Hi Warga Bank Saqu,
Pernah nggak sih kamu kepikiran beli gadget baru padahal yang sekarang masih berfungsi dengan baik? Atau tiba-tiba pengin liburan ke luar negeri karena sudah lama nggak jalan-jalan?
Keinginan seperti itu sebenarnya wajar. Setelah kebutuhan sehari-hari terpenuhi, kita tentu ingin menikmati hasil kerja atau punya sesuatu yang membuat hidup terasa lebih nyaman.
Nah, dalam ilmu ekonomi, kebutuhan manusia berdasarkan tingkat kepentingannya umumnya dibagi menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan tersier biasanya berada di tingkat paling akhir karena berkaitan dengan barang atau jasa yang sifatnya lebih mewah atau bukan kebutuhan pokok.
Tapi, apakah semua barang mahal otomatis termasuk kebutuhan tersier? Belum tentu, lho. Kategorinya bisa berbeda tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing orang.
Yuk, kenali lebih jauh apa itu kebutuhan tersier, contoh, dan cara mengelolanya supaya tetap nyaman tanpa bikin keuangan berantakan.
Baca juga: Kebutuhan Finansial: Cara Mengatur Keuangan Secara Efektif
Kebutuhan Tersier Adalah Apa?
Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang biasanya dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Kebutuhan ini umumnya berkaitan dengan kenyamanan tambahan, gaya hidup, kemewahan, atau prestise.
Kalau kebutuhan primer berkaitan dengan hal-hal mendasar seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, kebutuhan tersier lebih kepada sesuatu yang sebenarnya masih bisa ditunda.
Contohnya, kamu sudah punya smartphone yang masih berfungsi dengan baik. Kemudian, kamu ingin menggantinya dengan smartphone flagship terbaru karena spesifikasinya lebih tinggi.
Kalau smartphone lama masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari, pembelian smartphone baru tersebut bisa dianggap sebagai kebutuhan tersier.
Tapi kalau kamu bekerja sebagai content creator dan smartphone dengan spesifikasi lebih tinggi memang dibutuhkan untuk pekerjaan, ceritanya bisa berbeda.
Di sinilah menariknya kebutuhan tersier: kategorinya nggak selalu sama untuk setiap orang.
Baca juga: Apa Itu Kebutuhan Sekunder? Ini Contoh dan Tips Mengelolanya
Apa Bedanya Kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier?
Supaya lebih gampang membedakannya, bayangkan kamu sedang mengatur isi rumah.
Kebutuhan primer adalah hal-hal yang memang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Setelah itu ada kebutuhan sekunder, yaitu hal-hal yang membantu membuat kehidupan menjadi lebih nyaman atau mendukung aktivitas. Contohnya bisa berupa perabot rumah tangga atau perangkat tertentu.
Sementara kebutuhan tersier lebih berkaitan dengan barang atau pengalaman yang sifatnya mewah atau memberikan kepuasan tambahan. Contohnya bisa berupa perhiasan mahal, mobil mewah, liburan ke luar negeri, atau makan di restoran mewah.
Tapi jangan menganggap pembagian ini sebagai aturan yang berlaku mutlak untuk semua orang.
Kondisi ekonomi, pekerjaan, tempat tinggal, lingkungan, hingga kebutuhan seseorang bisa mengubah kategori sebuah barang. DetikEdu juga mencontohkan bahwa kendaraan atau smartphone bisa memiliki kategori yang berbeda tergantung kondisi orang yang menggunakannya.
Baca juga: 5 Cara Mengatur Keuangan agar Tidak Boros dan Lebih Terencana
Contoh Kebutuhan Tersier dalam Kehidupan Sehari-hari
Kebutuhan tersier sebenarnya cukup mudah ditemukan di sekitar kita.
Misalnya perhiasan dengan harga tinggi. Perhiasan tentu bukan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi bisa dibeli sebagai bagian dari gaya hidup atau untuk menikmati hasil kerja.
Contoh lainnya adalah mobil mewah. Kalau seseorang sudah memiliki kendaraan yang cukup untuk menunjang aktivitas sehari-hari, membeli mobil dengan harga jauh lebih tinggi bisa menjadi pilihan lifestyle.
Begitu juga dengan liburan ke luar negeri. Jalan-jalan bukan kebutuhan pokok, tetapi bisa menjadi pengalaman yang ingin diwujudkan setelah kebutuhan utama dan kondisi keuangan sudah aman.
Barang fashion dengan harga premium, koleksi barang branded, gadget kelas atas, atau pengalaman makan di restoran mewah juga bisa termasuk kebutuhan tersier, tergantung kondisi dan tujuan pembeliannya.
Apakah Kebutuhan Tersier Itu Buruk?
Nggak juga.
Punya keinginan membeli barang yang lebih bagus, pergi liburan, atau menikmati sesuatu yang mahal sesekali bukan berarti kamu nggak bisa mengatur keuangan.
Masalahnya baru muncul kalau pengeluaran untuk kebutuhan tersier mulai mengganggu kebutuhan yang lebih penting.
Misalnya, kamu membeli gadget baru dengan cara mencicil, padahal uang untuk membayar tagihan bulanan saja masih pas-pasan.
Atau kamu memaksakan liburan karena ingin mengikuti tren, sementara dana darurat belum tersedia.
Kalau sudah seperti itu, yang perlu diperhatikan bukan barangnya, tapi waktu dan kemampuan finansial saat membelinya.
Baca juga: Apa Itu Uang Dingin? Begini Cara Mengelolanya dengan Bijak
Cara Menentukan Apakah Sesuatu Termasuk Kebutuhan Tersier
Coba tanyakan satu hal sederhana sebelum membeli, “Kalau nggak beli sekarang, apakah ada kebutuhan penting yang akan terganggu?”
Kalau jawabannya tidak, mungkin pembelian tersebut memang lebih dekat dengan keinginan atau kebutuhan tersier.
Misalnya kamu sudah punya sepatu yang masih layak digunakan, tetapi ingin membeli sneakers baru karena modelnya sedang tren. Nggak ada salahnya membeli kalau memang budget-nya tersedia.
Tapi kalau uang tersebut sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar kos, tagihan, atau kebutuhan sehari-hari, mungkin pembeliannya bisa ditunda dulu.
Cara seperti ini membuat kamu nggak harus menghindari semua pengeluaran yang menyenangkan. Kamu hanya perlu memastikan bahwa pengeluaran tersebut memang sesuai dengan kondisi keuangan.
Boleh Kok Menikmati Hasil Kerja
Ada kalanya kita terlalu fokus menghemat sampai merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu yang sebenarnya kita inginkan.
Padahal, mengatur keuangan bukan berarti seluruh uang harus disimpan.
Kalau kebutuhan utama sudah aman, punya dana cadangan, dan kondisi keuangan memungkinkan, menikmati hasil kerja juga nggak ada salahnya.
Kamu bisa menentukan sendiri kapan waktunya membeli barang yang diinginkan atau melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Yang penting, jangan sampai satu keputusan hari ini membuat kamu kesulitan memenuhi kebutuhan di kemudian hari.
Biar Pengeluaran Nggak Kebobolan, Pisahkan Uangnya
Salah satu cara sederhana untuk mengontrol pengeluaran adalah memisahkan uang berdasarkan penggunaannya.
Misalnya, uang untuk kebutuhan sehari-hari jangan dicampur dengan budget untuk nongkrong atau belanja.
Nah, Saku Transaksi dari Bank Saqu bisa membantu kamu melakukan hal tersebut.
Kamu bisa membuat beberapa Saku Transaksi untuk berbagai jenis pengeluaran. Setiap Saku juga bisa diberi nama dan ikon sesuai kebutuhan, sehingga kamu lebih mudah mengetahui uang tersebut akan digunakan untuk apa.
Misalnya, kamu bisa membuat Saku Transaksi khusus untuk kebutuhan bulanan dan Saku lainnya untuk pengeluaran lifestyle.
Saku Transaksi juga bisa dihubungkan ke Kartu Debit Bank Saqu dan digunakan sebagai sumber dana untuk pembayaran QRIS. Dengan begitu, uang untuk transaksi sehari-hari bisa lebih mudah dipisahkan dan dipantau.
Jadi, sebelum memutuskan membeli sesuatu yang sifatnya tersier, kamu bisa lebih dulu melihat apakah budget untuk pengeluaran tersebut memang masih tersedia.
Yuk, download Bank Saqu dan atur uangmu agar pengeluaran jadi lebih terkontrol dengan Saku Transaksi Bank Saqu!






