkan omzet, tergantung karakter bisnis.
- Tambah volume penjualan. Semakin banyak produk terjual, semakin besar potensi omzet.
- Naikkan nilai transaksi. Bundling atau paket produk bisa membuat pelanggan membeli lebih banyak dalam satu transaksi.
- Perluas channel penjualan. Bisnis bisa memanfaatkan marketplace, media sosial, website, atau jaringan reseller.
- Pertahankan pelanggan lama. Pelanggan yang kembali membeli bisa menjadi sumber penjualan yang stabil.
- Evaluasi produk. Lihat produk mana yang memiliki permintaan tinggi dan sesuaikan stok dengan kebutuhan pasar.
Namun, peningkatan omzet sebaiknya tetap diikuti dengan pengelolaan biaya. Jangan sampai penjualan naik, tetapi keuntungan justru tergerus karena biaya operasional ikut membengkak.
Omzet Naik, Kebutuhan Modal Ikut Bertambah
Bisnis yang berkembang biasanya membutuhkan modal kerja yang lebih besar.
Ketika pesanan meningkat, kamu mungkin perlu membeli lebih banyak stok atau bahan baku sebelum pembayaran dari pelanggan diterima.
Di kondisi seperti ini, Kredit Modal Kerja Bank Saqu dapat menjadi salah satu pilihan pembiayaan untuk kebutuhan modal kerja usaha produktif. Fasilitas ini merupakan pinjaman jangka pendek dengan tenor maksimal satu tahun, dengan jumlah pinjaman mulai dari Rp100 juta dan plafon maksimal berdasarkan hasil analisis kredit.
Saat ini, Kredit Modal Kerja Bank Saqu memiliki suku bunga efektif sekitar 11% per tahun, provisi 1% per tahun, dan biaya administrasi Rp1 juta. Ketentuan dapat berubah sesuai kebijakan yang berlaku.
Kalau kebutuhan pembiayaan mulai muncul seiring pertumbuhan usaha, kamu bisa mempelajari Kredit Modal Kerja Bank Saqu melalui aplikasi Bank Saqu. Download aplikasi Bank Saqu dan mulai kenali layanan yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu.






