Jadi Solopreneur

Apa Itu Expense Ratio dalam Reksa Dana? Ini Penjelasannya!

19 Okt 2026

thumbnail

Expense ratio adalah rasio yang membandingkan total biaya operasional pengelolaan reksa dana dengan rata-rata Nilai Aktiva Bersih (NAB) selama satu tahun. 

Angka tersebut dipotong dari aset reksa dana, sehingga imbal hasil yang kamu lihat di aplikasi investasi sudah bersih. 

Faktanya, banyak investor pemula tidak menyadari adanya ongkos pengelolaan dalam investasi. Biaya tersebut dipotong secara otomatis setiap tahun.

Artikel ini membahas komponen biaya expense ratio, cara menghitungnya, angka wajar, dan kaitannya dengan AUM (Asset Under Management).

BACA JUGA: Apa Itu Debt to Equity Ratio? Pahami Cara Membaca Rasio Utang

Pengertian Expense Ratio dalam Reksa Dana

Expense ratio sering disebut rasio beban biaya, yaitu perbandingan antara beban operasional reksa dana dalam satu tahun dengan rata-rata nilai aset bersih di tahun yang sama. 

Rumus ini sejalan dengan definisi "biaya operasi" di dalam Lampiran POJK Nomor 25/POJK.04/2020 tentang Pedoman Bentuk dan Isi Prospektus Reksa Dana, yang mendefinisikan biaya operasi sebagai perbandingan biaya operasi dalam satu tahun terhadap rata-rata NAB dalam satu tahun.

Manajer investasi menagih biaya tersebut sebagai imbalan atas jasa pengelolaan dana kamu. Jadi, karena pemotongannya dilakukan di level produk, kamu tidak perlu mentransfer biaya tambahan secara terpisah.

Kewenangan manajer investasi untuk mengelola portofolio efek nasabah ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Nilai rasio ini dinyatakan dalam persen. Sebagai contoh, apabila kamu menempatkan dana Rp10.000.000 di produk dengan expense ratio 0,5%, maka beban yang kamu tanggung setara Rp50.000 per tahun. 

Hasil investasi bersih yang kamu terima sudah memperhitungkan potongan tersebut.

1. Perbedaan dengan Biaya Pembelian dan Penjualan

Expense ratio hanya menghitung beban operasional pengelolaan dana. Biaya pembelian (subscription fee), biaya penjualan (redemption fee), dan biaya transaksi portofolio ketika manajer investasi membeli atau menjual efek berada di luar perhitungan tersebut. 

Jadi, total ongkos yang kamu tanggung bisa lebih besar daripada angka expense ratio yang tercantum di prospektus.

POJK Nomor 25/POJK.04/2020 memisahkan alokasi biaya menjadi empat kelompok, yaitu biaya yang menjadi beban manajer investasi, biaya yang menjadi beban reksa dana, biaya yang menjadi beban pemodal, dan biaya yang menjadi beban manajer investasi atau reksa dana. 

Pemisahan tersebut membuat biaya pembelian dan penjualan (beban pemodal) tidak masuk ke dalam expense ratio (beban reksa dana).

2. Perbedaan dengan Operating Expense Ratio

Secara umum, istilah operating expense ratio dipakai di sektor properti dan bisnis operasional. Tujuannya untuk membandingkan beban usaha dengan pendapatan. 

Keduanya memakai logika rasio yang mirip, sedangkan objek yang diukur berbeda. Dalam konteks reksa dana, istilah yang kamu pakai adalah expense ratio.

Komponen Biaya yang Masuk Perhitungan

Setelah kamu tahu definisinya, kamu perlu mengenali biaya apa saja yang menyusun angka tersebut agar paham ke mana dana operasional itu mengalir. Berikut komponen yang masuk dalam expense ratio.

1. Biaya Manajemen

Biaya manajemen adalah imbalan untuk manajer investasi atas pengelolaan portofolio. Besarannya bervariasi karena setiap perusahaan pengelola dana menetapkan kebijakan tarifnya sendiri. 

Komponen ini biasanya menjadi porsi terbesar dari keseluruhan beban.

2. Biaya Bank Kustodian

Bank kustodian menyimpan serta mengadministrasikan aset reksa dana secara terpisah dari aset manajer investasi. Karena fungsinya menjaga keamanan aset, biaya ini melekat di setiap produk reksa dana.

Pemisahan aset ini tidak sebatas praktik industri, melainkan kewajiban hukum di Pasal 25 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang mewajibkan seluruh kekayaan reksa dana disimpan di bank kustodian, dan ayat (2) melarang bank kustodian terafiliasi dengan manajer investasi yang mengelola reksa dana tersebut.

3. Biaya Administrasi

Biaya administrasi mencakup pencatatan transaksi, penyimpanan data nasabah, serta penyusunan laporan berkala untuk investor. Tanpa komponen ini, kegiatan operasional harian reksa dana tidak bisa berjalan.

4. Biaya Distribusi dan Pemasaran

Biaya distribusi dipakai untuk memasarkan produk reksa dana kepada calon investor melalui agen penjual. Di Amerika Serikat, komponen sejenis dikenal sebagai 12b-1 fee, yang diperkenalkan lewat Rule 12b-1 SEC pada tahun 1980. 

Batas maksimum 1% dari rata-rata aset bersih per tahun ini tidak ditetapkan oleh SEC, melainkan oleh FINRA Rule 2341, yang mengatur sales charges perusahaan efek penjual reksa dana di AS.

5. Biaya Lain-Lain

Kelompok terakhir meliputi beban audit, jasa penasihat hukum, serta pajak. Nilainya fluktuatif karena bergantung pada aktivitas dan jenis reksa dana yang dikelola.

Cara Menghitung Expense Ratio Reksa Dana

Rumusnya, yaitu total biaya operasional dibagi rata-rata NAB dalam satu tahun.

Expense Ratio = Total Biaya Operasional / Rata-rata NAB dalam Satu Tahun x 100%

Supaya lebih jelas, ikuti langkah berikut ketika kamu ingin menghitungnya sendiri.

  1. Buka laporan keuangan tahunan atau fund fact sheet produk reksa dana yang kamu pegang.
  2. Jumlahkan seluruh beban operasional, mulai dari biaya manajemen, kustodian, administrasi, audit, sampai pajak.
  3. Cari angka rata-rata NAB selama satu tahun di laporan yang sama.
  4. Bagi total beban operasional dengan rata-rata NAB tersebut.
  5. Kalikan hasilnya dengan 100% supaya angkanya tersaji dalam bentuk persentase.

Sebagai ilustrasi, anggap total biaya operasional sebuah reksa dana mencapai Rp8 miliar, sedangkan rata-rata NAB-nya Rp2 triliun. Hasil pembagiannya adalah 0,004 atau 0,4% setelah dikalikan 100%. Dengan demikian, sekitar 99,6% dana kelolaan tersisa untuk diputar ke dalam portofolio efek.

Fungsi Expense Ratio bagi Investor

Angka ini tidak hanya pelengkap dokumen produk, sebab kamu bisa memakainya untuk beberapa keperluan sebelum memutuskan pembelian. Berikut fungsinya.

1. Mengukur Potongan terhadap Imbal Hasil

Setiap persen beban memangkas hasil akhir investasimu. Apabila dua produk mencatat kinerja kotor yang setara, maka produk dengan expense ratio lebih rendah akan memberikan hasil bersih yang lebih besar untuk kamu.

2. Menilai Efisiensi Manajer Investasi

Rasio yang rendah menunjukkan manajer investasi mampu mengelola dana dengan ongkos operasional yang terkendali. Sebaliknya, rasio yang tinggi mengindikasikan beban pengelolaan menggerus porsi dana kelolaan.

3. Membandingkan Produk Sejenis

Kamu bisa menyandingkan beberapa reksa dana dalam kategori yang sama, misalnya sesama reksa dana pasar uang, lalu melihat selisih rasionya. Dengan perbandingan ini, kamu bisa memilih produk dengan struktur biaya yang paling masuk akal.

4. Melihat Transparansi Pengelola

Manajer investasi yang mencantumkan rincian biaya secara terbuka memudahkan kamu menelusuri ke mana dana operasional dipakai. 

Transparansi ini juga merupakan kewajiban di POJK Nomor 25/POJK.04/2020 Pasal 6 huruf i mewajibkan prospektus reksa dana memuat alokasi biaya secara lengkap, dan Pasal 4 menegaskan prospektus terbaru wajib disediakan untuk pemodal dalam pemasaran reksa dana. 

Keterbukaan semacam ini sangat penting sebelum kamu menitipkan dana dalam jangka panjang.

Berapa Expense Ratio yang Baik?

Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua produk, sebab besarannya tergantung jenis reksa dana dan strategi pengelolaannya. Secara umum, expense ratio di bawah 1% dinilai masih wajar.

Biasanya, reksa dana pasif yang mengikuti pergerakan indeks mencatat rasio paling rendah, karena manajer investasi tidak sering melakukan transaksi. 

Sebaliknya, reksa dana saham yang dikelola secara aktif cenderung memasang rasio lebih tinggi, karena strategi dan frekuensi transaksinya berbeda. 

Oleh karena itu, bandingkan angka tersebut dengan produk sejenis, bukan dengan kategori yang berbeda.

Apa Itu Total AUM dan Kaitannya dengan Expense Ratio?

Selain expense ratio, kamu akan sering menemui istilah AUM ketika membandingkan reksa dana, sehingga keduanya layak dipahami bersamaan.

1. Pengertian Total AUM

AUM atau Asset Under Management adalah total dana kelolaan yang dipegang oleh sebuah produk reksa dana. Angka ini mencerminkan seberapa besar kepercayaan investor terhadap produk tersebut. 

Selain itu, AUM yang besar mendukung likuiditas ketika banyak investor mencairkan dananya secara bersamaan.

2. Apakah Semakin Tinggi AUM Semakin Bagus?

AUM besar memberikan fleksibilitas bagi manajer investasi, terutama ketika ada penarikan dana dalam jumlah signifikan. 

Namun, ukuran dana kelolaan saja tidak menjamin kinerja produk selalu positif. Kamu tetap perlu melihat rekam jejak manajer investasi, konsistensi kinerja jangka panjang, serta expense ratio-nya.

3. Berapa Total AUM yang Bagus?

Tidak ada batas baku yang berlaku universal, karena standar kewajaran AUM berbeda antara reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, dan saham. 

Yang terpenting adalah membandingkan AUM produk dengan rata-rata produk sejenis, lalu memeriksa apakah dana kelolaannya stabil atau justru menyusut tajam dalam beberapa periode terakhir.

4. Hubungan AUM dengan Beban Biaya

Reksa dana dengan total dana kelolaan (AUM) yang besar bisa membagi biaya operasional ke banyak aset, sehingga persentase biaya keuntungannya menjadi lebih kecil. 

Walaupun begitu, kebijakan tarif setiap manajer investasi tetap menentukan angka akhirnya.

Cara Mengecek Expense Ratio Sebelum Membeli Reksa Dana

Kamu tidak perlu menghitung manual setiap kali ingin tahu angkanya, sebab informasi ini sudah tersedia di beberapa dokumen resmi. Gunakan langkah berikut ketika hendak memeriksanya.

  1. Buka prospektus produk reksa dana yang kamu incar, karena dokumen ini wajib mencantumkan rincian biaya (sesuai POJK Nomor 25/POJK.04/2020). Periksa fund fact sheet terbaru yang biasanya terbit setiap bulan.
  2. Buka halaman detail produk di aplikasi atau situs agen penjual reksa dana tempat kamu bertransaksi.
  3. Bandingkan angka tersebut dengan dua atau tiga produk lain dalam kategori yang sama.
  4. Cek ulang pembaruan prospektus secara berkala, sebab besaran biaya bisa berubah. Pasal 7 POJK Nomor 25/POJK.04/2020 bahkan mewajibkan reksa dana untuk menerbitkan pembaruan prospektus setiap ada perubahan informasi atau fakta material, termasuk perubahan biaya.

BACA JUGA: Debt to Income Ratio dalam Pinjaman: Begini Tips Mengelolanya

Pilihan Simpanan dengan Imbal Hasil yang Tetap

Reksa dana menawarkan potensi imbal hasil yang bergerak mengikuti pasar, sedangkan beban pengelolaannya memotong hasil akhir setiap tahun. 

Jika kamu menginginkan instrumen dengan perhitungan imbal hasil yang sudah ditentukan sejak awal, deposito bisa menjadi pelengkap portofoliomu.

Deposito Reguler dari Bank Saqu menawarkan bunga sampai 7% p.a. dengan penempatan mulai dari Rp1.000.000. Kamu bebas memilih jangka waktu 7 hari, 14 hari, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan. 

Selain itu, pencairan sebelum jatuh tempo tidak dikenakan penalti, sehingga pokok dana kamu kembali utuh walaupun bunga di periode tersebut tidak dibayarkan. 

Yuk, buka Deposito Reguler di aplikasi Bank Saqu dan atur jangka waktunya sesuai keinginanmu!

Referensi

  1. Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Diakses dari https://www.ojk.go.id/id/kanal/pasar-modal/regulasi/undang-undang/Documents/Pages/undang-undang-nomor-8-tahun-1995-tentang-pasar-modal/UU%20Nomor%208%20Tahun%201995%20(official).pdf
  2. Database Peraturan BPK. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 25/POJK.04/2020 tentang Pedoman Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penawaran Umum Reksa Dana. Diakses dari https://peraturan.bpk.go.id/Details/226711/peraturan-ojk-no-25pojk042020-tahun-2020
  3. Database Peraturan BPK. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 23/POJK.04/2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif. Diakses dari https://peraturan.bpk.go.id/Details/172807/peraturan-ojk-no-23pojk042016-tahun-2016
  4. Financial Industry Regulatory Authority (FINRA). FINRA Rule 2341 – Investment Company Securities. Diakses dari https://www.finra.org/rules-guidance/key-topics/mutual-funds
Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.