Saku 101

Sering Checkout Saat Galau? Kenali Tanda Doom Spending Gen Z

24 Jun 2026

thumbnail

Di era digital, belanja online menjadi aktivitas yang semakin mudah dilakukan. Namun, kemudahan ini juga memunculkan fenomena baru dalam pengelolaan keuangan. Belakangan ini, istilah doom spending Gen Z semakin sering dibahas di media sosial maupun berbagai platform finansial.

Banyak anak muda yang mengaku tetap berbelanja meskipun kondisi ekonomi sedang tidak pasti atau tabungan belum mencapai target. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi tren global yang banyak dialami generasi muda.

Lalu, sebenarnya apa itu doom spending? Mengapa fenomena ini banyak terjadi pada Gen Z? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

BACA JUGA: Mengapa Gen Z Wajib Punya Catatan Keuangan Pribadi? Cek 7 Alasan dan Contohnya!

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah perilaku menghabiskan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap kecemasan, stres, ketidakpastian ekonomi, atau kekhawatiran terhadap masa depan.

Alih-alih menabung atau berinvestasi, seseorang yang mengalami doom spending cenderung membeli barang atau layanan untuk mendapatkan kepuasan instan dan mengurangi rasa cemas yang sedang dirasakan.

Secara umum, istilah ini berasal dari kata "doom" yang berarti kehancuran, kesuraman, atau ketidakpastian dan "spending" yang berarti pengeluaran atau aktivitas membelanjakan uang.

Ketika digabungkan, doom spending menggambarkan kebiasaan konsumtif yang dipicu oleh perasaan pesimis terhadap kondisi ekonomi, karier, atau masa depan. Pola pikir seperti ini dapat memicu keputusan finansial yang kurang sehat jika dilakukan secara terus-menerus.

Mengapa Doom Spending Gen Z Kini Semakin Marak?

Doom spending Gen Z semakin marak karena generasi ini menghadapi tekanan ekonomi, paparan media sosial yang tinggi, serta ketidakpastian masa depan yang memengaruhi kondisi psikologis dan keputusan keuangan mereka.

Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka mengalami berbagai perubahan besar, mulai dari pandemi, inflasi, perkembangan teknologi yang cepat, hingga meningkatnya biaya hidup.

Berikut beberapa faktor yang mendorong fenomena doom spending Gen Z.

1. Ketidakpastian Ekonomi

Banyak Gen Z merasa sulit mencapai target finansial yang dulu dianggap umum, seperti membeli rumah, memiliki kendaraan pribadi, menikah di usia muda, atau membangun dana pensiun sejak awal karier.

Ketika target tersebut terasa semakin sulit dicapai, sebagian orang memilih menikmati uang yang dimiliki saat ini daripada fokus pada tujuan jangka panjang.

2. Stres dan Kecemasan Berlebih

Tekanan pekerjaan, persaingan karier, dan kekhawatiran tentang masa depan dapat meningkatkan tingkat stres. Belanja sering kali dianggap sebagai bentuk "self-reward" atau pelarian sementara yang memberikan rasa senang dalam waktu singkat.

3. Pengaruh Media Sosial

Media sosial membuat seseorang terus-menerus melihat gaya hidup orang lain. Berbagai konten, seperti liburan mewah, gadget terbaru, fashion terkini, hingga kuliner viral, dapat memicu keinginan untuk membeli agar tidak merasa tertinggal.

4. Kemudahan Transaksi Digital

Saat ini hampir semua kebutuhan bisa dibeli secara online. Kemudahan seperti adanya mobile banking, e-wallet, paylater, dan kartu kredit digital, membuat proses pengeluaran uang jadi terasa lebih cepat dan sering kali kurang disadari.

5. Mencari Kepuasan Instan

Belanja dapat memicu pelepasan hormon dopamin yang menciptakan perasaan senang sementara. Sebagian orang juga kerap menjadikan aktivitas belanja sebagai cara untuk memperbaiki suasana hati ketika sedang sedih atau cemas karena efek ini.

6. Kebudayaan Konsumerisme yang Mengakar

Seperti yang diketahui, kini gaya hidup konsumtif sudah menjadi bagian dari budaya modern, khususnya di kalangan Gen Z. Keinginan untuk memiliki barang-barang terkini atau mengikuti tren fashion dan teknologi semakin menambah tekanan tambahan untuk terus berbelanja.

7. Kurangnya Pendidikan Finansial

Banyak Gen Z yang tidak mempunyai pemahaman yang cukup tentang keuangan pribadi. Kurangnya pendidikan finansial inilah yang membuat mereka cenderung membuat keputusan keuangan yang tidak bijaksana, termasuk juga perilaku doom spending.

BACA JUGA: 12 Tips Finansial Cerdas dan Praktis Gen Z untuk Wujudkan Tabungan Impian

Ciri-Ciri Doom Spending Gen Z

Beberapa ciri doom spending yang kerap dilakukan Gen Z dan perlu kamu waspadai, antara lain:

  • Membeli Barang untuk Menghilangkan Stres: Kamu sering membuka aplikasi belanja ketika sedang bosan, sedih, marah, atau cemas.
  • Sering Melakukan Impulsive Buying: Istilah ini merujuk pada kegiatan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
  • Tidak Memiliki Anggaran yang Jelas: Pengeluaran terus bertambah tanpa mengetahui berapa jumlah uang yang sudah dihabiskan setiap bulannya.
  • Menggunakan Paylater Secara Berlebihan: Memanfaatkan fasilitas cicilan untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
  • Menyesal Setelah Belanja: Setelah barang sampai, rasa senang yang kamu rasakan hanya bertahan sebentar, lalu digantikan dengan penyesalan atau kekhawatiran terhadap kondisi keuangan.

Dampak Doom Spending terhadap Kondisi Keuangan

Berbagai dampak yang sering terjadi akibat doom spending adalah sebagai berikut.

  • Sulit Membangun Dana Darurat: Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk konsumsi, dana darurat akan sulit terkumpul. Padahal dana darurat sangat penting untuk menghadapi situasi tak terduga.
  • Target Finansial Tertunda: Doom spending dapat membuat berbagai tujuan keuangan tertunda, seperti membeli rumah, melanjutkan pendidikan, menikah, atau memulai bisnis.
  • Meningkatkan Risiko Utang: Penggunaan kartu kredit atau paylater secara berlebihan dapat menciptakan beban cicilan yang semakin besar. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat mengganggu arus kas bulanan.
  • Menimbulkan Stres Finansial: Ironisnya, aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mengurangi stres justru dapat menciptakan stres baru karena kondisi keuangan memburuk.
  • Menghambat Pertumbuhan Kekayaan: Uang yang seharusnya dapat digunakan untuk menabung atau berinvestasi habis untuk kebutuhan konsumtif yang nilainya terus menurun.

Cara Mengatasi Doom Spending

Beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi doom spending adalah sebagai berikut.

1. Kenali Pemicu Emosional

Coba perhatikan kapan kamu paling sering berbelanja. Apakah saat kamu sedang stres, merasa kesepian, atau baru menerima gaji? Dengan memahami pemicunya, maka kamu bisa mencari alternatif yang lebih sehat untuk mengelola emosi.

2. Buat Anggaran Bulanan

Pisahkan pendapatan untuk beberapa kebutuhan utama, seperti kebutuhan sehari-hari, tagihan rutin, tabungan, dana darurat, dan hiburan. Anggaran yang terbatas pada tiap kebutuhan ini akan memudahkanmu untuk mengontrol pengeluaran.

3. Kurangi Paparan Konten Konsumtif

Jika sering tergoda berbelanja setelah melihat media sosial, cobalah untuk:

  • Mengurangi waktu scrolling
  • Unfollow akun yang memicu FOMO
  • Membatasi notifikasi promo

4. Tetapkan Tujuan Finansial yang Jelas

Orang yang memiliki tujuan keuangan biasanya lebih mudah menahan keinginan untuk berbelanja berlebihan. Tujuan yang jelas akan membuat setiap rupiah yang kamu miliki terasa lebih bermakna.

5. Otomatiskan Tabungan

Salah satu cara paling efektif menghindari doom spending adalah memindahkan sebagian uang ke tabungan segera setelah menerima gaji. Dengan begitu, dana yang tersedia untuk dibelanjakan menjadi lebih terkontrol.

6. Membangun Kesadaran Finansial

Cara selanjutnya untuk mengurangi doom spending adalah membangun kesadaran tentang kondisi finansial pribadi. Di sini, kamu bisa menyusun anggaran, melacak pengeluaran, dan memahami berapa banyak yang dapat dibelanjakan.

7. Kurangi Penggunaan Kartu Kredit atau Pinjaman

Berikutnya, kurangi penggunaan kartu kredit atau pinjaman. Cara ini akan membantumu mengurangi pengeluaran yang tidak perlu secara berlebihan.

8. Melatih Mindfulness dalam Keseharian

Melatih mindfulness juga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan tidak terikat dengan kondisi emosi negatif secara berlebihan. Kamu bisa fokus pada sesuatu yang dapat dikendalikan dan sesuai dengan kapasitas diri untuk mengurangi risiko doom spending.

BACA JUGA: Gen Z Tetap Bisa Beli Rumah Impian dengan 10 Tips Praktis Ini!

Mulai Bangun Kebiasaan Menabung untuk Menghindari Doom Spending Bersama Bank Saqu

Doom spending adalah kebiasaan membelanjakan uang secara berlebihan akibat rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap masa depan. Fenomena doom spending Gen Z kini semakin banyak terjadi karena kombinasi tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, serta kemudahan transaksi digital.

Dengan berbagai cara mengatasi seperti yang sudah dijelaskan di atas, kamu dapat menghindari dampak negatif doom spending sekaligus menjaga kesehatan finansial dalam jangka panjang.

Nah, menghindari doom spending akan lebih mudah jika kamu memiliki tempat menabung yang membantu mengelola uang secara terpisah dan terarah. Melalui Saku Nabung Bank Saqu, kamu bisa menyisihkan dana untuk berbagai tujuan finansial secara lebih disiplin dan terorganisir dengan suku bunga sebesar 2,5%*.

Dengan fitur yang memudahkan pengelolaan tabungan sesuai target, kamu dapat fokus membangun dana darurat, dana liburan, atau tujuan keuangan lainnya tanpa tergoda menggunakan uang untuk pengeluaran impulsif. Mulailah langkah kecil hari ini agar kondisi keuanganmu lebih sehat dan masa depan finansial terasa lebih aman.

*Efektif 10 Juli 2026