Asupan Warga

Saham dan Obligasi, Mana yang Cocok Buatmu? Ini Perbedaannya!

05 Nov 2025

thumbnail

Kalau kamu mulai tertarik dengan dunia investasi, dua istilah yang pasti sering kamu dengar tentunya adalah saham dan obligasi. Keduanya sama-sama termasuk instrumen investasi yang populer di pasar modal, tapi punya perbedaan dari karakteristik, keuntungan, dan risikonya.

Banyak orang yang baru belajar investasi sering bingung dengan perbedaan kedua jenis investasi tersebut. Apalagi yang masih pemula, tentunya harus mencari tahu mana yang lebih aman dan cocok dicoba untuk mulai berinvestasi.

Nah, biar kamu nggak salah pilih, simak dulu penjelasan soal perbedaan saham dan obligasi, mulai dari pengertian, cara kerjanya, sampai tips memilihnya di bawah ini!

Apa Itu Saham?

Sederhananya, saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Ketika kamu membeli saham, kamu sebenarnya sedang membeli sebagian kecil dari perusahaan tersebut atau istilahnya kamu menjadi “pemilik” atau shareholder.

Sebagai pemilik, kamu berhak atas bagian keuntungan perusahaan yang biasanya dibagikan dalam bentuk dividen. Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain). Tapi sebaliknya, kalau harga saham turun, kamu juga bisa mengalami capital loss.

Contohnya seperti ini:
Kamu membeli 100 lembar saham perusahaan A dengan harga Rp2.000 per lembar. Total modal kamu Rp200.000. 

Beberapa bulan kemudian, harga saham naik jadi Rp3.000 per lembar. Kalau kamu jual, kamu dapat Rp300.000, artinya kamu untung Rp100.000 (tidak termasuk biaya transaksi).

Tapi kalau harga turun jadi Rp1.500, dan kamu jual, maka kamu rugi Rp50.000. Jadi, saham punya potensi keuntungan tinggi, tapi juga risiko yang cukup besar.

Menurut Investopedia, saham sebagian besar diperjualbelikan di bursa efek. Lalu, saham yang tercatat di bursa efek diwajibkan untuk mematuhi peraturan pemerintah yang bertujuan untuk melindungi investor dari praktik penipuan.

Apa Itu Obligasi?

Nah, kalau obligasi sedikit berbeda. Obligasi adalah surat utang. Ketika membeli obligasi, kamu bukan menjadi pemilik perusahaan, melainkan pemberi pinjaman kepada penerbit obligasi, bisa perusahaan (corporate bond) atau pemerintah (government bond).

Sebagai imbalannya, penerbit obligasi akan membayar bunga (kupon) secara berkala dan mengembalikan pokok utang pada saat jatuh tempo.

Contohnya seperti ini:
Kamu membeli obligasi pemerintah senilai Rp10 juta dengan kupon 6% per tahun dan tenor 3 tahun. Artinya, kamu akan menerima bunga Rp600.000 setiap tahun selama 3 tahun, dan di akhir masa jatuh tempo kamu akan menerima kembali modal Rp10 juta.

Jadi, obligasi lebih mirip seperti kamu “meminjamkan uang” ke pihak lain dan mendapatkan imbal hasil tetap.

Perbedaan Saham dan Obligasi

Supaya makin jelas, berikut ini beberapa perbedaan utama antara saham dan obligasi dari berbagai aspek:

AspekSahamObligasi
DefinisiBukti kepemilikan atas suatu perusahaanSurat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah
Status InvestorPemilik perusahaan (shareholder)Pemberi pinjaman (kreditur)
KeuntunganDividen dan kenaikan harga saham (capital gain)Bunga (kupon) dan pengembalian pokok pada saat jatuh tempo
RisikoTinggi karena harga bisa naik atau turun setiap saatLebih rendah karena pendapatan bunga tetap dan terjadwal
Jangka WaktuTidak ada jatuh tempo dan bisa dijual kapan sajaAda masa jatuh tempo (biasanya 1–10 tahun)
Hak InvestorBisa ikut Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan punya hak suaraTidak punya hak suara, hanya berhak atas pembayaran bunga dan pokok
Sifat InvestasiGrowth-oriented (berorientasi pada pertumbuhan nilai)Income-oriented (berorientasi pada pendapatan tetap)
Potensi KeuntunganBisa sangat besar, tapi tidak pastiLebih stabil dan bisa diprediksi
LikuiditasLebih likuid karena bisa dijual di pasar saham kapan punKurang likuid karena penjualan sebelum jatuh tempo bisa rugi
Risiko Gagal BayarTergantung performa perusahaan dan kondisi pasarTergantung kemampuan penerbit membayar kupon dan pokok

Dari tabel ini bisa dilihat bahwa saham dan obligasi punya karakter yang sangat berbeda. Saham lebih cocok untuk kamu yang berani ambil risiko demi potensi keuntungan besar, sedangkan obligasi lebih cocok untuk kamu yang mencari pendapatan stabil dengan risiko lebih rendah.

Kelebihan dan Kekurangan Saham

Agar makin paham, yuk kita bahas sedikit tentang kelebihan dan kekurangan saham.

Kelebihan Saham:

1. Potensi keuntungan tinggi

Kalau kamu memilih saham perusahaan yang kinerjanya bagus, keuntungan dari kenaikan harga bisa sangat besar dalam jangka panjang.

2. Dividen rutin

Beberapa perusahaan membagikan dividen setiap tahun, jadi kamu bisa dapat “uang jajan” tambahan.

3. Likuiditas tinggi

Saham mudah dibeli dan dijual kapan saja lewat bursa efek.

4. Kepemilikan perusahaan

Kamu punya hak suara dalam RUPS dan bisa ikut menentukan arah perusahaan.

Kekurangan Saham:

1. Risiko tinggi

Harga saham bisa naik-turun setiap saat, tergantung kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan.

2. Butuh analisis dan waktu

Kamu perlu belajar membaca laporan keuangan, berita ekonomi, dan tren pasar agar bisa ambil keputusan tepat.

3. Tidak ada jaminan dividen

Jika perusahaan rugi, mereka bisa saja tidak membagikan dividen.

Kelebihan dan Kekurangan Obligasi

Nah, sekarang ketahui juga soal kelebihan dan kekurangan obligasi:

Kelebihan Obligasi:

1. Pendapatan tetap dan pasti

Kamu akan menerima bunga (kupon) dengan jumlah dan jadwal yang jelas.

2. Risiko lebih rendah

Nilainya relatif stabil dibanding saham, apalagi kalau diterbitkan oleh pemerintah.

3. Cocok untuk diversifikasi

Bisa jadi pelengkap investasi saham agar portofolio kamu lebih seimbang.

Kekurangan Obligasi:

1. Keuntungan terbatas

Karena bunga tetap, kamu tidak bisa menikmati kenaikan besar seperti saham.

2. Kurang likuid

Kalau kamu jual sebelum jatuh tempo, harga obligasi bisa turun dan menyebabkan kerugian.

3. Risiko gagal bayar

Kalau penerbitnya bangkrut atau bermasalah, kamu bisa kehilangan bunga bahkan pokok investasimu.
 

Saham vs Obligasi: Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya tergantung pada profil risiko dan tujuan keuangan kamu.

Kalau kamu tipe yang suka tantangan dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang, saham bisa jadi pilihan menarik. Tapi kalau kamu lebih suka stabilitas dan pendapatan pasti, obligasi bisa jadi pilihan yang aman dan nyaman.

Berikut panduan sederhananya:

Profil InvestorCocok denganAlasan
Konservatif (mengutamakan keamanan modal)ObligasiBunga tetap, risiko kecil, hasil stabil
Moderat (mau untung tapi tetap hati-hati)Kombinasi saham dan obligasiSeimbang antara risiko dan potensi keuntungan
Agresif (berani ambil risiko tinggi demi hasil besar)SahamPotensi return tinggi, cocok untuk jangka panjang

Kalau kamu baru mulai investasi, kamu bisa mencoba kombinasi saham dan obligasi. Misalnya 70% di saham dan 30% di obligasi, atau sebaliknya tergantung tingkat kenyamanan kamu terhadap risiko.

Banyak reksadana juga menawarkan kombinasi ini, seperti reksadana campuran atau reksadana pendapatan tetap, jadi kamu nggak perlu beli saham dan obligasi satu per satu.

Tips Memilih Instrumen Investasi

Agar investasi kamu lebih efektif, berikut beberapa tips sederhana:

1. Kenali tujuan investasi

Apakah kamu ingin menyiapkan dana pensiun, biaya pendidikan, atau sekadar menambah penghasilan bulanan? Tujuan akan menentukan pilihan instrumen.

2. Pelajari risiko dan return

Jangan cuma lihat keuntungannya, tapi pahami juga potensi ruginya.

3. Mulai dari nominal kecil

Banyak platform sekarang yang memungkinkan investasi saham atau obligasi mulai dari ratusan ribu rupiah.

4. Diversifikasi portofolio

Jangan taruh semua uang di satu jenis investasi. Campur saham, obligasi, dan instrumen lain agar lebih aman.

5. Pilih platform resmi

Pastikan kamu berinvestasi lewat lembaga yang terdaftar dan diawasi OJK, agar dana kamu aman.

Saham dan obligasi sama-sama penting dalam dunia investasi, tapi punya karakter yang sangat berbeda.

Kalau kamu masih pemula, tidak ada salahnya mulai dari obligasi karena lebih aman dan mudah dipahami. Setelah paham mekanismenya, kamu bisa mulai menambah portofolio dengan saham untuk hasil yang lebih optimal.

Intinya, tidak ada jawaban mutlak mana yang “lebih baik” karena yang paling penting adalah mana yang paling cocok untuk kamu dan tujuan finansialmu. Karena dalam dunia investasi, bukan siapa yang paling cepat kaya, tapi siapa yang paling konsisten dan bijak mengelola risikonya.

Nah, jika ingin mencoba mulai berinvestasi, bisa mencoba dengan deposito yang lebih aman dan minim risiko. Kamu bisa mempertimbangkan Deposito Reguler dari Bank Saqu yang memiliki bunga tinggi hingga mencapai 6% p.a.

Menariknya, kamu juga bisa menarik danamu kapan saja tanpa ada biaya tambahan. Jadi, kamu tak perlu khawatir jika tiba-tiba membutuhkan dana untuk keperluan sehari-hari.

Segera buka rekening Bank Saqu dengan download aplikasinya terlebih dahulu di Android dan iOS, ya!