Inspirasi Warga

Apa Itu Balloon Payment? Ini Arti dan Keuntungannya

07 Okt 2026

thumbnail

Hi Warga, 

Pernah menemukan pinjaman dengan cicilan bulanan yang terlihat lebih ringan, tetapi ada pembayaran besar ketika masa kredit berakhir? Skema seperti ini dikenal sebagai balloon payment.

Cara pembayarannya memang berbeda dari pinjaman yang dicicil sampai lunas secara bertahap. Sebagian kewajiban masih tersisa sampai akhir tenor dan perlu dibayarkan dalam jumlah besar. Karena itu, memahami cara kerja dan risikonya penting sebelum memilih skema tersebut.

Baca juga: Gen Z Tetap Bisa Beli Rumah Impian dengan 10 Tips Praktis Ini!

Apa itu Balloon Payment?

Balloon payment merupakan skema pembayaran pinjaman yang mengharuskan debitur membayar sejumlah besar uang pada akhir tenor. Selama masa pinjaman, debitur tetap melakukan pembayaran berkala, tetapi cicilan tersebut tidak sepenuhnya melunasi pokok pinjaman. Akibatnya, masih ada saldo yang harus dibayarkan ketika tenor berakhir.

Istilah ini bisa digunakan dalam berbagai jenis pembiayaan. Dalam konteks KPR atau pinjaman properti, balloon payment biasanya merujuk pada pembayaran akhir yang jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan cicilan sebelumnya.

Bagaimana Cara Kerja Balloon Payment?

Misalnya seseorang mengambil pinjaman Rp500 juta dengan tenor lima tahun. Selama lima tahun tersebut, debitur tetap membayar cicilan setiap bulan.

Namun, struktur pinjamannya membuat seluruh pokok belum lunas ketika tenor berakhir. Masih ada saldo yang harus dibayarkan sekaligus pada akhir masa kredit. Pembayaran terakhir inilah yang disebut balloon payment.

Jumlahnya tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada nilai pinjaman, bunga, tenor, besarnya cicilan, serta ketentuan dalam perjanjian kredit.

Karena itu, seseorang yang mempertimbangkan skema ini perlu mengetahui sejak awal berapa jumlah pembayaran terakhir yang harus disiapkan.

Apa Bedanya Balloon Payment dengan Cicilan Biasa?

Pada cicilan yang diamortisasi penuh, pembayaran berkala dirancang untuk melunasi pokok dan bunga sampai pinjaman selesai pada akhir tenor.

Sementara itu, balloon payment menyisakan saldo pinjaman yang cukup besar sampai akhir masa kredit. Cicilan selama periode berjalan bisa terasa lebih ringan, tetapi ada kewajiban besar yang menunggu di kemudian hari.

Jadi, membandingkan pinjaman hanya berdasarkan nominal cicilan bulanan belum cukup. Jumlah pembayaran terakhir juga perlu diperhitungkan.

Apa Keuntungan Balloon Payment?

Ada beberapa alasan seseorang atau bisnis bisa mempertimbangkan struktur pembayaran seperti ini.

1. Cicilan Berkala Bisa Lebih Ringan

Karena sebagian pokok belum dibayarkan melalui cicilan rutin, jumlah pembayaran selama periode kredit bisa lebih rendah dibandingkan pinjaman yang seluruh pokoknya dilunasi secara berkala.

Bagi peminjam dengan kebutuhan cash flow tertentu, kondisi ini bisa memberikan ruang lebih besar untuk mengatur pengeluaran selama masa awal kredit.

2. Memberikan Ruang untuk Mengatur Cash Flow

Skema ini dapat dipertimbangkan oleh peminjam yang memiliki alasan kuat untuk memperkirakan adanya pemasukan atau sumber dana pada masa mendatang.

Contohnya, sebuah bisnis memperkirakan akan menerima pembayaran besar setelah proyek selesai. Struktur pembayaran tertentu mungkin memberikan ruang bagi bisnis tersebut untuk mengatur arus kas selama proyek berjalan.

Tetap saja, perkiraan pemasukan tersebut perlu realistis. Jangan mengandalkan uang yang belum pasti diterima untuk membayar kewajiban di masa depan.

3. Kewajiban Akhir Bisa Diketahui Sejak Awal

Jika ketentuannya sudah tercantum dalam perjanjian, peminjam dapat mengetahui kapan pembayaran terakhir jatuh tempo dan berapa besar dana yang perlu disiapkan.

Informasi tersebut bisa digunakan untuk membuat perencanaan keuangan sejak awal.

Baca juga: Pelajari Apa Itu KPR Rumah, Jenis, dan Syaratnya sebelum Beli Rumah Pertamamu

Apa Risiko Balloon Payment?

Cicilan yang lebih ringan di awal perlu dilihat bersama dengan kewajiban besar pada akhir tenor.

1. Harus Menyiapkan Dana Besar

Risiko utama balloon payment adalah adanya pembayaran besar ketika kredit berakhir. Kalau dana tersebut belum tersedia, peminjam bisa mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya.

Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) juga menjelaskan bahwa balloon payment dapat menimbulkan risiko karena peminjam harus menyediakan dana dalam jumlah besar pada akhir masa pinjaman.

2. Kondisi Keuangan Bisa Berubah

Rencana keuangan yang dibuat ketika mengambil pinjaman belum tentu berjalan sesuai perkiraan. Penghasilan bisa berubah, bisnis bisa mengalami penurunan, atau muncul kebutuhan lain yang tidak direncanakan.

Karena itu, kemampuan membayar pembayaran terakhir perlu dipertimbangkan berdasarkan kondisi yang realistis.

3. Refinancing Tidak Selalu Menjadi Jalan Keluar

Ada peminjam yang berencana mengambil pinjaman baru untuk melunasi balloon payment ketika jatuh tempo. Namun, refinancing tidak otomatis tersedia.

Persetujuan pembiayaan baru tetap bergantung pada kondisi keuangan, nilai aset, persyaratan pemberi pinjaman, dan situasi pada saat pengajuan. CFPB juga mengingatkan bahwa refinancing tidak selalu bisa diperoleh ketika balloon payment sudah jatuh tempo.

4. Total Biaya Tetap Perlu Dihitung

Cicilan bulanan yang rendah belum tentu berarti total biaya pinjaman lebih rendah.

Sebelum mengambil pinjaman, perhatikan bunga, biaya administrasi, tenor, total pembayaran selama masa kredit, dan besarnya pembayaran terakhir.

Apa yang Perlu Dicek Sebelum Mengambil Balloon Payment?

Kalau menemukan penawaran dengan skema ini, jangan berhenti di nominal cicilan bulanannya. Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain:

  • Berapa besar balloon payment yang harus dibayar? 
  • Kapan tanggal jatuh temponya? 
  • Berapa total pembayaran selama tenor? 
  • Berapa bunga dan biaya lainnya? 
  • Apakah ada biaya untuk pelunasan lebih awal? 
  • Apa konsekuensinya jika pembayaran terakhir tidak dapat dipenuhi? 
  • Apakah tersedia opsi refinancing dan apa persyaratannya? 

Dari informasi tersebut, kamu bisa menilai apakah struktur pembayaran tersebut sesuai dengan kondisi keuangan dan kemampuan membayar sampai akhir tenor.

Baca juga: Apakah KPR Bisa Dilunasi Sebelum Waktunya? Ini Detailnya

Pilih KPR Sesuai Kemampuan Finansial

Memahami struktur pembayaran penting ketika sedang mencari pembiayaan rumah. Jangan hanya melihat berapa cicilan yang perlu dibayar setiap bulan. Tenor, bunga, biaya tambahan, dan kemampuan membayar sampai kredit selesai juga perlu diperhitungkan.

Bank Saqu menyediakan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) sebagai salah satu pilihan pembiayaan untuk memiliki rumah. Informasi mengenai tenor, bunga, persyaratan, dan ketentuan produk sebaiknya dipelajari terlebih dahulu sebelum mengajukan.

Untuk KPR Bank Saqu, informasi produk di situs resminya mencantumkan tenor hingga 10 tahun. Ketentuan produk dapat berubah sesuai kebijakan yang berlaku, sehingga detail terbaru sebaiknya dicek sebelum pengajuan.

Kalau sedang merencanakan pembelian rumah, Yuk, download Bank Saqu dan cari tahu berbagai layanan perbankan yang tersedia. Kamu juga bisa mempelajari KPR Bank Saqu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kemampuan finansialmu.

Simulasikan Pinjamanmu

Loading...
Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.