Inspirasi Warga

7 Cara Investasi Saham Pemula agar Tidak Salah Langkah

14 Sep 2026

thumbnail

Hi Warga,

Ingin memulai investasi saham, tetapi masih bingung harus mulai dari mana? Tenang, kamu enggak harus langsung jago baca grafik atau hafal berbagai istilah pasar modal.

Investasi saham memang semakin mudah diakses. OJK mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 30,06 juta investor pada Juli 2026, naik 47,63% secara tahunan. Pada saat yang sama, OJK juga mengingatkan pentingnya memahami profil risiko dan menghindari perilaku spekulatif ketika berinvestasi.

Artinya, semakin banyak orang yang mulai berinvestasi, tapi bukan berarti kita perlu ikut-ikutan tanpa memahami apa yang dibeli.

Kalau kamu baru mau mencoba, berikut 7 cara investasi saham untuk pemula supaya langkah pertamamu lebih terarah.

Baca juga: Investasi Jangka Pendek: Jenis, Kelebihan, dan Kekurangannya

1. Pahami Dulu Apa Itu Saham

Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Ketika membeli saham sebuah perusahaan, kamu memiliki bagian kepemilikan di perusahaan tersebut.

Keuntungan dari saham bisa berasal dari kenaikan harga atau capital gain. Beberapa perusahaan juga membagikan dividen kepada pemegang saham sesuai kebijakan perusahaan. Tapi ada sisi lain yang perlu dipahami sejak awal yaitu harga saham bisa turun.

Bahkan, kondisi pasar saham bisa berubah cukup cepat. OJK mencatat IHSG sempat terkoreksi 27,88% secara year to date hingga Juli 2026 sebelum mengalami penguatan pada bulan tersebut.

Jadi, saham bukan tempat untuk sekadar menyimpan uang dan berharap nilainya selalu naik.

2. Tentukan Tujuan Investasimu

Sebelum membeli saham, sebaiknya kamu mulai menentukan tujuannya. Bisa untuk dana pensiun, membeli rumah, pendidikan anak, atau membangun aset dalam jangka panjang.

Tujuan ini penting karena setiap kebutuhan punya jangka waktu yang berbeda. Kalau uangnya akan digunakan beberapa bulan lagi, misalnya untuk membayar biaya kuliah atau membeli kendaraan, memasukkan seluruh dana tersebut ke saham tentu perlu dipertimbangkan lagi.

Sebaliknya, kalau kamu punya tujuan jangka panjang dan siap menghadapi naik-turunnya pasar, saham bisa menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan.

Jadi, jangan mulai dari pertanyaan “Saham apa yang harus dibeli?”, tetap mulai dari “Saya investasi untuk apa?”

3. Pastikan Kondisi Keuangan Sudah Siap

Ini bagian yang sering dilewatkan. Jangan sampai baru menerima gaji, langsung memasukkan sebagian besar uang ke saham, lalu beberapa hari kemudian bingung karena uang untuk kebutuhan sehari-hari sudah berkurang.

Sebelum berinvestasi, pastikan kebutuhan rutin dan kewajiban utama sudah diperhitungkan. Dana yang digunakan untuk investasi juga sebaiknya bukan uang yang akan kamu perlukan dalam waktu dekat.

Misalnya kamu punya Rp5 juta dan bulan depan perlu membayar kos Rp2 juta. Jangan menganggap seluruh Rp5 juta sebagai dana investasi. Sisakan dana untuk kebutuhan yang memang sudah menunggu.

Dengan begitu, kamu nggak terpaksa menjual saham hanya karena tiba-tiba membutuhkan uang.

4. Kenali Perusahaan Sebelum Membeli

Setelah kondisi keuangan siap, barulah mulai melihat perusahaan yang sahamnya ingin kamu beli. Nggak perlu langsung menjadi ahli analisis saham. Mulai dari hal yang paling dasar.

Perusahaan tersebut sebenarnya menghasilkan uang dari bisnis apa? Bagaimana kinerjanya? Bagaimana kondisi industrinya? Apa yang sedang terjadi dengan bisnisnya?

Kamu bisa mencari informasi dari laporan keuangan, laporan tahunan, keterbukaan informasi, dan sumber resmi lainnya.

Dengan cara ini, kamu membeli saham karena memahami bisnis di baliknya, bukan hanya karena harga sahamnya sedang naik.

Jika ada orang di media sosial yang bilang suatu saham akan naik, jangan langsung menganggapnya sebagai alasan untuk membeli. OJK sendiri mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap perilaku spekulatif dan pentingnya memahami profil risiko sebelum berinvestasi.

Baca juga: Apa Itu Investasi? Ini Pengertian, Tujuan, dan Jenisnya

5. Mulai dari Nominal yang Sesuai Kemampuan

Investasi saham tidak harus dimulai dengan uang yang besar. Terpenting nominalnya sesuai dengan kondisi keuanganmu dan kamu siap dengan risikonya.

Misalnya, setelah semua kebutuhan terpenuhi, kamu punya Rp500 ribu yang memang dialokasikan untuk investasi. Kamu bisa mulai mempelajari pasar dan berinvestasi dari nominal tersebut sesuai mekanisme perdagangan yang berlaku. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti nominal orang lain.

Kalau temanmu bisa investasi Rp5 juta setiap bulan, bukan berarti kamu harus melakukan hal yang sama. Justru, investasi yang sehat adalah investasi yang nggak membuat kebutuhan sehari-hari ikut terganggu.

6. Jangan Mudah FOMO

Ini salah satu jebakan yang cukup sering dialami investor pemula. Ada saham yang sedang ramai dibicarakan. Harganya naik. Banyak orang mengaku sudah cuan.

Padahal, keputusan investasi karena takut ketinggalan bisa membuat kamu membeli sesuatu tanpa memahami risikonya. Hal yang sama bisa terjadi ketika harga saham turun. Baru melihat portofolio merah sedikit, langsung panik dan menjual tanpa mengevaluasi alasan awal investasi.

Pasar memang bergerak setiap hari. Kamu nggak harus mengambil keputusan setiap kali harga bergerak. Lebih baik punya alasan yang jelas ketika membeli maupun menjual daripada hanya mengikuti suasana pasar.

7. Jangan Taruh Semua Dana di Satu Saham

Kalau sudah menemukan perusahaan yang kamu percaya, bukan berarti seluruh dana investasi harus ditempatkan di sana.

Diversifikasi bisa membantu mengurangi ketergantungan pada satu aset. Misalnya, kalau seluruh dana investasi berada di satu saham dan harga saham tersebut turun cukup dalam, seluruh portofoliomu akan langsung terdampak.

Dengan memiliki beberapa aset yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko, dampak tersebut bisa lebih terkelola. Namun, perlu diingat, diversifikasi bukan berarti investasi menjadi bebas risiko. Nilai investasi tetap bisa naik dan turun.

Jadi, jangan hanya berpikir tentang berapa banyak keuntungan yang mungkin didapat. Pikirkan juga seberapa besar risiko yang siap kamu terima.

Baca juga: 7 Tips Investasi Saham Pemula yang Aman dan Mudah Dipahami

Nggak Harus Semua Uang Masuk Saham

Setelah memahami saham, kamu mungkin berpikir bahwa investasi berarti harus membeli saham. Padahal, setiap instrumen punya karakteristik masing-masing.

Kalau kamu memiliki dana yang ingin ditempatkan untuk jangka waktu tertentu dengan karakteristik yang berbeda dari saham, Deposito Reguler bisa menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.

Deposito Reguler Bank Saqu bisa dibuka mulai dari Rp1 juta, dengan pilihan jangka waktu mulai dari 7 hari, 14 hari, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, hingga 12 bulan. Saat ini, halaman produk Bank Saqu mencantumkan bunga hingga 7% p.a., sesuai ketentuan yang berlaku.

Deposito dan saham tentu bukan produk yang sama. Saham memiliki risiko fluktuasi harga, sedangkan deposito merupakan produk simpanan dengan jangka waktu dan ketentuan bunga tertentu. Jadi, nggak perlu memaksakan semua uang masuk ke satu instrumen. Pilih berdasarkan tujuan, jangka waktu, dan kondisi keuanganmu.

Mau mengenal pilihan simpanan berjangka? Download Bank Saqu sekarang dan coba Deposito Reguler. 

Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.