Inspirasi Warga

Apa Itu Volatile? Kenali Arti dan Penyebabnya

20 Okt 2026

thumbnail

Volatile adalah sifat harga suatu aset yang mudah berubah, baik naik atau turun, dalam waktu singkat. Kamu akan menemui istilah ini ketika membaca ulasan saham, kurs rupiah, atau harga emas. 

Dengan memahami arti volatile, kamu juga bisa menentukan uang mana yang boleh ditaruh di aset bergejolak dan uang mana yang sebaiknya disimpan di tempat bernilai tetap. 

Berikut definisi volatile, jenis, penyebab, serta cara mengelola dana ketika pasar sedang volatile.

BACA JUGA: Apa Itu Bunga Majemuk? Ini Arti dan Contoh Perhitungannya

Apa Itu Volatile?

Kata volatile digunakan dalam ilmu kimia dan keuangan. Keduanya punya gagasan yang sama, yaitu tentang sesuatu yang mudah berubah. Berikut penjelasan masing-masing.

1. Arti Volatile secara Harfiah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, volatil berarti mudah berubah menjadi gas atau uap. 

Istilah ini awalnya digunakan untuk zat cair, seperti alkohol atau bensin, yang cepat menguap apabila terkena udara terbuka. Karena sifatnya yang mudah berubah, kata "volatile" kemudian dipinjam ke bidang ekonomi.

2. Arti Volatile dalam Dunia Keuangan

Di pasar keuangan, volatile menggambarkan harga aset yang bergerak naik turun dengan rentang lebar selama periode tertentu. Ukuran dari pergerakan tersebut disebut volatilitas. 

Sebuah saham disebut volatile jika harganya bisa bergerak dari Rp1.100 ke Rp1.400, lalu turun lagi ke Rp1.000 hanya dalam hitungan hari.

Aset yang bersifat volatil memiliki dua sisi. Kamu berpeluang mendapat keuntungan besar ketika harga naik, sedangkan kerugianmu juga ikut membesar ketika harga berbalik arah.

Perbedaan Fluktuasi dan Volatilitas

Fluktuasi merujuk pada peristiwa harga yang bergerak naik dan turun. Volatilitas merujuk pada seberapa besar dan seberapa sering pergerakan itu terjadi.

Sebagai gambaran, saham A bergerak dari Rp2.000 ke Rp2.040 selama lima hari, sedangkan saham B bergerak dari Rp2.000 ke Rp2.800 di periode yang sama. Keduanya sama-sama berfluktuasi. Namun, volatilitas saham B jauh lebih tinggi karena rentang perubahan harganya lebih lebar.

Jenis-Jenis Volatilitas

Volatilitas diukur dari sudut pandang yang berbeda-beda, tergantung data dan tujuan analisisnya. Berikut jenis-jenisnya.

1. Volatilitas Historis

Volatilitas historis dihitung dari data harga yang sudah terjadi, misalnya harga penutupan selama 30 hari terakhir. Angkanya menunjukkan seberapa jauh harga pernah menyimpang dari rata-ratanya. 

Akan tetapi, hasil perhitungan ini tidak menjamin bahwa pola yang sama akan berulang pada periode berikutnya.

2. Volatilitas Tersirat

Volatilitas tersirat atau implied volatility adalah perkiraan pasar terhadap pergerakan harga di masa depan. 

Angkanya diturunkan dari harga opsi, sehingga banyak dipakai pelaku perdagangan derivatif. Apabila volatilitas tersirat naik, pelaku pasar sedang memperkirakan gejolak harga yang lebih besar ke depan.

3. Volatilitas Harga

Volatilitas harga menggambarkan besarnya perubahan harga satu aset atau komoditas dari hari ke hari. Makin lebar jarak antara harga tertinggi dan terendah, makin tinggi pula volatilitasnya. 

Harga minyak dan harga pangan termasuk contoh yang gampang bergerak tajam, karena dipengaruhi oleh cuaca dan pasokan.

4. Volatilitas Pasar

Volatilitas pasar terjadi ketika banyak aset dalam satu pasar bergerak bersamaan. Pemicunya bisa berupa rilis data ekonomi, perubahan kebijakan, atau konflik geopolitik. 

Di pasar global, kondisi semacam itu biasanya dipantau lewat indeks volatilitas seperti VIX.

Apa Penyebab Harga Menjadi Volatile?

Harga bergerak karena pelaku pasar terus menyesuaikan penilaian mereka setiap kali ada informasi baru. Sebagian pemicunya berasal dari dalam negeri, sebagian lagi dari luar negeri. 

Berikut penyebab yang biasanya muncul.

1. Data dan Kondisi Ekonomi

Rilis data inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan angka pengangguran menjadi acuan investor dalam menilai prospek suatu aset. 

Jika hasilnya meleset dari perkiraan, pelaku pasar menyesuaikan posisi mereka dengan cepat sehingga harga bergerak tajam dalam hitungan menit.

2. Kebijakan Pemerintah dan Suku Bunga

Perubahan pajak, aturan perdagangan, dan suku bunga acuan memengaruhi biaya dan laba perusahaan. 

Kenaikan suku bunga membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal, sehingga laba perusahaan tertekan dan harga sahamnya ikut turun.

3. Kinerja Perusahaan

Laporan keuangan, pergantian manajemen, atau peluncuran produk baru bisa mengubah penilaian investor terhadap sebuah emiten. 

Apabila laba yang dilaporkan jauh di bawah perkiraan, harga sahamnya bisa bereaksi langsung di hari yang sama.

4. Sentimen Pasar

Rasa takut dan optimisme kerap mendorong banyak investor untuk membeli atau menjual di waktu yang sama. 

Ketika emosi menguasai keputusan, harga bisa bergerak lebih jauh daripada yang didukung oleh kondisi perusahaannya.

5. Peristiwa Global

Konflik geopolitik, krisis keuangan, pandemi, dan bencana alam berdampak pada arus modal antarnegara. Akibatnya, kurs, harga komoditas, dan indeks saham di banyak negara bergerak bersamaan dalam waktu singkat.

Volatilitas Tinggi dan Volatilitas Rendah

Tingkat volatilitas menentukan seberapa besar nilai asetmu bisa bergeser dalam jangka pendek. Dengan mengenali keduanya, kamu akan mudah menakar risiko sebelum menempatkan dana. Berikut perbedaannya.

1. Ciri Volatilitas Tinggi

Harga bergerak cepat dengan rentang lebar, bahkan dalam hitungan jam. Saham lapis kedua, aset kripto, dan komoditas termasuk kelompok ini. 

Intinya, peluang untungnya besar, tapi nilai danamu juga bisa menyusut tajam sebelum kamu sempat bereaksi.

2. Ciri Volatilitas Rendah

Volatilitas rendah berarti harga bergerak dalam rentang yang sempit dan cenderung stabil dari waktu ke waktu. 

Obligasi pemerintah, reksa dana pasar uang, dan deposito berada di kelompok ini. Imbal hasilnya memang lebih terukur, tapi nilai pokoknya tidak ikut naik turun mengikuti pasar.

Seberapa Volatile Instrumen Keuangan yang Umum di Indonesia?

Setiap instrumen punya tingkat gejolak yang berbeda. Jadi, disarankan untuk memilihnya sesuai jangka waktu pemakaian dana. Berikut penjelasannya.

1. Saham

Harga saham ditentukan oleh transaksi jual beli yang terjadi selama jam perdagangan. Karena penawaran dan permintaannya terus berubah, nilai portofoliomu bisa berbeda cukup jauh dari hari ke hari. 

Instrumen ini ideal untuk tujuan keuangan dengan jangka waktu lebih dari lima tahun.

2. Emas

Harga emas ditentukan oleh harga global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kedua faktor itu bisa bergerak berlawanan arah di waktu yang sama. 

Jadi, harga emas dalam rupiah tidak selalu mengikuti tren harga dunia. Gejolaknya memang relatif kalem daripada saham. Namun, nilainya tetap bisa turun selama berbulan-bulan.

3. Reksa Dana

Volatilitas reksa dana bergantung komposisi portofolionya. Reksa dana saham bergerak hampir sama tajamnya dengan saham, sedangkan reksa dana pasar uang bergerak jauh lebih tenang, karena isinya berupa deposito dan surat utang berjangka pendek. 

Perlu kamu catat bahwa imbal hasil reksa dana tidak dijanjikan di awal dan tidak dijamin pemerintah.

4. Obligasi dan Surat Berharga Negara

Obligasi membayar kupon dengan besaran yang sudah ditetapkan, sehingga pendapatannya lebih mudah diprediksi. 

Namun, harga obligasi di pasar sekunder tetap bergerak mengikuti suku bunga acuan. Jika kamu menjualnya sebelum jatuh tempo saat suku bunga sedang naik, nilai jualnya bisa berada di bawah harga beli.

5. Deposito

Deposito adalah instrumen dengan volatilitas paling rendah di antara kelimanya, sebab bunganya ditetapkan sejak hari pertama penempatan dan tidak berubah sampai jatuh tempo. 

Nilai pokoknya tidak ikut bergerak ketika pasar saham turun atau kurs rupiah melemah. Oleh karena itu, deposito biasa dipakai sebagai tempat parkir dana yang nilainya harus utuh di tanggal tertentu.

Dana Apa Saja yang Sebaiknya Dijauhkan dari Aset Volatile?

Volatilitas menjadi masalah ketika uang yang kamu butuhkan ternyata sedang berada di posisi rugi. Semakin dekat tanggal pemakaian dana, semakin kecil ruang untuk menunggu harga pulih. 

Berikut tiga jenis dana yang sebaiknya kamu simpan di instrumen bernilai tetap.

1. Dana Darurat

Dana darurat dipakai ketika ada kejadian mendadak, seperti biaya rumah sakit, perbaikan kendaraan, atau kehilangan pekerjaan. Dana ini harus bisa dicairkan kapan saja dengan nilai yang utuh. 

Jika ditaruh di aset volatil, kamu berisiko mencairkannya tepat saat harga sedang jatuh.

2. Dana Tujuan di Bawah Tiga Tahun

Uang muka rumah, biaya pernikahan, biaya sekolah anak, dan rencana umrah termasuk kelompok ini. Tujuan semacam itu punya tanggal yang jelas, sehingga nilainya tidak boleh berkurang menjelang hari pemakaian. 

Semakin pendek jangka waktunya, semakin kecil pula porsi aset volatil yang pantas kamu pegang.

3. Modal Kerja dan Kebutuhan Rutin

Uang untuk belanja stok barang, membayar gaji karyawan, atau menutup cicilan bulanan harus tersedia di tanggal yang sudah pasti. Dana jenis ini sebaiknya kamu simpan di instrumen yang nilainya tidak bergerak sama sekali. 

Sebaliknya, hanya kelebihan dana di luar kebutuhan rutin yang bijak dialokasikan ke aset bergejolak (volatile).

Bagaimana Cara Mengecek Volatilitas Saham?

Jika kamu tetap ingin memegang sebagian dana di saham, tingkat gejolaknya bisa kamu ukur sebelum membeli. 

Volatilitas dihitung sendiri dari data harga, atau dibaca lewat indikator yang sudah tersedia di aplikasi sekuritas. Berikut tiga cara yang biasa digunakan.

1. Menghitung Standar Deviasi Harga

Standar deviasi menunjukkan seberapa jauh harga menyimpang dari rata-ratanya. Berikut langkah-langkahnya.

  • Kumpulkan harga penutupan saham selama periode tertentu, misalnya lima hari terakhir.
  • Hitung harga rata-rata dari seluruh data tersebut.
  • Kurangkan setiap harga penutupan dengan harga rata-ratanya.
  • Kuadratkan setiap hasil pengurangan, lalu jumlahkan semuanya.
  • Bagi hasil penjumlahan dengan jumlah data dikurangi satu untuk memperoleh varians.
  • Tarik akar kuadrat dari varians sehingga kamu mendapat angka standar deviasi.

Sebagai contoh, harga penutupan selama lima hari berturut-turut adalah Rp2.000, Rp2.100, Rp1.960, Rp2.200, dan Rp2.040.

Rata-ratanya Rp2.060 dan standar deviasinya sekitar Rp93,8. Angka tersebut menunjukkan bahwa harga penutupan saham memiliki variasi sekitar Rp93,8 dari rata-ratanya selama lima hari pengamatan.

2. Membaca Indikator Teknikal

Average True Range atau ATR mengukur rata-rata jarak antara harga tertinggi dan terendah dalam satu periode. Bollinger Bands memperlihatkan hal serupa lewat lebar pitanya. 

Pita yang melebar menandakan gejolak harga yang besar, sedangkan pita yang menyempit menandakan harga sedang tenang.

3. Melihat Nilai Beta

Beta membandingkan pergerakan satu saham dengan pergerakan pasar secara keseluruhan. Beta di atas satu berarti saham tersebut bergerak lebih tajam daripada indeks. Sementara, beta di bawah satu berarti gerakannya lebih kalem. 

Data beta biasanya tercantum di laman profil emiten di aplikasi sekuritas yang kamu pakai.

Cara Mengelola Dana ketika Pasar Sedang Volatile

Fluktuasi harga tentu tetap terjadi. Namun, dampaknya bisa dibatasi dengan menyesuaikan investasi dalam rencana keuanganmu. Berikut langkah-langkahnya.

  • Pisahkan dana berdasarkan tanggal pemakaiannya, lalu tempatkan uang jangka pendek di instrumen bernilai tetap.
  • Sebarkan dana ke beberapa instrumen agar penurunan satu aset tidak menyeret seluruh portofoliomu.
  • Siapkan dana darurat terpisah supaya kamu tidak perlu menjual aset saat harganya sedang turun.
  • Setor secara berkala dengan nominal tetap agar harga belimu merata dan kamu tidak perlu menebak waktu masuk terbaik.
  • Sesuaikan pilihan aset dengan toleransi risikomu. Jika penurunan 8% saja sudah membuatmu gelisah, pilih instrumen dengan volatilitas rendah.

BACA JUGA: Apa Itu Bunga Anuitas? Begini Cara Perhitungan dan Simulasinya

Simpan Dana yang Nilainya Harus Utuh di Deposito Reguler Bank Saqu!

Setelah memahami arti volatile beserta penyebabnya, langkah berikutnya adalah memindahkan uang jangka pendekmu ke tempat yang nilainya tidak ikut bergerak. 

Nah, Deposito Reguler dari Bank Saqu bisa memenuhi kebutuhan tersebut. 

Bunga Deposito Reguler dari Bank Saqu sudah ditetapkan sejak hari pertama penempatan dan tidak berubah sampai jatuh tempo.

Bunganya mencapai 7% p.a. dengan penempatan mulai dari Rp1.000.000, dan jangka waktu yang bisa kamu pilih mulai dari 7 hari, 14 hari, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, sampai 12 bulan. 

Dananya juga bisa dicairkan kapan saja tanpa denda atau penalti. Jadi, produk ini tetap layak dipakai untuk menyimpan dana darurat.

Bank Saqu berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, serta ikut dalam program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan. 

LPS menjamin simpanan sampai Rp2 miliar per nasabah per bank sepanjang bunga yang kamu terima tidak melampaui tingkat bunga penjaminan yang berlaku.

Yuk, buka Deposito Reguler sekarang di Aplikasi Bank Saqu!

Referensi

  1. Database Peraturan BPK. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 2004. https://peraturan.bpk.go.id/Details/40598/uu-no-24-tahun-2004
  2. Database Peraturan BPK. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai Simpanan yang Dijamin Lembaga Penjamin Simpanan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/4883/pp-no-66-tahun-2008
  3. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) – entri "volatil". https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/volatil
Bank Saqu

Bank Saqu

PT Bank Saqu Indonesia adalah layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab yang berperan sebagai katalisator bagi Solopreneur dan pelaku bisnis di Indonesia.