Jadi Solopreneur

Apa Itu Biaya Eksplisit Dalam Usaha? Ini Arti dan Contohnya

21 Okt 2026

thumbnail

Biaya eksplisit adalah salah satu komponen penting yang perlu dipahami ketika menjalankan usaha. Setiap bisnis membutuhkan pengeluaran untuk mendukung kegiatan operasional, mulai dari membeli bahan baku, membayar gaji karyawan, hingga menyewa tempat usaha. Dengan memahami biaya ini, kamu bisa menghitung pengeluaran secara lebih akurat dan mengevaluasi keuntungan bisnis.

Pencatatan pengeluaran yang rapi juga membantu pemilik usaha mengetahui ke mana uang digunakan dan apakah pendapatan yang diperoleh sudah cukup untuk menutup biaya operasional. Lalu, apa saja yang termasuk biaya eksplisit dan bagaimana cara membedakannya dari biaya implisit? Simak penjelasan berikut.

BACA JUGA: Jangan Sampai Nyesel! Ini 8 Cara Menyiapkan Tabungan Hari Tua dari Sekarang

Biaya Eksplisit Adalah Pengeluaran Nyata dalam Kegiatan Usaha

Biaya eksplisit (explicit cost) adalah pengeluaran yang benar-benar dibayarkan oleh perusahaan untuk mendapatkan barang, jasa, atau sumber daya yang diperlukan dalam menjalankan bisnis. Pengeluaran ini melibatkan transaksi keuangan yang dapat dibuktikan melalui nota, kuitansi, faktur, atau catatan pembayaran lainnya.

Contohnya, ketika pemilik kedai kopi membeli biji kopi, membayar gaji barista, dan menyewa tempat usaha, seluruh pembayaran tersebut termasuk biaya eksplisit.

Biaya ini perlu dicatat dalam pembukuan agar perusahaan dapat menghitung biaya operasional dan mengevaluasi kinerja keuangannya. Dalam laporan laba rugi, biaya yang memenuhi kriteria pengakuan akuntansi akan dicatat sesuai dengan jenis dan periode terjadinya.

Pencatatan yang tepat dapat membantu pemilik usaha mengetahui biaya yang dikeluarkan per periode untuk memperoleh penghasilan. Pencatatan juga mempermudah pemilik usaha untuk menentukan langkah yang diambil dalam rangka menjaga profitabilitas bisnis.

Jenis-Jenis Biaya Eksplisit dalam Usaha

Berdasarkan perilakunya terhadap perubahan aktivitas bisnis, biaya eksplisit dapat dibedakan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlu diperhitungkan secara tepat dalam perencanaan keuangan.

1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap merupakan pengeluaran yang jumlah totalnya relatif tidak berubah dalam rentang aktivitas dan periode tertentu, meskipun jumlah produk yang dihasilkan mengalami perubahan.

Beberapa contoh biaya tetap dalam usaha antara lain:

  • Sewa tempat usaha atau kantor.
  • Biaya sewa mesin berdasarkan kontrak tetap.
  • Premi asuransi bisnis.
  • Gaji bulanan karyawan tetap, selama struktur gaji dan jumlah tenaga kerja tidak berubah.

Misalnya, sebuah toko membayar sewa tempat sebesar Rp3.000.000 per bulan. Jika nilai sewanya tidak berubah, pemilik toko tetap perlu membayar jumlah tersebut meskipun penjualan sedang meningkat atau menurun.

Meski disebut biaya tetap, pengeluaran ini tetap bisa berubah ketika kontrak diperbarui, jumlah tempat usaha bertambah, atau kondisi operasional mengalami perubahan.

2. Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel adalah pengeluaran yang jumlah totalnya berubah mengikuti tingkat produksi atau aktivitas usaha. Semakin banyak produk yang dibuat atau dijual, semakin besar pula biaya yang mungkin perlu dikeluarkan.

Contoh biaya variabel meliputi:

  • Pembelian bahan baku.
  • Kemasan produk.
  • Biaya pengiriman yang bergantung pada jumlah pesanan.
  • Upah tenaga kerja yang dibayar berdasarkan jumlah unit yang diproduksi.

Sebagai ilustrasi, pemilik usaha roti membutuhkan biaya bahan baku sebesar Rp4.000 untuk setiap roti. Jika memproduksi 100 roti, biaya bahan bakunya mencapai Rp400.000. Apabila produksi meningkat menjadi 200 roti dengan biaya per unit yang sama, total biaya bahan bakunya menjadi Rp800.000.

Memahami perbedaan biaya tetap dan variabel membantu pemilik usaha memperkirakan kebutuhan modal serta menentukan harga jual yang sesuai.

Contoh Biaya Eksplisit dalam Kehidupan Sehari-hari

Biaya eksplisit dalam kehidupan sehari-hari bisa dilihat di berbagai bisnis, misalnya usaha rumahan, UMKM, ataupun usaha berskala besar. Berikut beberapa contoh yang umum ditemui:

1. Biaya Pembelian Bahan Baku

Bisnis kuliner perlu membeli bahan makanan, bumbu, minyak, dan bahan pendukung lainnya. Sementara itu, bisnis pakaian membutuhkan kain, benang, dan perlengkapan produksi.Pembayaran yang dilakukan untuk memperoleh bahan baku usaha termasuk biaya eksplisit karena melibatkan transaksi pembelian. 

2. Gaji dan Upah Karyawan

Pembayaran gaji pegawai, upah pekerja harian, dan honor tenaga profesional merupakan contoh biaya eksplisit. Pengeluaran ini perlu direncanakan agar bisnis dapat memenuhi kewajiban kepada tenaga kerja sekaligus menjaga kelancaran operasional.

3. Biaya Sewa Tempat Usaha

Pengusaha yang menyewa ruko, kios, kantor, atau gudang perlu mengalokasikan dana untuk membayar sewa sesuai perjanjian. Biaya tersebut perlu diperhitungkan dalam menentukan target penjualan dan keuntungan.

4. Tagihan Listrik, Air, dan Internet

Kegiatan usaha membutuhkan berbagai fasilitas pendukung, seperti listrik untuk menjalankan peralatan, air untuk proses produksi, dan internet untuk komunikasi maupun transaksi.

Tagihan utilitas tersebut termasuk biaya eksplisit karena ada pembayaran yang harus dilakukan kepada penyedia layanan.

5. Biaya Pemasaran dan Promosi

Pengeluaran untuk memasang iklan digital, mencetak brosur, membayar jasa kreator konten, atau membuat materi promosi juga termasuk biaya eksplisit.

Pencatatan biaya pemasaran dapat membantu pemilik usaha mengevaluasi apakah pengeluaran promosi memberikan hasil yang sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

6. Biaya Administrasi dan Operasional

Pembelian alat tulis, langganan perangkat lunak bisnis, biaya administrasi bank, dan pembayaran jasa akuntansi merupakan contoh pengeluaran lain yang dapat termasuk biaya eksplisit.

Nominalnya kadang relatif kecil, namun pengeluaran administrasi dan operasional tetap harus dicatat. Tujuannya, supaya pemilik usaha memperoleh gambaran yang utuh terkait biaya operasional. 

Perbedaan Biaya Eksplisit dan Biaya Implisit

Selain biaya eksplisit, ada pula biaya implisit (implicit cost) yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya milik sendiri untuk menjalankan usaha. Perbedaan utama keduanya terletak pada ada atau tidaknya pembayaran langsung kepada pihak lain.

AspekBiaya EksplisitBiaya Implisit
PengertianPengeluaran nyata yang melibatkan pembayaranNilai peluang yang dikorbankan saat menggunakan sumber daya sendiri
Arus kasMelibatkan pengeluaran uangTidak menimbulkan pembayaran langsung
Bukti transaksiUmumnya memiliki kuitansi, faktur, atau bukti pembayaranDihitung berdasarkan nilai peluang yang dikorbankan
ContohMembayar biaya sewa tokoMenggunakan bangunan pribadi sehingga tidak ribet sewa

Sebagai contoh, seorang pengusaha menggunakan rumah miliknya sebagai tempat produksi tanpa membayar sewa kepada pihak lain. Tidak ada pengeluaran sewa secara langsung, sehingga biaya tersebut bukan biaya eksplisit.

Namun, jika rumah tersebut sebenarnya bisa disewakan kepada orang lain, pengusaha kehilangan potensi pendapatan sewa. Nilai pendapatan yang dikorbankan itu dapat menjadi biaya implisit dalam analisis ekonomi.

Memahami kedua jenis biaya ini membantu pemilik usaha mengevaluasi keuntungan secara lebih menyeluruh. Biaya eksplisit digunakan untuk melihat pengeluaran nyata, sedangkan biaya implisit membantu memperhitungkan nilai peluang yang hilang ketika sumber daya digunakan untuk suatu pilihan.

Mengapa Pemilik Usaha Perlu Mencatat Biaya Eksplisit?

Pencatatan biaya eksplisit bukan sekadar kegiatan administratif. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih terukur.

Berikut beberapa manfaatnya:

  1. Menghitung keuntungan usaha. Pemilik bisnis dapat membandingkan pendapatan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengetahui hasil operasional.
  2. Menentukan harga jual. Informasi biaya membantu memastikan harga produk mempertimbangkan pengeluaran yang diperlukan untuk menghasilkan dan menjualnya.
  3. Mengendalikan pengeluaran. Catatan transaksi memudahkan pemilik usaha menemukan biaya yang meningkat atau pengeluaran yang bisa dihemat.
  4. Menyusun anggaran. Data pengeluaran sebelumnya dapat menjadi acuan untuk memperkirakan kebutuhan dana pada periode berikutnya.
  5. Mengevaluasi kinerja bisnis. Pemilik usaha bisa menilai apakah kegiatan operasional berjalan efisien dan apakah strategi bisnis perlu disesuaikan.

Agar manfaat tersebut bisa dirasakan, biasakan mencatat setiap transaksi secara rutin. Pisahkan uang pribadi dari uang usaha, simpan bukti pembayaran, dan kelompokkan pengeluaran berdasarkan kategorinya.

BACA JUGA: Jangan Asal Ambil Pinjaman, Pelajari Dulu soal Serba-Serbi Tenor Pinjaman!

Dukung Kebutuhan Modal Usaha dengan Kredit Modal Kerja

Ketika usaha mulai berkembang, kamu mungkin membutuhkan tambahan dana untuk membeli bahan baku, menambah stok barang, atau memenuhi biaya operasional.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kredit Modal Kerja dari Bank Saqu menawarkan pinjaman fleksibel yang dapat membantu kamu memperoleh akses dana untuk mendukung pertumbuhan usaha. Dengan dukungan pembiayaan ini, kamu bisa lebih fokus mengembangkan bisnis dan mengelola kebutuhan operasional.

Jika masih membutuhkan dukungan finansial setelah periode pinjaman berakhir, kamu juga dapat mengajukan perpanjangan tenor dan plafon pinjaman melalui proses yang mudah dan cepat, sesuai ketentuan yang berlaku.

Yuk, kelola biaya eksplisit secara cermat dan rencanakan kebutuhan modal usaha dengan lebih baik agar bisnis dapat terus berkembang!

Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.