Hi Warga Bank Saqu,
Pernah nggak, kamu sudah bikin budget bulanan, tapi baru beberapa minggu berjalan ternyata pengeluaran sudah melewati batas? Misalnya, awal bulan sudah menetapkan budget makan Rp1 juta, tapi sebelum gajian berikutnya ternyata sudah menghabiskan Rp1,3 juta.
Nah, kondisi seperti ini biasa disebut over budget.
Sederhananya, over budget artinya pengeluaran sudah melebihi anggaran yang sebelumnya ditentukan. Hal ini bisa terjadi karena banyak hal, mulai dari pengeluaran kecil yang terlalu sering, kebutuhan mendadak, sampai budget yang ternyata memang kurang sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Over budget sesekali tentu bukan berarti kondisi keuanganmu langsung berantakan. Yang penting, kamu tahu kenapa hal itu terjadi dan nggak membiarkannya menjadi kebiasaan.
Lalu, over budget adalah kondisi seperti apa dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, kita bahas!
Baca juga: Bagaimana Cara Mengatur Uang yang Baik? Intip Caranya di Sini!
Over Budget Artinya Apa?
Over budget artinya pengeluaran melebihi jumlah uang yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu.
Contohnya, kamu membuat budget hiburan sebesar Rp500 ribu untuk satu bulan. Tapi karena beberapa kali nongkrong, nonton, dan membeli tiket acara, total pengeluaranmu mencapai Rp750 ribu.
Artinya, kamu sudah over budget Rp250 ribu untuk kategori hiburan.
Hal yang sama bisa terjadi pada berbagai pengeluaran lain. Budget makan bisa terlewati karena terlalu sering pesan makanan, budget transportasi bisa membengkak karena lebih sering menggunakan transportasi online, atau budget belanja bisa habis lebih cepat karena ada promo yang menarik perhatian.
Jadi, over budget sebenarnya cukup sederhana untuk dikenali: uang yang keluar lebih besar daripada batas yang sudah kamu buat.
Kenapa Bisa Over Budget?
Kadang masalahnya bukan karena kamu boros. Bisa jadi budget yang dibuat memang belum menggambarkan kondisi pengeluaranmu yang sebenarnya.
1. Pengeluaran Kecil yang Terlalu Sering
Satu kali beli kopi mungkin nggak terasa besar. Begitu juga dengan biaya admin, ongkir, atau jajan kecil-kecilan.
Tapi coba kalau semuanya dilakukan berkali-kali dalam sebulan.
Pengeluaran yang kelihatannya kecil bisa terkumpul menjadi angka yang cukup besar. Kalau nggak dicatat, kamu mungkin baru sadar ketika saldo sudah jauh lebih sedikit dari perkiraan.
2. Ada Pengeluaran Mendadak
Nggak semua kebutuhan bisa diprediksi sejak awal bulan.
Misalnya kendaraan tiba-tiba perlu diperbaiki, harus membeli obat, atau ada kebutuhan keluarga yang sebelumnya nggak masuk perencanaan.
Pengeluaran seperti ini bisa membuat budget yang awalnya sudah cukup menjadi berantakan.
Makanya, punya sedikit ruang dalam budget untuk kebutuhan yang tidak terduga juga penting.
3. Budget Terlalu Ideal
Pernah membuat budget yang kelihatannya bagus di atas kertas, tapi susah banget dijalankan?
Misalnya, kamu biasanya menghabiskan Rp2 juta untuk makan dalam sebulan, tapi tiba-tiba menetapkan budget Rp1 juta karena ingin berhemat.
Niatnya bagus. Tapi kalau angka tersebut terlalu jauh dari kebiasaan sebenarnya, kemungkinan besar kamu akan kesulitan mempertahankannya.
Budget yang realistis justru lebih mudah dijalankan secara konsisten.
4. Belanja karena Promo
“Lumayan diskon 50%.”
Kalimat tersebut mungkin terdengar familiar. Promo memang bisa membantu menghemat uang kalau barang yang dibeli memang dibutuhkan.
Tapi kalau akhirnya membeli sesuatu hanya karena sedang diskon, pengeluaran tetap bertambah. Harga yang lebih murah bukan berarti gratis.
5. Pengeluaran Tidak Dicatat
Kalau kamu nggak tahu berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan, akan sulit mengetahui apakah masih berada dalam budget.
Ini alasan kenapa mencatat pengeluaran, sekecil apa pun, bisa membantu. Nggak harus selalu dilakukan secara rumit. Yang penting, kamu punya gambaran ke mana uangmu pergi.
Baca juga: Nabung Tanpa Sengsara, Ini 7 Cara Membagi Penghasilan Bulanan yang Efektif
Apa Dampaknya Kalau Sering Over Budget?
Kalau hanya terjadi sesekali dan masih bisa ditutupi dari dana yang tersedia, mungkin dampaknya nggak terlalu terasa.
Masalahnya muncul kalau over budget terjadi terus-menerus.
Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain bisa ikut terpakai. Target menabung jadi tertunda, dana darurat nggak bertambah, atau bahkan kebutuhan di akhir bulan harus ditutup dengan utang.
Kalau sudah seperti ini, masalahnya bukan lagi satu kategori pengeluaran yang melewati budget. Kondisinya mulai memengaruhi keseluruhan rencana keuangan.
Karena itu, over budget sebaiknya dijadikan sinyal untuk mengevaluasi pengeluaran, bukan sesuatu yang dibiarkan begitu saja.
Baca juga: Cara Menyusun Budget Lamaran agar Keuangan Tetap Aman
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Sudah Over Budget?
Tenang, nggak perlu langsung panik.
Kalau bulan ini pengeluaranmu sudah melewati budget, coba lihat dulu bagian mana yang membuat pengeluaran membengkak.
Misalnya, ternyata sebagian besar selisih berasal dari makan dan transportasi. Dari situ kamu bisa melihat apakah ada pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dikurangi selama sisa bulan.
Kalau ternyata penyebabnya adalah kebutuhan mendadak, kamu bisa mencatatnya sebagai bahan pertimbangan untuk membuat budget bulan berikutnya.
Jangan langsung membuat budget yang jauh lebih ketat hanya karena merasa bersalah. Lebih baik lihat pola pengeluaran selama beberapa bulan, lalu buat angka yang memang masuk akal untuk dijalankan.
Misalnya, kalau budget makan Rp1 juta selalu terlewati dan rata-rata pengeluaran sebenarnya sekitar Rp1,3 juta, mungkin yang perlu diperbaiki bukan sekadar memaksa budget menjadi Rp1 juta. Kamu bisa mencari tahu apakah ada cara mengurangi pengeluaran makan atau menyesuaikan budget menjadi lebih realistis.
Baca juga: 15 Cara Menabung Super Cepat, Bikin Saldomu Cepat Melonjak!
Biar Nggak Terus-terusan Over Budget
Salah satu cara yang cukup sederhana adalah mengecek pengeluaran secara berkala, bukan baru melihat saldo ketika uang hampir habis.
Kamu bisa melihat pengeluaran setiap beberapa hari untuk mengetahui apakah ada kategori yang mulai mendekati batas.
Cara ini membuat kamu punya waktu untuk menyesuaikan pengeluaran sebelum benar-benar melewati budget.
Selain itu, jangan lupa membuat ruang untuk tujuan keuangan yang ingin dicapai. Misalnya, kamu sedang menabung untuk liburan, membeli gadget, dana darurat, atau modal usaha.
Kalau tujuan tersebut hanya mengandalkan uang yang tersisa di akhir bulan, ada kemungkinan uangnya sudah habis duluan.
Punya Target Keuangan? Coba Gunakan Set Target
Nah, setelah tahu bagian mana yang sering membuatmu over budget, kamu bisa mulai memperbaiki kebiasaan tersebut sambil membuat target keuangan yang lebih jelas.
Misalnya, kamu ingin mengumpulkan Rp6 juta untuk liburan dalam enam bulan. Daripada hanya berharap ada uang yang tersisa setiap bulan, kamu bisa menentukan target dan jumlah yang perlu ditabung secara rutin.
Di Bank Saqu, ada fitur Set Target di Saku Nabung yang memungkinkan kamu menentukan jumlah dana dan target waktu yang ingin dicapai. Sistem juga dapat membantu menghitung kebutuhan menabung berdasarkan target tersebut.
Kalau ingin lebih praktis, kamu bisa mengaktifkan Nabung Terjadwal. Dana akan dialokasikan secara otomatis dari Saku sumber yang kamu pilih ke Saku Nabung sesuai jadwal dan nominal yang sudah ditentukan. Kamu juga bisa melihat perkembangan target dalam bentuk persentase.
Misalnya kamu punya target Rp6 juta dalam enam bulan. Dengan target yang jelas, kamu jadi tahu berapa yang perlu disiapkan secara rutin, bukan sekadar menabung kalau ada sisa.
Yuk, mulai bikin target keuanganmu dengan Set Target Bank Saqu!






