Inspirasi Warga

Debt Service Ratio: Pengertian, Rumus, dan Contohnya

27 Okt 2026

thumbnail

Debt service ratio adalah rasio keuangan yang digunakan untuk membandingkan total cicilan utang bulanan dengan pendapatan bersih yang diterima dalam periode yang sama. Rasio ini membantu seseorang memahami seberapa besar penghasilannya digunakan untuk memenuhi kewajiban utang. Dalam pengajuan kredit, debt service ratio juga dapat menjadi salah satu pertimbangan lembaga keuangan untuk menilai kemampuan calon debitur dalam membayar cicilan.

Memahami rasio ini penting sebelum mengajukan pinjaman, baik untuk kebutuhan rumah tangga, pembelian kendaraan, maupun kebutuhan lainnya. Dengan mengetahui besarnya cicilan dibandingkan penghasilan, kamu bisa memperkirakan apakah kondisi keuangan masih cukup sehat untuk menanggung utang tambahan.

BACA JUGA: 13 Ide Usaha Tanpa Modal dan Tips Efektif untuk Memulainya

Apa Itu Debt Service Ratio dan Fungsinya?

Debt Service Ratio (DSR) merupakan indikator yang menunjukkan proporsi pendapatan bersih yang dialokasikan untuk membayar cicilan utang. Semakin tinggi nilainya, semakin besar bagian pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kewajiban tersebut.

DSR digunakan oleh bank dan lembaga pembiayaan sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi kemampuan membayar calon peminjam. Rasio ini dapat membantu mereka menilai apakah seseorang masih memiliki ruang keuangan untuk mengambil pinjaman baru setelah memperhitungkan kewajiban yang sudah berjalan.

Selain berguna dalam proses pengajuan kredit, DSR juga memiliki beberapa fungsi bagi pengelolaan keuangan pribadi, antara lain:

  • Mengukur beban utang: Membantu mengetahui proporsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan setiap bulan.
  • Menilai kemampuan mengambil pinjaman baru: Memberikan gambaran apakah penghasilan masih cukup untuk menanggung cicilan tambahan.
  • Membantu menyusun anggaran: Menjadi bahan pertimbangan saat membagi pendapatan untuk cicilan, kebutuhan pokok, tabungan, dan pengeluaran lainnya.
  • Mengidentifikasi risiko keuangan: Rasio yang tinggi dapat menjadi tanda bahwa anggaran semakin terbebani oleh kewajiban utang.

Meski begitu, DSR bukan satu-satunya faktor yang menentukan persetujuan kredit. Lembaga keuangan dapat mempertimbangkan riwayat kredit, kestabilan pendapatan, jenis pekerjaan, tenor, serta kebijakan internal masing-masing.

Rumus Debt Service Ratio dan Cara Menghitungnya

Untuk menghitung debt service ratio, kamu perlu mengetahui total cicilan utang bulanan dan pendapatan bersih bulanan. Pendapatan bersih adalah penghasilan yang benar-benar diterima setelah potongan yang relevan, misalnya pajak dan iuran tertentu pada penghasilan karyawan.

Berikut rumus debt service ratio:

DSR = (Total Cicilan Utang Bulanan ÷ Pendapatan Bersih Bulanan) × 100%

Komponen dalam rumus tersebut memiliki arti sebagai berikut.

1. Total cicilan utang bulanan

Komponen ini mencakup kewajiban pembayaran utang yang perlu dilunasi setiap bulan. Contohnya adalah cicilan KPR, kendaraan, pinjaman pribadi, dan kewajiban kredit lainnya. Jika sedang mempertimbangkan pinjaman baru, masukkan juga estimasi cicilan pinjaman tersebut untuk melihat perkiraan DSR setelah pengajuan.

Perhatikan pula bahwa metode penghitungan kewajiban dapat berbeda antar-lembaga keuangan. Karena itu, pastikan komponen yang dihitung sesuai dengan ketentuan pemberi pinjaman.

2. Pendapatan bersih bulanan

Pendapatan bersih merupakan penghasilan yang diterima setelah potongan. Bagi karyawan, angka ini dapat merujuk pada take-home pay. Bagi pekerja lepas atau pemilik usaha, perhitungan sebaiknya menggunakan estimasi pendapatan bersih yang realistis dan mempertimbangkan kestabilan pemasukan.

Setelah kedua komponen diketahui, bagi total cicilan bulanan dengan pendapatan bersih, kemudian kalikan hasilnya dengan 100% untuk mendapatkan nilai DSR.

Berapa Debt Service Ratio yang Ideal?

Tidak ada satu batas DSR yang berlaku mutlak untuk semua jenis pinjaman dan lembaga keuangan. Namun, persentase tertentu sering digunakan sebagai panduan awal untuk menilai seberapa besar beban cicilan terhadap pendapatan.

Rasio DSRGambaran kondisi
Di bawah 30%Beban cicilan relatif lebih ringan terhadap pendapatan
30%–35%Beban cicilan mulai mengambil porsi yang cukup berarti
Di atas 35% hingga 40%Ruang anggaran semakin terbatas
Di atas 40%Beban cicilan relatif tinggi dan perlu dievaluasi

Rentang tersebut merupakan panduan umum, bukan standar persetujuan kredit yang berlaku untuk seluruh bank. Batas yang digunakan dapat berbeda berdasarkan produk, profil peminjam, dan kebijakan masing-masing lembaga keuangan.

DSR yang rendah umumnya memberikan lebih banyak ruang bagi kebutuhan hidup dan pengeluaran tak terduga. Sebaliknya, DSR yang tinggi bisa membuat kondisi keuangan lebih rentan ketika pendapatan menurun atau muncul kebutuhan mendesak. Karena itu, jangan hanya mengejar batas maksimal yang mungkin diterima pemberi pinjaman. Pastikan cicilan tetap sesuai dengan kemampuan keuanganmu.

Contoh Perhitungan Debt Service Ratio

Agar lebih mudah dipahami, simak contoh berikut.

Andi memiliki pendapatan bersih sebesar Rp10.000.000 per bulan. Saat ini, ia membayar cicilan motor sebesar Rp1.500.000 dan tagihan kartu kredit dengan kewajiban pembayaran bulanan sebesar Rp1.500.000. Ia kemudian berencana mengajukan pinjaman baru dengan estimasi cicilan Rp1.000.000 per bulan.

Berikut perhitungannya:

  • Pendapatan bersih bulanan: Rp10.000.000
  • Cicilan motor: Rp1.500.000
  • Kewajiban kartu kredit: Rp1.500.000
  • Estimasi cicilan pinjaman baru: Rp1.000.000
  • Total cicilan setelah mengambil pinjaman baru: Rp4.000.000

Dengan menggunakan rumus DSR:

DSR = (Rp4.000.000 ÷ Rp10.000.000) × 100%

DSR = 40%

Artinya, sekitar 40% pendapatan bersih Andi akan digunakan untuk membayar cicilan jika pinjaman baru tersebut diambil. Sisa pendapatannya sebesar Rp6.000.000 perlu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tabungan, dana darurat, dan pengeluaran lainnya.

Rasio 40% menunjukkan bahwa beban cicilan Andi sudah cukup besar. Meski demikian, angka ini tidak otomatis berarti pengajuan pinjamannya akan ditolak. Keputusan tetap bergantung pada penilaian lembaga keuangan dan kondisi keuangan Andi secara keseluruhan.

Jika ingin mengurangi beban tersebut, Andi bisa mempertimbangkan pinjaman dengan cicilan lebih rendah, menunda pengajuan hingga kewajiban lain berkurang, atau mengevaluasi pengeluaran yang dapat disesuaikan.

Tips Menjaga Debt Service Ratio Tetap Terkendali

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga rasio cicilan agar tidak membebani keuangan.

  1. Hitung seluruh kewajiban sebelum berutang. Jangan hanya memperhitungkan cicilan pinjaman baru. Catat juga cicilan dan kewajiban kredit lain yang masih berjalan.
  2. Sesuaikan cicilan dengan kemampuan. Tentukan jumlah pembayaran yang masih memungkinkan kamu memenuhi kebutuhan pokok, menabung, dan menyiapkan dana darurat.
  3. Hindari mengambil pinjaman secara impulsif. Pastikan pinjaman memang diperlukan dan memiliki tujuan yang jelas. Pertimbangkan total biaya, bunga, biaya administrasi, serta konsekuensi jika terlambat membayar.
  4. Evaluasi anggaran secara berkala. Periksa kembali pendapatan dan pengeluaran setiap bulan, terutama ketika penghasilan berubah atau ada kewajiban baru.

BACA JUGA: Apa Itu HPP? Ini Fungsi Harga Pokok Penjualan dalam Usaha

Kelola Pinjaman dengan Lebih Bijak Bersama Saku Kredit

Sebelum mengajukan pinjaman, pastikan kamu sudah memahami kebutuhan dana dan kemampuan membayar cicilan. Menghitung debt service ratio dapat menjadi langkah awal untuk menilai apakah penghasilan masih cukup untuk menanggung kewajiban baru.

Bank Saqu memiliki produk Saku Kredit, pinjaman tunai dan Bayar Nanti dengan limit hingga Rp30 juta. Cocok buat kamu yang ingin mulai membangun skor kredit dengan limit yang sesuai kebutuhan.

Yuk, ajukan Saku Kredit di aplikasi Bank Saqu dan pertimbangkan kebutuhan pinjaman secara matang sebelum mengajukan. Dengan perencanaan yang baik, kamu bisa mengelola kewajiban kredit tanpa mengabaikan kebutuhan sehari-hari. Download Bank Saqu sekarang!

Simulasikan Pinjamanmu

Loading...
Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.