Hi Warga Bank Saqu,
Jualan laris belum tentu berarti bisnis sudah untung besar. Ada kalanya omzet terlihat tinggi, tetapi setelah dihitung lagi, ternyata sebagian besar uang habis untuk modal barang, ongkos kirim, biaya operasional, sampai biaya promosi.
Karena itu, kalau kamu sedang menjalankan bisnis, penting untuk tahu cara menghitung keuntungan jualan dengan benar.
Dengan begitu, kamu bisa melihat apakah harga jual sudah sesuai, produk mana yang paling menghasilkan, dan berapa uang yang sebenarnya bisa dibawa pulang.
Baca juga: 10 Usaha Modal 10 Juta yang Menjanjikan dan Omsetnya Bisa Berlipat Ganda
Apa Itu Keuntungan Jualan?
Keuntungan atau profit adalah selisih antara pendapatan dari penjualan dan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan tersebut.
Rumus sederhananya:
Keuntungan = Pendapatan - Total Biaya
Sebagai gambaran, kamu menjual 100 produk dengan harga Rp50.000 per produk.
Total penjualan:
100 × Rp50.000 = Rp5.000.000
Untuk mendapatkan penjualan tersebut, kamu mengeluarkan:
- Modal barang: Rp3.000.000
- Packaging: Rp200.000
- Ongkos operasional: Rp300.000
- Promosi: Rp250.000
Total biaya mencapai Rp3.750.000.
Berarti keuntungan yang diperoleh:
Rp5.000.000 - Rp3.750.000 = Rp1.250.000
Jadi, omzetnya Rp5 juta, tetapi keuntungan sebenarnya Rp1,25 juta.
Cara Menghitung Keuntungan Jualan
Supaya lebih mudah, kamu bisa mengikuti beberapa langkah berikut.
1. Hitung total penjualan
Pertama, catat seluruh produk yang berhasil terjual beserta harganya. Kalau menjual satu jenis produk, perhitungannya cukup sederhana:
Jumlah barang terjual × harga jual
Kalau produknya banyak, hitung masing-masing lalu jumlahkan.
Jangan lupa memperhitungkan diskon atau potongan harga. Angka yang digunakan sebaiknya adalah pendapatan yang benar-benar diterima dari penjualan.
2. Hitung harga pokok penjualan
Selanjutnya, hitung biaya yang berkaitan langsung dengan barang yang terjual.
Untuk bisnis dagang, komponen ini biasanya mencakup harga beli barang, biaya produksi, atau bahan yang digunakan untuk membuat produk.
Contohnya, kamu membeli satu produk seharga Rp30.000 dan menjualnya Rp50.000.
Secara sederhana, selisih Rp20.000 tersebut belum otomatis menjadi keuntungan bersih karena masih ada biaya lain.
3. Catat biaya operasional
Ini bagian yang sering terlewat. Biaya operasional bisa mencakup:
- Packaging
- Ongkos kirim yang ditanggung penjual
- Biaya marketplace
- Iklan
- Sewa tempat
- Listrik dan internet
- Gaji karyawan
- Biaya administrasi
- Perlengkapan usaha
Setelah semuanya dicatat, kamu akan mendapatkan gambaran keuntungan yang lebih realistis.
4. Kurangi pendapatan dengan seluruh biaya
Setelah pendapatan dan biaya terkumpul, gunakan rumus:
Keuntungan = Total Penjualan - Total Biaya
Dari sini kamu bisa mengetahui berapa keuntungan yang sebenarnya dihasilkan bisnis dalam satu periode.
Contoh Menghitung Keuntungan Jualan
Katakanlah kamu menjual 200 botol minuman dengan harga Rp25.000 per botol.
Total penjualan:
200 × Rp25.000 = Rp5.000.000
Biayanya:
- Bahan baku: Rp1.800.000
- Kemasan: Rp400.000
- Promosi: Rp300.000
- Listrik dan operasional: Rp250.000
- Biaya lainnya: Rp250.000
Total biaya:
Rp3.000.000
Maka keuntungan:
Rp5.000.000 - Rp3.000.000 = Rp2.000.000
Artinya, margin keuntungan terhadap penjualan adalah:
Rp2.000.000 ÷ Rp5.000.000 × 100% = 40%
Angka margin ini juga berguna untuk melihat seberapa besar bagian dari penjualan yang benar-benar menjadi keuntungan.
Bedakan Omzet dan Keuntungan
Jangan sampai omzet dianggap sama dengan keuntungan. Omzet adalah total pendapatan yang diperoleh dari penjualan sebelum dikurangi biaya.
Keuntungan adalah uang yang tersisa setelah biaya yang berkaitan dengan bisnis diperhitungkan.
Kalau omzet bulan ini Rp20 juta, bukan berarti kamu memiliki keuntungan Rp20 juta. Bisa saja setelah dikurangi modal dan seluruh biaya, keuntungan sebenarnya hanya Rp4 juta.
Perbedaan ini penting, terutama ketika bisnis mulai berkembang dan transaksi semakin banyak.
Tips agar Perhitungan Keuntungan Lebih Akurat
1. Pisahkan uang bisnis dan pribadi
Gunakan rekening yang berbeda untuk kebutuhan usaha dan pengeluaran pribadi. Cara ini membuat arus uang bisnis lebih mudah dilacak.
2. Catat transaksi secara rutin
Jangan menunggu akhir bulan baru mengumpulkan nota dan menghitung semuanya. Catatan yang dibuat secara rutin akan mengurangi risiko ada biaya yang terlewat.
3. Masukkan semua biaya
Biaya kecil yang terlihat sepele tetap perlu dicatat. Packaging, biaya admin marketplace, ongkos kirim, hingga biaya promosi bisa memengaruhi keuntungan ketika dikumpulkan.
4. Evaluasi harga jual
Kalau keuntungan terlalu tipis, cek kembali harga jual dan struktur biaya. Jangan sampai harga produk terlihat kompetitif tetapi sebenarnya tidak memberikan margin yang cukup.
Baca juga: Apa Itu Passive Income? Ini Cara Membangunnya dari Nol
Pisahkan Uang Bisnis agar Lebih Mudah Dikelola
Setelah keuntungan mulai terkumpul, pengelolaan uang bisnis juga perlu diperhatikan. Jangan sampai uang hasil jualan bercampur dengan kebutuhan pribadi sehingga sulit mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya.
Untuk bisnis yang membutuhkan rekening transaksi secara lebih terstruktur, Giro Bank Saqu bisa menjadi salah satu pilihan.
Rekening ini dirancang untuk mendukung transaksi bisnis, termasuk fitur autodebet dan standing instruction untuk membantu pembayaran rutin secara otomatis. Giro Bank Saqu juga dapat digunakan oleh pelaku usaha perorangan maupun badan usaha.
Kalau ingin mulai mengelola transaksi bisnis dengan Bank Saqu, kamu bisa mengunduh aplikasi Bank Saqu dan memulai proses menjadi nasabah.
Untuk pembukaan rekening Giro, terdapat persyaratan dan proses tersendiri sesuai jenis nasabah dan ketentuan produk.






