Jadi Solopreneur

Apa Itu Revenue? Ini Jenis dan Cara Menghitungnya

22 Okt 2026

thumbnail

Revenue adalah total pendapatan yang diperoleh perusahaan dari penjualan produk atau jasa dalam periode tertentu, sebelum dikurangi berbagai biaya dan beban yang relevan. Istilah ini penting dalam dunia bisnis karena dapat membantu perusahaan mengevaluasi hasil penjualan dan memahami perkembangan usahanya.

Lantas, apa itu revenue dan bagaimana cara menghitungnya? Revenue tidak selalu sama dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Bisnis bisa mencatat pendapatan penjualan yang besar, tetapi tetap mengalami kerugian ketika biaya operasional dan beban lainnya lebih tinggi daripada pendapatan yang dihasilkan. Untuk memahami perbedaannya, simak penjelasan mengenai jenis revenue, rumus perhitungan, dan contoh kasus berikut.

BACA JUGA: Jangan Sampai Salah Pilih! Pelajari 7 Perbedaan Tabungan dan Investasi

Apa Itu Revenue? 

Revenue merupakan pendapatan yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas bisnis selama periode tertentu. Dalam laporan laba rugi, revenue sering disebut sebagai top line karena umumnya ditampilkan di bagian atas laporan sebelum berbagai biaya dan beban dikurangkan.

Pendapatan ini dapat berasal dari penjualan barang, pemberian jasa, biaya berlangganan, atau aktivitas lain yang menghasilkan pendapatan sesuai model bisnis perusahaan.

Sebagai contoh, sebuah toko pakaian menjual 500 potong baju dengan harga Rp100.000 per potong. Jika seluruh produk terjual dan belum memperhitungkan retur atau diskon, total revenue yang diperoleh adalah Rp50.000.000.

Namun, angka tersebut belum menunjukkan keuntungan yang sebenarnya. Perusahaan masih perlu memperhitungkan biaya pembelian barang, gaji karyawan, sewa tempat, biaya pemasaran, pajak, dan beban lainnya sesuai ketentuan akuntansi yang berlaku.

Dengan demikian, revenue dapat digunakan untuk menilai kemampuan bisnis menghasilkan pendapatan, tetapi perlu dianalisis bersama indikator keuangan lainnya untuk mengetahui kondisi usaha secara menyeluruh.

Jenis-Jenis Revenue dalam Bisnis

Revenue dapat dibedakan berdasarkan sumber dan pola pendapatannya. Memahami jenis-jenisnya membantu perusahaan mengidentifikasi sumber pemasukan utama sekaligus menentukan strategi untuk mengembangkan bisnis.

1. Operating Revenue

Operating revenue atau pendapatan operasional adalah pendapatan yang diperoleh dari kegiatan utama perusahaan. Jenis pendapatan ini biasanya menjadi sumber pemasukan utama yang mendukung keberlangsungan bisnis.

Contohnya, perusahaan makanan memperoleh pendapatan dari penjualan produk, agensi digital mendapatkan pemasukan dari jasa pemasaran, dan perusahaan transportasi menerima pendapatan dari layanan pengangkutan penumpang.

Besarnya operating revenue dapat membantu perusahaan mengevaluasi permintaan pasar terhadap produk atau layanan yang ditawarkan.

2. Non-Operating Revenue

Non-operating revenue merupakan pendapatan yang berasal dari aktivitas di luar kegiatan utama perusahaan. Sumbernya dapat berupa bunga deposito, pendapatan sewa properti yang bukan merupakan kegiatan inti bisnis, atau dividen dari investasi saham.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur memperoleh pendapatan utama dari penjualan barang produksi. Di luar kegiatan tersebut, perusahaan juga menerima bunga dari simpanan berjangka di bank.

Bunga tersebut dapat menjadi pendapatan nonoperasional, bergantung pada aktivitas bisnis utama dan kebijakan penyajian laporan keuangan perusahaan.

3. Recurring Revenue

Recurring revenue adalah pendapatan yang diterima secara berulang dalam periode tertentu. Model pendapatan ini banyak ditemukan pada bisnis berbasis langganan atau keanggotaan.

Contohnya adalah perusahaan perangkat lunak yang mengenakan biaya berlangganan bulanan, pusat kebugaran dengan biaya keanggotaan, atau layanan digital yang menerapkan paket berlangganan tahunan.

Pendapatan berulang dapat membantu bisnis memperkirakan pemasukan pada periode mendatang. Meski begitu, jumlahnya tetap dapat berubah apabila pelanggan berhenti berlangganan, mengganti paket, atau tidak memperpanjang layanan.

4. Transaction-Based Revenue

Transaction-based revenue merupakan pendapatan yang diperoleh dari transaksi penjualan produk atau jasa. Besarnya pendapatan bergantung pada jumlah transaksi yang berhasil dilakukan dan nilai setiap transaksi.

Contohnya, toko elektronik mendapatkan pemasukan dari setiap penjualan ponsel, sedangkan restoran memperoleh pendapatan dari pesanan makanan dan minuman pelanggan.

Untuk meningkatkan pendapatan dari jenis ini, perusahaan dapat memperluas jangkauan pemasaran, meningkatkan jumlah pelanggan, atau menawarkan produk tambahan yang relevan.

5. Project Revenue

Project revenue adalah pendapatan yang berkaitan dengan proyek atau kontrak kerja tertentu. Jenis pendapatan ini umum ditemukan pada perusahaan konstruksi, konsultan, agensi kreatif, dan penyedia jasa profesional.

Sebagai contoh, sebuah agensi desain mendapatkan kontrak senilai Rp80.000.000 untuk mengerjakan proyek identitas merek perusahaan. Pendapatan proyek tersebut diakui sesuai dengan pemenuhan kewajiban kontrak dan ketentuan akuntansi yang berlaku, bukan selalu sekaligus ketika kontrak ditandatangani.

Karena bergantung pada proyek yang diperoleh, bisnis perlu mengelola arus kas dan merencanakan proyek berikutnya agar kegiatan operasional tetap berjalan.

Cara Menghitung Revenue dan Contoh Kasusnya

Cara menghitung revenue bergantung pada jenis pendapatan yang ingin diketahui. Beberapa metrik yang umum digunakan adalah total revenue, average revenue, marginal revenue, dan net revenue.

Berikut rumus dan contoh perhitungannya.

1. Total Revenue (TR)

Total revenue adalah jumlah seluruh pendapatan penjualan yang diperoleh dari produk atau jasa dalam periode tertentu.

Rumus:

Total Revenue = Harga Jual per Unit × Jumlah Unit Terjual

Contoh kasus:

Sebuah usaha pakaian menjual 500 potong baju dengan harga Rp100.000 per potong selama satu bulan. Jika tidak ada retur atau diskon, perhitungan total revenue-nya adalah:

Total Revenue = Rp100.000 × 500

Total Revenue = Rp50.000.000

Artinya, perusahaan memperoleh pendapatan penjualan sebesar Rp50 juta selama bulan tersebut sebelum dikurangi biaya dan beban lainnya.

2. Average Revenue (AR)

Average revenue adalah pendapatan rata-rata yang diperoleh dari setiap unit produk atau jasa yang terjual. Metrik ini berguna untuk mengetahui rata-rata pendapatan per unit penjualan.

Rumus:

Average Revenue = Total Revenue ÷ Jumlah Unit Terjual

Contoh kasus:

Menggunakan data usaha pakaian sebelumnya, total revenue mencapai Rp50.000.000 dari penjualan 500 potong baju.

Average Revenue = Rp50.000.000 ÷ 500

Average Revenue = Rp100.000 per potong

Hasil tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh pendapatan rata-rata Rp100.000 untuk setiap potong baju yang terjual. Jika terdapat beberapa produk dengan harga berbeda, perhitungan ini menggunakan total pendapatan dibagi dengan seluruh unit yang terjual.

3. Marginal Revenue (MR)

Marginal revenue adalah tambahan pendapatan yang diperoleh ketika perusahaan menjual satu unit tambahan atau menambah jumlah penjualan. Metrik ini membantu perusahaan menilai perubahan pendapatan akibat peningkatan volume penjualan.

Rumus:

Marginal Revenue = Perubahan Total Revenue ÷ Perubahan Jumlah Unit Terjual

Contoh kasus:

Sebuah toko memperoleh pendapatan Rp5.000.000 ketika menjual 100 produk. Pada periode berikutnya, penjualan meningkat menjadi 110 produk dan total pendapatan mencapai Rp5.400.000.

Perubahan Total Revenue = Rp5.400.000 − Rp5.000.000 = Rp400.000

Perubahan Jumlah Unit = 110 − 100 = 10 unit

Marginal Revenue = Rp400.000 ÷ 10

Marginal Revenue = Rp40.000 per unit tambahan

Artinya, rata-rata tambahan pendapatan untuk setiap unit tambahan yang terjual dalam rentang tersebut adalah Rp40.000. Nilai ini merupakan rata-rata marginal revenue pada rentang penjualan tersebut, bukan selalu pendapatan dari satu unit terakhir.

4. Net Revenue

Net revenue adalah pendapatan penjualan setelah dikurangi retur, diskon, dan potongan penjualan yang relevan. Angka ini membantu perusahaan mengetahui nilai pendapatan yang tersisa setelah penyesuaian penjualan.

Rumus sederhana:

Net Revenue = Gross Revenue − Retur Penjualan − Diskon Penjualan

Contoh kasus:

Sebuah toko mencatat penjualan kotor sebesar Rp50.000.000 dalam satu bulan. Selama periode tersebut, terdapat retur senilai Rp2.000.000 dan diskon penjualan sebesar Rp3.000.000.

Perhitungan net revenue:

Net Revenue = Rp50.000.000 − Rp2.000.000 − Rp3.000.000

Net Revenue = Rp45.000.000

Artinya, pendapatan bersih dari penjualan setelah retur dan diskon adalah Rp45 juta. Angka tersebut belum dikurangi biaya operasional, beban bunga, pajak, dan komponen lain yang diperhitungkan untuk menentukan laba.

Perbedaan Revenue dan Profit

Revenue dan profit sering dianggap sama, padahal keduanya menunjukkan hal yang berbeda. Revenue mengukur pendapatan yang dihasilkan bisnis, sedangkan profit atau laba menunjukkan sisa hasil usaha setelah biaya dan beban terkait diperhitungkan.

Perhatikan contoh berikut.

Sebuah toko memperoleh revenue Rp50.000.000 dalam satu bulan. Untuk menjalankan bisnisnya, toko tersebut mengeluarkan biaya pembelian barang sebesar Rp30.000.000, biaya operasional sebesar Rp10.000.000, serta beban lainnya sebesar Rp2.000.000.

Perhitungan sederhananya:

  • Revenue: Rp50.000.000
  • Total biaya dan beban yang diperhitungkan: Rp42.000.000
  • Laba sebelum pajak: Rp8.000.000

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa pendapatan penjualan sebesar Rp50 juta tidak berarti seluruh uang tersebut menjadi keuntungan pemilik usaha. Setelah biaya dan beban diperhitungkan, laba sebelum pajak yang tersisa adalah Rp8 juta.

Dalam praktik akuntansi, perhitungan laba juga bergantung pada klasifikasi biaya, pengakuan pendapatan, dan periode pelaporannya.

Mengapa Revenue Penting bagi Bisnis?

Revenue menjadi salah satu indikator yang diperhatikan ketika perusahaan mengevaluasi kinerja bisnis. Meski tidak cukup untuk menilai kesehatan keuangan secara keseluruhan, data revenue dapat memberikan gambaran tentang perkembangan pendapatan perusahaan.

Berikut beberapa manfaatnya.

1. Mengukur perkembangan penjualan

Perusahaan dapat membandingkan revenue antarbulan atau antartahun untuk melihat apakah pendapatan meningkat, menurun, atau relatif stabil.

2. Mengevaluasi strategi pemasaran

Perubahan pendapatan dapat membantu perusahaan menilai hasil promosi, peluncuran produk, atau perluasan pasar. Namun, analisis sebaiknya juga mempertimbangkan perubahan harga dan kondisi pasar.

3. Membantu perencanaan bisnis

Data revenue historis dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk menyusun target penjualan, memperkirakan kebutuhan persediaan, dan merencanakan pengeluaran.

4. Menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan

Manajemen dapat mengevaluasi produk atau layanan yang menghasilkan pendapatan terbesar. Informasi ini kemudian dapat digunakan bersama data biaya dan margin keuntungan untuk menentukan prioritas pengembangan bisnis.

BACA JUGA: 11 Cara Mengatur Keuangan Pribadi yang Realistis dan Efektif

Dukung Pengelolaan Keuangan Bisnis dengan Giro Bank Saqu

Memahami revenue membantu perusahaan mengevaluasi pendapatan, tetapi pengelolaan keuangan bisnis juga membutuhkan sistem transaksi yang teratur. Dengan memisahkan kebutuhan transaksi bisnis dan keuangan pribadi, perusahaan dapat memantau arus dana serta merencanakan pembayaran operasional dengan lebih terarah.

Giro Bank Saqu menawarkan Giro Jasa dan Giro Premium untuk mendukung kebutuhan transaksi bisnis nasabah perorangan maupun badan usaha. Giro Jasa menyediakan bunga progresif berdasarkan saldo rata-rata harian serta akses penarikan menggunakan cek atau bilyet giro sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu, Giro Premium menawarkan layanan eksklusif dengan pendampingan Relationship Manager (RM) untuk membantu memenuhi kebutuhan transaksi bisnis.

Kedua produk ini mendukung kebutuhan transaksi seperti transfer dana dan pemindahbukuan. Giro Bank Saqu juga menyediakan fitur autodebet dan standing instruction untuk membantu mengatur pembayaran rutin sesuai ketentuan layanan.

Jika ingin membuka rekening giro, kamu dapat mengunjungi kantor cabang Bank Saqu dengan membawa dokumen persyaratan yang diperlukan. Untuk nasabah perorangan, dokumen yang dibutuhkan mencakup e-KTP, NPWP, serta formulir pembukaan rekening. Sementara itu, badan usaha perlu menyiapkan dokumen legalitas perusahaan dan identitas pengurus atau beneficial owner sesuai persyaratan bank.

Yuk, pelajari lebih lanjut produk Giro Bank Saqu dan Giro Premium untuk menemukan solusi transaksi yang sesuai dengan kebutuhan bisnismu. Dengan pengelolaan pendapatan dan transaksi yang lebih terstruktur, kamu bisa mengambil keputusan keuangan berdasarkan informasi yang lebih jelas. Yuk download Bank Saqu sekarang!

Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.