Saku 101

Literasi Keuangan: Pengertian, Manfaat, Prinsip, dan Cara Menerapkannya

thumbnail

Literasi keuangan adalah kemampuan memahami dan menerapkan konsep keuangan, mulai dari menyusun anggaran, menabung, berinvestasi, sampai mengelola utang. 

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57%, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 93,61%. 

Selisih ini menunjukkan masih banyak orang yang sudah memakai produk keuangan tanpa memahami detail, manfaat, dan risikonya. 

Artikel ini membahas prinsip dasar literasi keuangan beserta cara membangunnya, khususnya untuk kamu yang baru mulai menata keuangan sendiri.

BACA JUGA: Mengenal Tabungmatic Bank Saqu Lewat Good Gesture

Apa Itu Literasi Keuangan?

Literasi keuangan mencakup pemahaman tentang cara uang bekerja, penyusunan anggaran, pengelolaan utang, pemilihan instrumen investasi, sampai perencanaan masa depan. 

Jadi, orang dengan literasi keuangan yang baik tidak hanya tahu cara menabung, tapi juga paham cara menilai risiko sebuah produk keuangan sebelum memakainya.

Cakupannya juga meluas ke hal-hal seperti pajak, dana pensiun, serta cara membedakan platform keuangan resmi dari yang bodong. 

Dengan pemahaman tersebut, kamu bisa menghindari kesalahan finansial, seperti mengambil utang berbunga tinggi atau membelanjakan lebih dari kemampuanmu.

Kondisi Literasi Keuangan Kelompok Usia Muda

Masih berdasarkan SNLIK 2026, kelompok usia 15 sampai 17 tahun punya indeks literasi keuangan terendah, yaitu 56,04%, sedangkan kelompok usia 26 sampai 35 tahun justru tertinggi dengan 78,70%. Artinya, kelompok yang paling awal berkenalan dengan layanan keuangan digital ternyata paling sedikit bekalnya.

Kondisi ini terjadi karena beberapa hal. Salah satunya, banyak anak muda mengandalkan konten media sosial sebagai sumber belajar keuangan, sedangkan informasi di sana tidak selalu akurat. 

Selain itu, produk seperti investasi dan asuransi sering terasa sulit dipahami, sehingga banyak yang menunda mempelajarinya.

1. Utang dari Berbagai Sumber

Sumber utang anak muda sekarang tidak hanya kartu kredit, tapi juga paylater dan platform pinjaman online yang aksesnya sangat mudah. Kemudahan ini membuat sebagian orang mengambil pinjaman tanpa menghitung kemampuan bayarnya, sehingga cicilannya menumpuk.

2. Kewajiban Pajak yang Mulai Berlaku

Begitu mulai bekerja atau membuka usaha sendiri, kamu akan berhadapan dengan kewajiban pajak. Pelaku usaha biasanya menghadapi perhitungan yang lebih kompleks dibandingkan karyawan berpenghasilan tetap, sehingga perlu memahami ketentuannya lebih awal.

3. Risiko Investasi dan Penipuan

Ketakutan kehilangan uang membuat sebagian orang enggan berinvestasi, terlebih instrumen berisiko tinggi, seperti saham dan aset kripto. 

Di sisi lain, banyak platform yang menawarkan kemudahan berinvestasi tanpa izin resmi, sehingga risiko penipuannya juga nyata.

Manfaat Literasi Keuangan dalam Praktik

Literasi keuangan memberi dampak yang bisa kamu rasakan langsung dalam pengelolaan uang sehari-hari.

  • Keputusan keuangan yang lebih terukur, sebab kamu bisa membandingkan produk, menghitung bunga, dan menilai risiko sebelum memutuskan.
  • Terhindar dari lingkaran utang, karena kamu tahu kapan sebaiknya meminjam dan berapa besar cicilan yang masih sanggup kamu bayar.
  • Kesiapan menghadapi kondisi tak terduga, misalnya kehilangan pekerjaan atau kenaikan harga barang, sebab kamu sudah menyiapkan dana darurat.
  • Kemampuan memilih instrumen investasi, sehingga danamu ditempatkan sesuai tujuan dan profil risikomu.
  • Kemampuan mengenali platform bodong, karena kamu tahu cara mengecek izin sebuah lembaga keuangan.

Prinsip Dasar Literasi Keuangan yang Perlu Kamu Pahami

Setelah tahu manfaatnya, berikut prinsip-prinsip yang bisa kamu terapkan dalam mengelola keuangan pribadi.

1. Pengelolaan Anggaran

Mulai dengan mencatat berapa uang yang masuk dan keluar setiap bulan, lalu pisahkan pengeluaranmu berdasarkan kategori, yaitu kebutuhan pokok, keinginan, serta tabungan dan investasi. 

Salah satu metode yang mudah diterapkan adalah 50/30/20, yaitu 50% penghasilan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi.

2. Menabung dan Menyiapkan Dana Darurat

Siapkan dana darurat setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran bulananmu untuk keadaan mendesak, seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Simpan dana ini terpisah dari tabungan harian, sehingga tidak terpakai untuk kebutuhan lain. 

Selain dana darurat, sisihkan juga tabungan untuk tujuan jangka panjang seperti membeli rumah atau biaya pendidikan.

3. Mengelola Utang dan Memahami Skor Kredit

Pahami cara kerja suku bunga, tenor, dan dampak keterlambatan pembayaran terhadap skor kreditmu di SLIK OJK. 

Hindari juga utang konsumtif untuk barang yang tidak kamu butuhkan, lalu pastikan total cicilan bulananmu tidak melebihi 30% dari penghasilan. 

Jika kamu mulai kesulitan membayar, segera hubungi pemberi pinjaman untuk membicarakan restrukturisasi.

4. Investasi Sesuai Tujuan

Pelajari karakteristik masing-masing instrumen sebelum menempatkan dana, baik saham, reksa dana, emas, deposito, maupun properti. 

Setiap instrumen punya tingkat risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda, jadi sesuaikan pilihanmu dengan jangka waktu dan tujuan keuanganmu.

5. Diversifikasi Aset

Hindari menempatkan seluruh danamu pada satu jenis aset saja. Kalau kamu sudah berinvestasi di saham, misalnya, pertimbangkan juga instrumen lain, seperti reksa dana atau emas. 

Tujuannya agar nilai portofoliomu tetap terjaga ketika salah satu aset sedang turun.

6. Perencanaan Pensiun Sejak Dini

Mulai menyiapkan dana pensiun sejak awal karier, sebab semakin panjang jangka waktunya, semakin ringan nominal yang perlu kamu sisihkan setiap bulan. 

Kamu bisa memanfaatkan program pensiun dari tempat kerja atau menyiapkannya sendiri lewat instrumen investasi jangka panjang.

Cara Membangun Literasi Keuanganmu

Prinsip di atas akan lebih mudah kamu terapkan lewat langkah-langkah praktis berikut.

1. Manfaatkan Kanal Digital untuk Belajar

Belajar keuangan sekarang bisa lewat aplikasi budgeting, podcast finansial, atau kanal edukasi resmi. Untuk sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, kamu bisa mengakses Sikapi Uangmu yang dikelola OJK.

2. Terapkan Langsung dalam Praktik Sehari-hari

Terapkan langsung apa yang kamu pelajari, misalnya mencatat pengeluaran selama satu bulan penuh, lalu mengevaluasi pos mana yang paling besar. 

Praktik semacam ini lebih membekas dibandingkan membaca teori tanpa penerapan.

3. Verifikasi Sumber Informasi Keuangan

Cek dulu latar belakang orang atau akun yang membagikan tips keuangan, terutama jika mereka merekomendasikan produk tertentu. 

Untuk urusan legalitas lembaga keuangan, cocokkan namanya dengan daftar resmi di situs OJK.

4. Tetapkan Tujuan Keuangan yang Konkret

Ubah niat umum seperti "ingin hemat" menjadi target yang terukur, misalnya menyisihkan Rp500.000 per bulan selama setahun untuk dana darurat. 

Target yang jelas memudahkanmu menilai apakah rencanamu berjalan atau perlu disesuaikan.

5. Bangun Kebiasaan Menabung Lebih Dulu

Sisihkan dana untuk tabungan segera setelah menerima penghasilan, bukan menunggu sisa di akhir bulan. 

Setelah dana daruratmu terkumpul, kamu bisa mulai mempelajari instrumen investasi untuk menambah sumber penghasilan.

Literasi keuangan terbangun secara bertahap lewat kebiasaan yang kamu jalankan setiap bulan, mulai dari mencatat pengeluaran sampai mengecek legalitas produk sebelum memakainya. 

Selalu pastikan platform tempat kamu menabung, berinvestasi, atau mengajukan pinjaman sudah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan.

BACA JUGA: Good Gesture: Menyapa Teman Tuli dengan Literasi Keuangan Inklusif

Kelola Kebutuhan Danamu Lewat Saku Kredit dari Bank Saqu!

Salah satu penerapan literasi keuangan adalah memilih produk pinjaman yang legal dengan biaya yang disampaikan secara terbuka. Saku Kredit dari Bank Saqu menawarkan pinjaman fleksibel dengan limit sampai Rp30 juta, tenor cicilan sampai 24 bulan, dan bunga mulai dari 2% p.a.

Lewat Saku Kredit, kamu bisa menarik pinjaman tunai atau mengubah transaksi yang sudah selesai menjadi cicilan, semuanya langsung dari aplikasi. 

Bank Saqu berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), sehingga bunga dan biayanya jelas sejak awal.

Cek syarat lengkap dan cara pengajuannya, lalu buka rekening Bank Saqu lewat aplikasi di Android atau iOS.

Referensi: 

Badan Pusat Statistik. INDEKS LITERASI DAN INKLUSI KEUANGAN MASYARAKAT MENINGKAT. OJK, LPS, dan BPS Umumkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026

Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.