Ketika bank menyalurkan kredit, tidak semua pinjaman selalu berjalan sesuai jadwal pembayaran. Ada debitur yang mengalami keterlambatan hingga akhirnya tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam pengelolaan risiko kredit. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk melihat kualitas kredit adalah NPL atau Non Performing Loan.
Baca juga: Apa Itu Prepayment dalam Pinjaman? Kenali Arti dan Fungsinya
Apa Itu NPL?
NPL (Non Performing Loan) adalah rasio yang menunjukkan besarnya kredit bermasalah dibandingkan dengan total kredit yang disalurkan oleh bank.
Kredit disebut bermasalah ketika pembayaran kewajibannya sudah tidak berjalan sesuai ketentuan. Dalam penilaian kualitas kredit perbankan, kredit bermasalah umumnya mencakup kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet.
Semakin besar jumlah kredit bermasalah yang dimiliki bank, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap risiko kredit tersebut.
Apa Fungsi NPL?
NPL digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat kualitas portofolio kredit suatu bank.
Bank menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk berbagai jenis kredit. Dalam prosesnya, selalu ada risiko bahwa sebagian debitur mengalami kesulitan membayar. Rasio NPL membantu memberikan gambaran mengenai seberapa besar bagian kredit yang masuk kategori bermasalah.
Karena itu, NPL juga berkaitan dengan bagaimana bank mengelola risiko ketika menyalurkan kredit.
Rumus NPL
Rumus NPL secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:
NPL = Total Kredit Bermasalah ÷ Total Kredit × 100%
Sebagai contoh, sebuah bank memiliki total kredit yang disalurkan sebesar Rp500 miliar. Dari jumlah tersebut, terdapat kredit bermasalah sebesar Rp10 miliar.
Maka:
Rp10 miliar ÷ Rp500 miliar × 100% = 2%
Artinya, NPL dalam contoh tersebut adalah 2%.
Perhitungan sebenarnya dapat mengikuti definisi dan basis yang digunakan dalam pelaporan perbankan, sehingga angka pada laporan resmi perlu dibaca bersama keterangan yang menyertainya.
Apa Arti NPL yang Tinggi?
NPL yang tinggi menunjukkan bahwa proporsi kredit bermasalah dalam portofolio kredit bank juga lebih besar.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kerugian karena bank perlu melakukan pengelolaan dan pencadangan terhadap kredit yang bermasalah. Jika kredit yang tidak tertagih semakin besar, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi kinerja bank.
Namun, satu angka NPL sebaiknya tidak dilihat sendirian. Untuk menilai kondisi sebuah bank secara lebih menyeluruh, diperlukan indikator dan informasi lain dari laporan keuangan maupun laporan publikasi bank.
Apa Arti NPL yang Rendah?
Sebaliknya, NPL yang lebih rendah menunjukkan bahwa proporsi kredit bermasalah relatif lebih kecil dibandingkan total kredit.
Meski begitu, NPL rendah bukan berarti bank sama sekali tidak memiliki risiko kredit. Risiko tetap ada selama bank menyalurkan pembiayaan kepada debitur.
Karena itu, bank perlu melakukan berbagai langkah pengelolaan risiko, mulai dari proses analisis calon debitur, pemantauan pembayaran, sampai penanganan ketika terjadi masalah dalam pembayaran kredit.
Apa Penyebab Kredit Menjadi Bermasalah?
Ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan debitur mengalami kesulitan membayar cicilan.
Pada individu, misalnya, perubahan kondisi keuangan dapat membuat kemampuan membayar menurun. Sementara pada bisnis, penurunan penjualan, masalah arus kas, atau keterlambatan pembayaran dari pelanggan dapat memengaruhi kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.
Faktor ekonomi yang lebih luas juga dapat memberikan dampak terhadap kemampuan debitur membayar kredit. Karena itu, pengelolaan risiko kredit tidak hanya melihat kondisi saat pinjaman diberikan, tetapi juga perkembangan kemampuan debitur selama masa kredit.
Baca juga: 5 Perbedaan Bunga Flat dan Efektif dalam Kredit dan Cicilan
Apa Dampak NPL bagi Bank?
Kredit bermasalah dapat memberikan beberapa dampak terhadap bank.
- Meningkatkan risiko kerugian: Semakin banyak kredit bermasalah, semakin besar potensi dana yang tidak kembali sesuai jadwal.
- Membutuhkan pencadangan: Bank perlu memperhitungkan risiko kerugian yang mungkin muncul dari kredit yang diberikan
- Mempengaruhi pendapatan: Kredit yang bermasalah dapat mengganggu penerimaan pembayaran bunga maupun pokok sesuai jadwal.
- Mendorong pengelolaan kredit yang lebih ketat: Bank perlu memastikan proses analisis, pemberian, dan pemantauan kredit berjalan dengan baik untuk menjaga kualitas portofolio.
Baca juga: Apa Itu Loan to Value (LTV)? Ini Penjelasannya dalam KPR dan Pinjaman
NPL dan Kebiasaan Mengelola Keuangan
Konsep NPL memang digunakan dalam industri perbankan, tetapi masalah kredit bermula dari kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.
Karena itu, bagi calon peminjam, penting untuk menghitung kebutuhan dana dan kemampuan membayar sebelum mengajukan kredit. Jangan hanya mempertimbangkan jumlah dana yang bisa diperoleh, tetapi juga cicilan dan seluruh kewajiban yang akan muncul selama tenor.
Untuk kebutuhan menabung, Bank Saqu menyediakan Saku Nabung yang dapat digunakan untuk menyimpan dana sesuai kebutuhan dan tujuan finansial. Kamu juga bisa memanfaatkan fitur Set Target untuk membantu menyiapkan dana secara lebih terarah.
Dengan memahami kondisi keuangan sebelum mengambil pinjaman dan menyiapkan dana untuk kebutuhan mendatang, kewajiban kredit bisa lebih mudah disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Yuk, download Bank Saqu dan mulai kelola tabungan serta rencanakan kebutuhan keuanganmu dari satu aplikasi.






