Saldo rekeningmu cepat menipis padahal belum lama gajian? Tandanya ada jenis pengeluaran yang belum kamu sadari menggerus dana lebih dari batas normal.
Pengeluaran ada banyak jenisnya. Mulai dari pengeluaran wajib sampai pengeluaran tambahan yang sifatnya sebagai pendukung. Masing-masing kategorinya memiliki peruntukan khusus dan porsi yang harus diatur sejak awal supaya setiap posnya tercukupi.
Bagi kamu yang sedang mulai mengatur keuangan agar lebih terukur, yuk, kenali dulu jenis-jenis pengeluaran lengkap dengan cara mengelolanya yang tepat. Simak baik-baik, ya!
BACA JUGA: Pengeluaran Membengkak? Ini Cara Mengatur Keuangan saat Biaya Hidup Naik
Apa Itu Jenis Pengeluaran?
Jenis pengeluaran adalah pengelompokan biaya yang perlu dibayarkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang mendukung kehidupan. Misalnya saja kebutuhan wajib, cicilan, gaya hidup, sampai tabungan.
Saat mulai merancang anggaran keuangan, memahami jenis-jenis pengeluaran adalah tahapan yang tidak boleh kamu lewatkan. Apabila kamu tidak memahaminya, pengeluaran kecil yang berulang saja bisa menjadi alasan terbesar cash flow kamu mengalami defisit.
Misalnya, biaya kuota internet dan jajan kopi yang terlihat kecil per transaksinya. Tapi kalau digabung dalam sebulan, totalnya bisa setara dengan separuh dari total belanja bulanan yang lebih bermanfaat untuk keseharian.
7 Jenis Pengeluaran yang Wajib Kamu Kenali
Jenis-jenis pengeluaran bisa dibagi berdasarkan tingkat kebutuhan dan fleksibilitasnya. Berikut ini adalah 7 kategori yang paling sering ditemui, termasuk untuk kamu yang punya penghasilan dari beberapa sumber.
1. Pengeluaran Cicilan dan Utang
Sebelum membagi dana ke pengeluaran kebutuhan wajib, pikirkan dulu pengeluaran cicilan dan utang, jika kamu punya. Persiapkan dulu biaya-biaya seperti cicilan kendaraan, KPR, atau paylater yang punya tenggat ketat.
Tipsnya, batasi total cicilan maksimal 30% dari pemasukan supaya cash flow tetap aman. Lalu, yang paling penting hindari menambah utang baru sebelum cicilan yang lama benar-benar lunas, ya.
2. Pengeluaran Rutin atau Wajib
Di kategori ini kamu bisa mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok, seperti makan, listrik, transportasi, dan internet. Idealnya, porsi pengeluaran rutin berada di kisaran 40-50% dari total pendapatan bulananmu.
Kalau totalnya sudah melewati itu, kamu wajib evaluasi lagi mana yang bisa ditekan atau diubah bentuknya. Misalnya mengubah paket internet ke paket yang lebih hemat.
3. Pengeluaran Tabungan dan Investasi
Jangan terlewat untuk membuat pos pengeluaran tabungan dan investasi, karena dari sinilah segala kebutuhan darurat bisa terpenuhi.
Sisihkan sekitar 10-20% pendapatan untuk dana darurat atau reksa dana. Kamu juga bisa kombinasikan keduanya agar simpananmu tetap bertumbuh dan menjadi tambahan yang cocok untuk jangka panjang. Jika kamu adalah pemula, reksa dana pasar uang atau deposito bisa jadi pilihan awal yang minim risiko.
4. Pengeluaran Gaya Hidup
Nonton, jajan kopi, hingga belanja online termasuk jenis pengeluaran yang satu ini. Kamu tetap wajib menganggarkan dengan catatan, porsinya hanya 20-25% pendapatan. Dari persentase itu, kamu bisa bagi porsinya secara seimbang per minggu atau per bulan.
5. Pengeluaran Sosial
Buat juga jenis pengeluaran khusus untuk sumbangan, zakat, atau bantuan keluarga. Dengan pos terpisah, kamu tetap bisa berbagi secara rutin tanpa mengganggu anggaran utama.
6. Pengeluaran Proteksi atau Asuransi
Biaya untuk hal tak terduga yang mungkin terjadi kedepannya juga perlu kategori pos khusus. Kamu bisa alokasikan pengeluaran ini ke dalam bentuk premi asuransi kesehatan atau asuransi kendaraan yang pertanggungannya bisa melindungi tabungan yang sudah kamu kumpulkan bertahun-tahun.
7. Pengeluaran Operasional Usaha
Buat kamu yang punya side job atau UMKM, modal belanja bahan, biaya iklan, sampai ongkir termasuk jenis pengeluaran tersendiri. Cara paling praktis adalah memisahkan rekening untuk kategori ini, supaya kamu bisa tahu untung-ruginya dengan akurat dan tidak campur aduk dengan uang pribadi.
Pengeluaran Tetap vs Pengeluaran Variabel, Jangan Sampai Tertukar
Ada lagi, nih, pengelompokan jenis-jenis pengeluaran berdasarkan sifatnya, yaitu pengeluaran tetap dan variabel. Pastinya cara mengaturnya pun berbeda.
1. Pengeluaran Tetap
Pengeluaran tetap adalah biaya yang pasti dibayarkan setiap bulan sesuai jadwal bayarnya, seperti uang sewa, internet, atau cicilan. Karena angkanya sudah pasti, pos ini paling mudah dimasukkan ke anggaran sejak awal bulan.
2. Pengeluaran Variabel
Selain pengeluaran yang jumlahnya sudah tetap, otomatis termasuk pengeluaran variabel yang jumlahnya terus berubah-ubah, seperti tagihan listrik, bensin, atau biaya makan. Supaya nggak boncos, kamu dapat atur batas atas belanjanya agar tidak pengeluaran tidak membengkak.
Cara Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros
Setelah tahu apa saja jenis-jenis pengeluaran, kamu juga harus paham dengan cara mengaturnya agar tidak ada kebutuhan atau wishlist keuangan yang terlewat. Seperti ini cara mengaturnya:
- Pakai metode persentase seperti 50/30/20. 50% untuk kebutuhan utama, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan dan investasi.
- Pisahkan dana ke setiap pos jenis pengeluaran sejak awal bulan. Kamu bisa gunakan kategori di atas supaya pengeluaran tetap sesuai budget.
- Catat seluruh transaksi harian. Sekecil apa pun pengeluaran, jangan lupa untuk selalu catat agar kamu tahu pola belanja sendiri.
- Hindari belanja impulsif. Jika ada keinginan seperti ini, kamu bisa tunda sampai 24 jam kedepan supaya keinginan belanjamu memudae.
- Evaluasi pengeluaran. Cara mengatur jenis-jenis pengeluaran akan lebih efektif lagi jika kamu rutin mengevaluasinya dan melihat pos mana yang bisa dipangkas.
- Otomatiskan transfer dana ke pos tabungan agar tidak tergoda memakainya untuk hal lain.
BACA JUGA: Pengeluaran Kecil yang Diam-diam Bikin Boros, Kamu Sadar Nggak?
Alokasikan Pendapatanmu Ke Berbagai Jenis Pengeluaran Menggunakan Fitur Saku Transaksi dari Bank Saqu!
Jenis-jenis pengeluaran teryata cukup banyak, ya? Tapi pemisahan ini memang sebaiknya tetap kamu lakukan supaya setiap pos pengeluaran punya plafon yang terukur dan membantu gaji kamu teralokasi dengan baik ke berbagai kebutuhan, keinginan, dan keadaan darurat.
Nah, kalau kamu pakai Saku Transaksi dari Bank Saqu, kamu bisa pisahkan berbagai pengeluaran sampai 20 saku, nih. Setiap sakunya bisa kamu namai sesuai keperluan yang bisa dihubungkan ke kartu debit. Setelah itu, saku kamu siap jadi sumber dana untuk transaksi via QRIS, deh. Praktis, kan?
Tenang, karena mulai dari alokasi dana ke berbagai pengeluaran sampai pembayaran semuanya terintegrasi dan tercatat di dalam aplikasi Bank Saqu. Yuk, download aplikasi Bank Saqu sekarang dan mulai buat keuanganmu lebih terukur dan teratur!





