Saku 101

Apa Itu Debt Burden Ratio? Ini Cara Menghitung dan Fungsinya

01 Jul 2026

thumbnail

Debt burden ratio adalah perbandingan total cicilan utang dan pendapatan bersih per bulan. 

Bank memakai angka ini saat menilai pengajuan pinjaman kamu. Bila rasionya kecil, peluang pengajuan disetujui semakin besar. 

Artikel ini menjelaskan pengertian, rumus, fungsi, batas aman, dan cara menurunkan debt burden ratio. Yuk, simak sampai akhir!

BACA JUGA: Jangan Asal Terima Pinjaman Tunai kalau Belum Baca Informasi Ini

Apa Itu Debt Burden Ratio?

Debt Burden Ratio (DBR) adalah rasio yang mengukur beban utang terhadap penghasilan kamu. 

Angka ini muncul dalam bentuk persentase. Persentase tersebut menunjukkan berapa bagian gaji yang habis untuk membayar cicilan.

Bank memakai DBR sebagai penyaring awal calon nasabah. DBR yang rendah menandakan beban utang ringan. DBR yang tinggi menandakan beban utang berat.

Lembaga keuangan memakai DBR untuk menjaga prinsip kehati-hatian. Tujuannya menekan angka kredit macet atau non-performing loan (NPL). 

NPL adalah kondisi saat debitur gagal membayar cicilan. Jika NPL bank terlalu tinggi, likuiditas dan keuntungan bank ikut terganggu.

Fungsi Debt Burden Ratio

DBR bekerja untuk dua pihak, yaitu bank dan kamu sebagai calon peminjam. Berikut ini fungsinya saat kamu mengajukan pinjaman.

1. Menilai Kemampuan Bayar

DBR menunjukkan sanggup atau tidaknya kamu membayar pokok dan bunga utang. Jadi, bila angkanya tinggi, kemampuan bayarmu sedang menipis.

2. Menyaring Kelayakan Debitur

Bank memakai DBR untuk memutuskan kelayakan pengajuan pinjaman baru. Penyaringan ini membantu bank menghindari risiko gagal bayar.

3. Menjadi Bagian Penilaian Skor Kredit

DBR ikut dihitung saat bank menyusun skor kredit kamu. Jika rasionya tinggi, tentu skor kreditnya lebih rendah.

4. Membantu Perencanaan Keuangan

Kamu bisa memakai DBR untuk menetapkan batas aman cicilan bulanan. Angka ini juga membantu menyusun urutan pembayaran utang.

Cara Menghitung Debt Burden Ratio

Menghitung DBR bisa dilakukan sendiri sebelum mengajukan pinjaman. Rumus debt burden ratio adalah sebagai berikut.

DBR = (total cicilan utang per bulan / pendapatan bersih per bulan) x 100%

Supaya makin jelas, simak contoh perhitungan berikut ini. 

Misalnya, kamu ingin mengajukan KPR seharga Rp500 juta. Berikut data keuanganmu.

  • Cicilan kartu kredit sebesar Rp1.000.000 per bulan 
  • Cicilan mobil sebesar Rp2.000.000 per bulan 
  • Pendapatan bersih sebesar Rp12.500.000 per bulan

Langkah perhitungannya sebagai berikut.

  1. Jumlahkan semua cicilan per bulan. Hasilnya Rp1.000.000 + Rp2.000.000 = Rp3.000.000. 
  2. Bagi total cicilan dengan pendapatan bersih. Hasilnya Rp3.000.000 dibagi Rp12.500.000. 
  3. Kalikan hasilnya dengan 100%. Angka akhirnya 24%.

Jadi, DBR kamu berada di angka 24%. Karena masih di bawah 30%, pengajuan KPR berpeluang besar disetujui.

Berapa DBR yang Ideal dan Maksimal?

Setiap bank menetapkan batas DBR yang berbeda. Sebagian besar bank memakai kisaran yang mirip. DBR yang tergolong aman berada di rentang 30%-40%. 

Artinya, cicilan utang sebaiknya tidak melewati 30%-40% dari pendapatan bersih.

Beberapa bank menetapkan batas sampai 50% untuk produk tertentu. Jadi, jika DBR kamu melewati batas bank, pengajuan berisiko ditolak. 

Rasio yang tergolong sehat adalah di bawah 30%, karena menandakan penghasilan kamu cukup untuk menutup cicilan.

Perbedaan DBR dan DSR

Debt Service Ratio (DSR), yaitu rasio cicilan terhadap penghasilan. Debt Burden Ratio (DBR), yaitu rasio beban utang terhadap penghasilan. 

Keduanya sama-sama mengukur porsi penghasilan yang terpakai untuk membayar utang. Di praktik perbankan Indonesia, kedua istilah ini kerap merujuk pada hal yang sama.

Batas DSR juga berada di kisaran 30%-40%, sama seperti DBR. Jadi, kalau bank menyebut DSR atau DBR, perhitungan dan tujuannya tetap serupa.

Faktor yang Memengaruhi Debt Burden Ratio

Faktanya, angka DBR tidak selalu konstan. Beberapa hal bisa membuatnya naik atau turun dari waktu ke waktu.

1. Jumlah Utang

Semakin besar utang kamu, semakin tinggi DBR. Cicilan yang menumpuk langsung menambah beban rasio ini.

2. Besar Penghasilan

Ketika penghasilan kamu naik, DBR cenderung turun. Hal ini karena pendapatan yang lebih tinggi memberikan ruang yang besar untuk melunasi cicilan.

3. Suku Bunga

Suku bunga pinjaman ikut menentukan besar cicilan. Seandainya bunga naik, biaya utang bertambah dan DBR ikut naik.

4. Pengelolaan Utang

Cara kamu mengatur utang memengaruhi DBR. Oleh karena itu, restrukturisasi atau pindah ke suku bunga yang lebih rendah bisa menurunkan rasio.

Dampak DBR Tinggi terhadap Keuanganmu

DBR yang tinggi berdampak pada keuangan harianmu, bukan hanya pada penilaian bank. Berikut ini efeknya.

  • Susah menabung. Ketika sebagian besar gaji habis untuk cicilan, ruang untuk menabung akan sempit. Padahal, kamu butuh dana darurat untuk kondisi tak terduga.
  • Risiko gagal bayar naik. Kalau porsi utang lebih besar dari pemasukan, peluang telat bayar bisa membesar. Selain itu, gagal bayar juga bisa menurunkan skor kreditmu.
  • Tekanan finansial bertambah. Beban cicilan yang berat bisa memicu stres dan cemas. Kondisi ini kadang mengganggu tidur dan pekerjaan.
  • Muncul lingkaran utang. Saat DBR tinggi, kamu berisiko mengambil pinjaman baru untuk menutup kebutuhan. Siklus ini membuat utang makin menumpuk.

Cara Menurunkan Debt Burden Ratio

Kalau DBR kamu sudah terlalu tinggi, ada beberapa cara untuk menurunkannya. Lakukan langkah berikut ini secara bertahap.

  1. Lunasi utang yang berjalan. Fokus selesaikan cicilan yang ada sebelum mengambil yang baru. Sebab, utang yang berkurang bisa menurunkan DBR.
  2. Tahan diri dari pinjaman baru. Hindari cicilan baru, apalagi untuk kebutuhan gaya hidup. Sebab, pinjaman tambahan hanya menaikkan rasio.
  3. Tambah penghasilan. Manfaatkan keahlianmu untuk pekerjaan sampingan. Tujuannya agar porsi cicilan terhadap gaji mengecil.
  4. Perbesar uang muka saat kredit. Semakin besar uang muka, semakin kecil cicilan bulanan. Selain itu, cicilan yang ringan membuat DBR tetap aman.
  5. Pantau DBR secara berkala. Hitung ulang DBR setiap ada cicilan baru atau pelunasan. Tujuannya untuk mempermudah kamu saat mengambil keputusan finansial.

BACA JUGA: Cara Dapatkan Modal Pinjaman agar Bikin Bisnismu Terus Berkembang

Yuk, Ajukan Pinjaman Transparan dan Fleksibel Pakai Saku Kredit dari Bank Saqu!

Itulah penjelasan tentang debt burden ratio yang perlu dipahami. DBR terbilang aman jika pemilihan produk kreditnya sesuai kemampuan.

Dalam hal ini, produk pinjaman fleksibel Saku Kredit bisa dipertimbangkan untuk kebutuhan kamu. 

Kamu bisa menarik pinjaman kapan saja melalui fitur "Pinjaman", lalu beli sekarang dan bayarnya bulan depan lewat fitur "Bayar Nanti", atau mengubah transaksi menjadi cicilan lewat fitur "Cicil".

Yuk, ajukan pinjaman transparan tanpa membebani keuangan bulanan dari Bank Saqu!