Pernah merasa bingung apakah kondisi keuanganmu sudah cukup sehat untuk mengajukan pinjaman? Atau mungkin kamu bertanya-tanya mengapa pengajuan kredit bisa ditolak meskipun penghasilan bulanan tergolong stabil? Salah satu faktor penting yang sering menjadi pertimbangan lembaga keuangan adalah debt to income ratio.
Debt to income ratio atau rasio utang terhadap pendapatan merupakan indikator yang menunjukkan seberapa besar porsi pendapatan bulanan yang digunakan untuk membayar kewajiban utang. Semakin sehat nilainya, semakin besar peluangmu memperoleh persetujuan pinjaman sekaligus menjaga kondisi keuangan tetap stabil.
BACA JUGA: Jangan Ambil Kredit Konsumtif Sebelum Baca Ini! Bikin Kantong Jebol atau Justru Untung?
Apa Itu Debt to Income Ratio?
Debt to income ratio adalah rasio yang membandingkan total cicilan utang bulanan dengan total pendapatan bulanan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang dalam memenuhi kewajiban utangnya.
Dalam dunia perbankan dan keuangan, debt to income ratio (DTI) menjadi salah satu indikator utama untuk menilai tingkat risiko calon peminjam. Melalui rasio ini, bank dapat mengetahui apakah seseorang masih memiliki kapasitas finansial yang cukup untuk menambah pinjaman baru.
Misalnya, jika setiap bulan kamu memperoleh penghasilan Rp10.000.000 dan total cicilan yang harus dibayar sebesar Rp3.000.000, maka debt to income ratio-mu adalah 30%.
Semakin rendah persentasenya, umumnya semakin baik kondisi keuanganmu karena masih tersedia ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun menghadapi kondisi darurat.
Mengapa Pengajuan Debt to Income Ratio Sangat Penting dalam Pengajuan Kredit?
Mengetahui debt to income ratio sangat krusial karena rasio ini merupakan indikator utama bagi analis bank untuk menilai kelayakan kreditmu.
DTI yang sehat menunjukkan stabilitas finansial yang kuat, sehingga memperbesar peluangmu mendapatkan persetujuan pinjaman baru dengan plafon maksimal dan bunga kompetitif. Berikut beberapa alasan mengapa rasio ini sangat penting.
- Menunjukkan Kesehatan Ruangan: DTI memberikan gambaran apakah penghasilanmu masih lebih layak dialokasikan untuk kebutuhan hidup dan tabungan, atau justru habis untuk membayar cicilan.
- Menjadi Pertimbangan saat Mengajukan Kredit: Lembaga keuangan umumnya akan mengevaluasi kemampuan pembayaran calon debitur. DTI yang terlalu tinggi dapat menunjukkan risiko gagal bayar yang lebih besar.
- Membantu Mengelola Keuangan Pribadi: Dengan mengetahui rasio utang, kamu bisa lebih mudah menentukan kapan waktu yang tepat untuk mengambil pinjaman baru atau justru fokus melunasi utang yang ada.
- Mengurangi Risiko Masalah Finansial: Ketika cicilan terlalu besar dibandingkan penghasilan, kondisi keuangan menjadi lebih rentan jika terjadi penurunan pendapatan atau pengeluaran tak terduga.
Cara Menghitung Debt to Income Ratio
Cara menghitung debt to income ratio sangatlah mudah, yaitu dengan membagi total cicilan utang bulanan dengan total pendapatan kotor bulananmu, lalu mengalikannya dengan 100. Rumus sederhana ini akan memberikan persentase pasti dari gajimu yang dialokasikan khusus untuk melunasi tagihan kredit.
Untuk mengetahui seberapa sehat keuanganmu saat ini, kamu tidak perlu menggunakan jasa konsultan keuangan. Kamu bisa menghitungnya sendiri dengan mencatat seluruh rincian arus kasmu. Berikut adalah komponen yang harus kamu siapkan.
- Total Utang Bulanan: Ini mencakup semua kewajiban pinjaman yang harus kamu bayar setiap bulan. Contohnya: Cicilan KPR, cicilan mobil/motor, tagihan minimum kartu kredit, cicilan paylater, cicilan pinjaman online, dan pinjaman tanpa agunan (KTA). Namun, untuk pengeluaran rutin, seperti tagihan listrik, air, asuransi, dan belanja bulanan, tidak dimasukkan ke dalam komponen ini.
- Total Pendapatan Kotor Bulanan:Ini adalah total seluruh penghasilanmu sebelum dipotong pajak penghasilan (PPh) dan iuran wajib lainnya seperti BPJS. Pendapatan ini bisa berasal dari gaji pokok, tunjangan tetap, hingga pendapatan pasif bulanan.
Misalnya, kamu memiliki gaji kotor sebesar Rp20.000.000 setiap bulannya dengan rincian kewajiban cicilan sebagai berikut:
- Cicilan KPR: Rp5.000.000
- Cicilan mobil: Rp2.000.000
- Tagihan kartu kredit: Rp1.000.000
Dengan rumus dasar (Total Uang Bulanan / Pendapatan Kotor Bulanan) x 100% = Debt to Income Ratio, maka perhitungannya adalah (Rp8.000.000 / Rp20.000.000) x 100% = 40%. Artinya, dalam kasus ini, nilai debt to income ratio kamu berada di angka 40%.
BACA JUGA: Apa Itu Restrukturisasi Kredit dan Bagaimana Cara Mengajukannya?
Berapa Angka Ideal untuk Debt to Income Ratio?
Sebenarnya, setiap bank dan lembaga keuangan memiliki kebijakan toleransi risiko yang berbeda. Namun, secara umum, angka ideal untuk DTI yang disarankan adalah sebagai berikut.
- 0%-30% (Sangat Baik): Kondisi ideal dan umumnya bank akan dengan sangat mudah menyetujui pengajuan kredit barumu.
- 31%-35% (Cukup Baik): Masih tergolong wajar, namun kamu harus mulai berhati-hati sebelum menambah utang baru. Pastikan sisa gajimu masih cukup untuk kebutuhan pokok.
- 36%-49% (Berisiko Tinggi): Kondisi lampu merah karena kamu akan kesulitan mengajukan KPR atau pinjaman besar. Segera hentikan kebiasaan berutang dan fokus lunasi cicilan terkecil.
- Lebih dari 50% (Sangat Buruk): Kamu sedang berada dalam krisis utang yang membuat gaji bulanan nyaris habis hanya untuk cicilan.
Tips Mengelola Debt to Income Ratio agar Tetap Sehat
Jika dari hasil perhitungan di atas nilai DTI-mu ternyata berada di zona bahaya, jangan panik. Hal tersebut masih bisa diperbaiki asalkan kamu memiliki kedisiplinan dan komitmen yang kuat.
Berikut adalah langkah-langkah strategis untuk menyehatkan kembali rasio utangmu.
- Hindari Mengambil Utang Baru Jika Belum Diperlukan: Sebelum mengajukan pinjaman tambahan, hitung kembali total cicilan bulanan agar tidak melebihi kemampuan finansial.
- Lunasi Utang Berbunga Tinggi Terlebih Dulu: Prioritaskan pembayaran utang dengan bunga paling besar, misalnya kartu kredit, agar total kewajiban dapat berkurang lebih cepat.
- Tingkatkan Pendapatan: Selain mengurangi beban utang, meningkatkan penghasilan juga dapat memperbaiki nilai DTI. Kamu bisa mempertimbangkan pekerjaan sampingan, freelance, atau sumber pendapatan tambahan lainnya.
- Buat Anggaran Bulanan: Pisahkan alokasi untuk kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan cicilan sehingga pengeluaran tetap terkendali.
- Hindari Penggunaan Limit Kredit Secara Berlebihan: Memanfaatkan seluruh limit kartu kredit atau layanan paylater dapat meningkatkan beban pembayaran bulanan.
- Evaluasi Kondisi Keuangan Secara Berkala: Hitung kembali debt to income ratio setiap beberapa bulan agar kamu mengetahui perkembangan kondisi finansial dan bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.
Apakah Debt to Income Ratio Menjadi Satu-satunya Penentu Persetujuan Kredit?
Tidak, debt to income ratio adalah salah satu indikator penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan persetujuan pinjaman. Lembaga keuangan biasanya juga mempertimbangkan beberapa aspek lain, seperti:
- Riwayat pembayaran kredit
- Skor kredit
- Stabilitas pekerjaan
- Besaran penghasilan
- Lama bekerja atau menjalankan usaha
- Kelengkapan dokumen
- Profil risiko secara keseluruhan
Oleh karena itu, memiliki DTI yang sehat memang dapat meningkatkan peluang memperoleh pinjaman, tetapi tetap perlu diimbangi dengan riwayat keuangan yang baik.
BACA JUGA: Apa Itu Bunga Efektif? Kenali Cara Kerjanya dalam Kredit
Penuhi Kebutuhan Mendesakmu dengan Bijak Bersama Saku Kredit dari Bank Saqu
Debt to income ratio merupakan indikator penting untuk mengukur kesehatan keuangan dan kemampuan seseorang dalam membayar kewajiban utang. Dengan memahami cara menghitung serta menjaga rasio ini tetap ideal, kamu bisa mengambil keputusan finansial yang lebih bijak sekaligus meningkatkan peluang memperoleh persetujuan pinjaman.
Sementara itu, saat membutuhkan dana tambahan, pastikan kamu memilih fasilitas pinjaman yang sesuai dengan kemampuan finansialmu. Saku Kredit dari Bank Saqu dapat menjadi solusi praktis untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan mendesak hingga rencana finansial yang sudah dipersiapkan.
Dengan Saku Kredit, kamu bisa mendapatkan limit pinjaman tunai mulai dari Rp500.000 hingga Rp30.000.000 yang dapat dicicil hingga 24 bulan, dengan bunga mulai dari 2%.
Prosesnya praktis melalui aplikasi sehingga kamu dapat mengakses fasilitas kredit dengan lebih mudah dan tetap mengelola pinjaman secara bertanggung jawab sesuai kondisi keuangan. Saku Kredit dari Bank Saqu siap jadi solusi untuk kebutuhan mendesakmu!






