Saku 101

Apa Itu Debt to Equity Ratio? Pahami Cara Membaca Rasio Utang

01 Jul 2026

thumbnail

Debt to equity ratio adalah rasio keuangan yang membandingkan total utang perusahaan dengan ekuitasnya. Angka ini menunjukkan seberapa besar perusahaan bergantung pada utang untuk mendanai kegiatannya.

Debt to equity ratio bisa digunakan untuk menilai kesehatan keuangan sebuah perusahaan. Rasio ini juga sering dipakai investor sebelum menanam modal. 

Berikut ini pengertian debt to equity ratio, rumusnya, cara membaca hasilnya, dan kaitannya dengan pajak.

BACA JUGA: Jangan Tertipu Pinjol Bodong, Ini Cara dan Tips Aman Ajukan Pinjaman Online

Apa Itu Debt to Equity Ratio?

Debt to equity ratio adalah rasio utang terhadap ekuitas atau modal. Rasio ini membandingkan jumlah utang dengan modal yang dimiliki perusahaan. 

Fungsinya untuk memperlihatkan kemandirian keuangan perusahaan terhadap pinjaman. Nah, ada dua komponen yang perlu diketahui.

1. Utang atau Liabilitas

Utang adalah kewajiban yang harus dibayar perusahaan kepada pemberi pinjaman dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan masa pelunasannya, utang terbagi menjadi utang lancar, utang jangka panjang, dan utang lain-lain. 

Utang lancar biasanya berhubungan dengan kegiatan operasional, seperti utang ke pemasok atau gaji karyawan. Utang jangka panjang umumnya bernilai besar, contohnya pinjaman bank atau obligasi.

2. Ekuitas

Ekuitas adalah hak perusahaan atas asetnya setelah dikurangi seluruh kewajiban. Nilai ini berisi setoran modal dari pemilik dan sisa laba ditahan. 

Ekuitas menggambarkan kekayaan bersih yang benar-benar dimiliki perusahaan.

Rumus dan Cara Menghitung Debt to Equity Ratio

Rumus debt to equity ratio adalah total utang dibagi total ekuitas. Ini bisa ditulis dalam bentuk angka desimal atau persen.

Berikut ini langkah-langkah menghitungnya.

  • Kumpulkan total utang perusahaan dari laporan keuangan.
  • Catat total ekuitas dari laporan yang sama.
  • Bagi total utang dengan total ekuitas.
  • Bila ingin bentuk persen, kalikan hasilnya dengan 100%.

Misalnya, perusahaan X punya utang Rp5 miliar dan ekuitas Rp4 miliar. Maka, debt to equity ratio-nya adalah 5 dibagi 4, yaitu sekitar 1,25. 

Artinya, perusahaan memakai Rp1,25 utang untuk setiap Rp1 modal sendiri.

Cara Membaca Hasil Debt to Equity Ratio

Angka hasil perhitungan tadi belum berarti apa-apa tanpa kamu baca maknanya. Setiap rentang nilai menandakan kondisi keuangan yang berbeda. Berikut ini tiga rentang yang dipakai.

1. DER Sama dengan 1 atau 100%

Nilai 1 berarti jumlah utang sama besar dengan ekuitas. Kondisi keuangan perusahaan masih tergolong sehat di angka ini. Apabila perusahaan gagal bayar, ekuitasnya masih cukup untuk menutup utang.

2. DER di Atas 1 atau 100%

Nilai di atas 1 menandakan utang lebih besar daripada modal. Aman atau tidaknya tergantung sumber utang tersebut. Kondisi ini tergolong wajar jika sumbernya berupa utang usaha ke pemasok. Kamu perlu waspada apabila utang berasal dari bank atau obligasi.

3. DER di Atas 2 atau 200%

Nilai di atas 2 menunjukkan keuangan perusahaan rawan terhadap risiko. Artinya, beban utang sudah jauh melebihi modal yang dimiliki. Investor biasanya menilai kondisi ini berisiko tinggi.

Berapa Nilai Debt to Equity Ratio yang Baik?

Nilai DER yang baik tergantung jenis industri perusahaan. Secara umum, angka yang sehat berada di kisaran 1 sampai 1,5. Untuk saham, kamu bisa memakai DER sebagai acuan menilai beban utang emiten.

Beberapa industri memakai utang lebih banyak daripada industri lain. Di satu sisi, industri padat modal, seperti keuangan dan manufaktur, cenderung punya DER di atas 2. Angka itu masih wajar karena mereka butuh dana besar untuk aset jangka panjang. 

Untuk perusahaan yang sudah go public atau IPO (Initial Public Offering), DER 2 kali atau lebih masih bisa diterima. Sementara untuk usaha kecil dan menengah, angka setinggi itu kurang ideal.

Intinya, DER yang rendah berarti utang perusahaan kecil. Kondisi ini membuat perusahaan semakin mudah mendapatkan pendanaan baru. 

Namun, DER yang terlalu rendah bisa menandakan perusahaan kurang memakai peluang dari pinjaman.

Debt to Equity Ratio dan Pajak Penghasilan

Selain untuk menilai kesehatan keuangan, debt to equity ratio juga berkaitan dengan pajak. 

Pemerintah membatasi besarnya rasio utang terhadap modal untuk perhitungan pajak penghasilan. Aturan ini ada supaya perusahaan tidak menyamarkan modal sebagai utang demi memperkecil pajak.

Ketentuannya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.010/2015 Tahun 2015 tentang Penentuan Besarnya Perbandingan Antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Keperluan Penghitungan Pajak Penghasilan. 

Batas maksimal perbandingan utang dan modal adalah 4 banding 1. Artinya, utang perusahaan tidak boleh lebih dari empat kali ekuitasnya. Jika DER melebihi 4 banding 1, biaya pinjaman yang bisa jadi pengurang pajak akan dibatasi. Batasnya mengikuti rasio yang sama.

Aturan ini juga diperkuat lewat Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Lewat aturan itu, Ditjen Pajak berwenang menilai kembali struktur utang yang tidak wajar.

Ada beberapa wajib pajak yang dikecualikan dari aturan ini.

  • Bank
  • Lembaga pembiayaan
  • Asuransi dan reasuransi
  • Usaha pertambangan
  • Badan usaha di bidang infrastruktur

BACA JUGA: 7 Cara Melunasi Hutang yang Cepat dan Efektif, Biar Segera Lega!

Kelola Pinjaman Fleksibel dengan Limit sampai Rp30 juta dan Tenor Cicilan sampai 24 Bulan dari Bank Saqu!

Dengan memahami debt to equity ratio, kamu bisa mengatur pinjaman secara terukur, baik untuk bisnis maupun keperluan pribadi. 

Di samping itu, untuk mendapatkan alternatif dana tambahan yang fleksibel, kamu juga bisa memanfaatkan Saku Kredit dari Bank Saqu. 

Kamu bisa menarik pinjaman dengan limit awal mulai dari Rp500.000 sampai Rp30 juta dan dana langsung cair. Saku Kredit juga punya fitur cicilan QRIS sampai 24 bulan tanpa biaya tersembunyi. 

Semua rincian biayanya pun transparan, jadi kamu bisa mengatur cicilan dengan tenang. 

Yuk, download aplikasi Bank Saqu sekarang dan daftar Saku Kredit!